TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mengambil langkah berani mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Melalui program Sangu Sampah (Waste-to-Coin), siswa menghasilkan uang saku dengan menyetorkan sampah terpilah di sekolah. Program ini mendorong penguatan ekonomi sirkular dan menanamkan kepedulian lingkungan sejak usia dini.
Bupati Trenggalek Mochamad Nur Arifin menegaskan bahwa Pemkab Trenggalek menerbitkan Instruksi Bupati sebagai dasar resmi program yang masuk target besar Trenggalek Net Zero Carbon 2045.
“Sampah harus kita ubah menjadi ekonomi. PT JET mengelola value chain-nya, dan PT BPR Jwalita mendistribusikan nilai ekonominya. Jadi, semua siswa nanti memiliki rekening di BPR Jwalita,” ujar Bupati yang akrab disapa Mas Ipin, Rabu (3/12/2025).
Skema Uang Saku dari Sampah dan Manfaat Lokal
Dalam skema ini, siswa mengumpulkan dan memilah sampah menjadi delapan kategori—mulai botol plastik, logam, minyak jelantah, hingga sampah elektronik. Saat siswa menyetorkan sampah, sistem mengonversinya menjadi koin digital yang bisa siswa cairkan sebagai uang saku.
Mas Ipin menggarisbawahi bahwa ekonomi yang tercipta harus menguntungkan masyarakat lokal.
“Nilai ekonomi tidak boleh kita bawa keluar daerah. Setiap tiga bulan kami menggelar event untuk mengumumkan akumulasinya, dan dana itu bisa membantu beasiswa atau kebutuhan pendidikan lainnya,” jelasnya.
Pemanfaatan Maksimal: Sampah Organik hingga RDF
Trenggalek menargetkan tidak ada sampah yang terbuang percuma. Pengelola memproses sampah organik melalui Adipura RT menjadi pupuk, bahan urban farming, dan sumur biopori. Sementara sisa sampah yang sulit dimanfaatkan dialihkan ke TPA untuk menjadi RDF (Refuse Derived Fuel) sebagai potensi sumber pendapatan daerah.
“Jika masih ada general waste, kita menyiapkan proses RDF. Program ini tidak memakai APBD, tetapi menambah pemasukan daerah,” tegas Mas Ipin.
Mendidik Karakter dan Mengubah Pola Pikir
Mas Ipin menjelaskan bahwa pemerintah menyasar pelajar karena perubahan karakter harus dimulai sejak kecil.
“Kalau kita berbuat baik kepada bumi, bumi akan berbuat baik kepada kita. Sampah orang sering anggap tidak bernilai, sementara koin itu bernilai. Pendidikan ini menjadi bagian dari character building,” ungkapnya.
Ia juga menyampaikan bahwa berbagai bencana ekologis menjadi alarm keras untuk manusia agar berhenti merusak alam.
“Alam selalu mencari keseimbangannya. Kita merusaknya di kanan, ia bergerak ke kiri. Kalau kita merusak dua-duanya, dampaknya menyebar ke mana-mana,” pungkasnya.(CIA)
Views: 65

















