TRENGGALEK, bioztv.id – Kawasan Pantai Cengkrong kembali menarik perhatian setelah Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, turun langsung menanam mangrove. Ia menggelar kegiatan ini sebagai bagian dari program Wawasan Kebangsaan dan Bakti Masyarakat Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur. Di balik aksi simbolis tersebut, Khofifah menegaskan pesan besar: masyarakat harus menghentikan kebiasaan menjadikan pelestarian alam sekadar seremoni.
Gubernur Dorong Penanaman Mangrove sebagai Gerakan Nasional
Khofifah mengungkapkan bahwa ia hampir selalu merekomendasikan penanaman mangrove setiap kali menghadiri agenda di wilayah pesisir. Ia menilai pelestarian mangrove sebagai langkah konkret untuk menjaga keberlanjutan lingkungan.
“Setiap saya berada di titik-titik dekat pesisir, saya selalu meminta agar kita melakukan penanaman mangrove. Kita semua punya kewajiban menjaga keberseiringan antara daya dukung alam dan lingkungan,” ujar Khofifah.
Ia juga mengingatkan bahwa Indonesia telah menetapkan target besar menuju Net Zero Emission. Karena itu, ia mendorong masyarakat untuk memperluas dan mereplikasi gerakan-gerakan kecil seperti penanaman mangrove.
Pramuka Menjadi Garda Muda Lingkungan
Khofifah mengapresiasi peran Pramuka yang selalu hadir dalam berbagai kegiatan sosial, termasuk aksi pelestarian lingkungan.
“Di mana ada kegiatan sosial, selalu ada Pramuka. Mereka ikut menguatkan proses penanaman mangrove dan menjadi energi positif untuk gerakan ini,” tegasnya.
Untuk memperkuat kampanye lingkungan, Khofifah bahkan mendorong rencana penyelenggaraan Festival Mangrove pada akhir 2025. Ia menyebut Pemerintah Provinsi berencana menghadirkan Kaka Slank dan komunitasnya agar gerakan pelestarian ini semakin masif.
Arum Sabil: Cinta Alam Fondasi Wawasan Kebangsaan
Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, H.M. Arum Sabil, menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar aksi tanam pohon, tetapi bagian penting dari pendidikan kebangsaan generasi muda.
“Anak-anak Pramuka harus memahami bahwa Nusantara kita terdiri dari 17 ribu pulau, lebih dari 1.300 suku, dan 700 bahasa. Mereka inilah yang akan melanjutkan estafet kepemimpinan menuju Indonesia Emas 2045,” ungkap Arum Sabil.
Ia juga menjelaskan bahwa kecintaan terhadap alam dan sesama manusia menjadi fondasi karakter generasi penerus. “Mereka harus tumbuh dengan cinta alam, cinta sesama manusia, dan budi pekerti yang suci dalam perkataan,” tambahnya.
Agenda di Cengkrong ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, Pramuka, dan masyarakat dalam menjaga kawasan pesisir Trenggalek. Mangrove kini berfungsi sebagai benteng ekologis yang sangat penting, terutama menghadapi ancaman abrasi dan kenaikan muka air laut.
Melalui pendekatan wawasan kebangsaan, pemerintah berharap masyarakat memahami bahwa gerakan lingkungan bukan hanya agenda ekologis, tetapi juga tanggung jawab bersama dalam merawat tanah air. (CIA)
Views: 27

















