TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek meluncurkan terobosan unik yang menggabungkan pendidikan lingkungan, ekonomi sirkular, dan literasi digital. Melalui program “Sangu Sampah”, para pelajar kini bisa memperoleh uang saku hanya dengan memilah dan mengumpulkan sampah dari rumah maupun sekolah.
Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar pengelolaan sampah, tetapi strategi konkret menekan emisi karbon sekaligus menanamkan kesadaran lingkungan sejak usia dini. Sekolah pun langsung berperan sebagai garda terdepan menuju target Net Zero Carbon 2045.
“Emisi karbon Trenggalek masih surplus sekitar 115 ribu ton CO₂. Untuk menutupnya, opsinya menanam 130 hektare mangrove atau mengelola 80 persen sampah. Kami memilih jalan yang paling berdampak dan murah, yaitu lewat sekolah,” ujar Mas Ipin.
Dari Sampah Jadi Saldo Digital
Program “Sangu Sampah” mengajak siswa memilah sampah secara mandiri, lalu menyetorkannya ke sistem yang telah disiapkan pemerintah daerah. Setiap sampah yang disetor langsung dikonversi menjadi koin digital melalui aplikasi TGX Waste Coin.
Mas Ipin menjelaskan, sistem ini sekaligus mengenalkan literasi keuangan sejak dini.
Untuk jenjang SMA dan perguruan tinggi, setiap siswa memiliki akun dan rekening pribadi. Sementara SD dan pondok pesantren menggunakan sistem pooling account yang dikelola guru atau komite sekolah.
“Kami ingin anak-anak paham bahwa sampah punya nilai. Tapi nilainya akan maksimal kalau dipilah sejak awal. Di situ pendidikan karakter kami bangun,” tegasnya.
8 Jenis Sampah yang Bisa Jadi Uang Saku
Pemerintah daerah menyiapkan jaringan TPS 3R dan bank sampah sebagai mitra penjemputan. Ada delapan kategori sampah yang bisa menghasilkan saldo digital, antara lain:
- Plastik kemasan dan sachet
- Kertas dan logam
- Kaca dan kain
- Sampah elektronik
- Minyak jelantah
Setiap tiga bulan, sistem akan menghitung nilai ekonomi sampah yang terkumpul. Setelah dikurangi biaya operasional dan setoran Pendapatan Asli Daerah (PAD), pemerintah membagikan hasilnya kepada siswa sesuai jumlah koin yang mereka miliki.
Sekolah Jadi Laboratorium Ekonomi Sirkular
Mas Ipin menyebut sekolah sebagai laboratorium ekonomi sirkular paling ideal sebelum program ini diperluas ke masyarakat umum. Selain sampah anorganik, Pemkab Trenggalek juga menyiapkan pengolahan limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk diolah menjadi pupuk.
“Anak-anak tidak hanya belajar teori lingkungan, tapi langsung praktik dan merasakan manfaat ekonominya,” imbuhnya.
Pelajar Sambut Antusias
Program ini mendapat respons positif dari pelajar. Humairah Setya, siswi SMAN 2 Trenggalek, mengaku semakin termotivasi menjaga lingkungan karena ada manfaat nyata.
“Sekarang nabung bukan cuma uang, tapi juga sampah. Lingkungan jadi bersih, kami juga dapat uang saku,” ujarnya.
Saat ini, masyarakat bisa memantau dan mendaftar melalui laman tgxwastecoin.id. Aplikasi Android dijadwalkan rilis pada Januari mendatang, disusul versi iOS melalui akses web.
Melalui “Sangu Sampah”, Trenggalek membuktikan bahwa menjaga bumi tidak selalu mahal. Dengan kreativitas dan edukasi, sampah justru berubah menjadi peluang ekonomi bagi generasi muda.(CIA)
Views: 35
















