TRENGGALEK, bioztv.id – Pelaku UMKM dan pengusaha tambang memanfaatkan agenda Hari Fraksi ke-6 DPC PKB Trenggalek untuk menyampaikan berbagai persoalan yang mereka hadapi. Mereka mengeluhkan kelangkaan sayuran organik, keterbatasan modal usaha, hingga lambatnya proses perpanjangan izin tambang.
Melalui kegiatan bertajuk “Hari Jumat Rakyat Dekat Tanpa Sekat”, DPC PKB Trenggalek membuka ruang dialog langsung antara masyarakat dan wakil rakyat. Pelaku UMKM, pengusaha kopi, perajin mebel, pedagang makanan, hingga perwakilan paguyuban tambang hadir dan menyampaikan aspirasi mereka.
Ketua DPC PKB Trenggalek, Sukarodin, menegaskan bahwa partainya siap mengawal seluruh aspirasi tersebut bersama pemerintah daerah dan instansi terkait.
“Hari ini kami menerima banyak aspirasi dari masyarakat. Pelaku UMKM, penggiat produk organik, hingga perwakilan sektor pertambangan rakyat menyampaikan berbagai persoalan. Kami berkomitmen mengawal semua masukan ini dan mencarikan solusi yang konkret,” ujar Sukarodin usai memimpin forum, Jumat (5/6/2026).
UMKM Salad Organik Kesulitan Cari Pasokan
Pengelola UMKM salad organik Kadai Safira menjadi salah satu peserta yang menyampaikan keluhan. Mereka mengaku kesulitan mendapatkan pasokan sayuran organik segar dari petani lokal.
Menurut Sukarodin, kondisi tersebut cukup ironis karena permintaan pasar terhadap makanan sehat justru terus meningkat.
“Pelaku usaha salad organik mengeluhkan sulitnya memperoleh bahan baku utama. Kondisi ini justru membuka peluang besar bagi petani lokal untuk mengembangkan budidaya sayuran organik karena pasarnya sangat menjanjikan,” jelasnya.
Ia menilai para petani lokal dapat memanfaatkan peluang tersebut untuk mengisi kebutuhan pasar yang selama ini belum terpenuhi secara optimal.
Pengusaha Kopi Butuh Modal untuk Modernisasi Produksi
Pemilik usaha kopi lokal BrontoYudo juga menyampaikan kebutuhan tambahan modal usaha. Mereka berencana mengganti mesin penggiling berbahan bakar diesel dengan mesin listrik yang lebih efisien dan modern.
Namun, keterbatasan modal membuat rencana tersebut belum bisa terealisasi.
Menanggapi hal itu, Sukarodin langsung mempertemukan pelaku usaha dengan perwakilan Bank Trenggalek yang turut hadir dalam forum tersebut.
“Tadi pelaku usaha kopi menyampaikan kebutuhan modal untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pihak Bank Trenggalek langsung merespons dan mulai menjajaki peluang kerja sama pembiayaan,” katanya.
Menurutnya, akses permodalan menjadi faktor penting agar UMKM lokal mampu berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.
Penambang Keluhkan Perpanjangan Izin yang Lambat
Selain UMKM, perwakilan paguyuban tambang juga menyampaikan keluhan terkait proses perpanjangan Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang berjalan lambat.
Sukarodin menjelaskan bahwa proses tersebut tersendat karena pemerintah pusat belum menuntaskan pembahasan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Trenggalek.
“Paguyuban tambang mengeluhkan lambatnya proses perizinan. Salah satu penyebabnya karena dokumen RTRW Trenggalek masih berproses di Kementerian ATR/BPN,” ungkapnya.
Dalam forum tersebut, para pelaku usaha tambang batu, andesit, dan tanah liat meminta pemerintah tetap memberikan ruang bagi aktivitas pertambangan legal agar usaha mereka bisa terus berjalan.
Sukarodin menilai sektor pertambangan memiliki kontribusi penting karena menyerap tenaga kerja lokal dan berpotensi menambah PAD daerah.
“Kami akan meneruskan aspirasi ini kepada pimpinan DPRD agar menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Daerah juga membutuhkan PAD untuk mendukung pembangunan,” ujarnya.
Pedagang Jajanan Tradisional Tertekan Harga Bahan Baku
Para pelaku usaha jajanan tradisional juga mengeluhkan kenaikan harga bahan baku yang terus terjadi dalam beberapa waktu terakhir.
Mereka menghadapi situasi sulit karena biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya.
“Pelaku usaha jajanan pasar mengeluhkan harga bahan baku yang terus naik. Di sisi lain, konsumen tetap menginginkan harga murah dengan ukuran produk yang sama. Kondisi ini menjadi tantangan besar bagi pelaku usaha kecil,” kata Sukarodin.
Ia menilai kondisi tersebut dapat menggerus keuntungan UMKM bahkan mengancam keberlangsungan usaha mikro apabila tidak segera mendapatkan solusi.
Melalui program Hari Fraksi, DPC PKB Trenggalek berupaya menjaga komunikasi langsung antara masyarakat dan wakil rakyat. Partai tersebut ingin memastikan setiap aspirasi masyarakat dapat diterjemahkan menjadi kebijakan maupun program yang bermanfaat.
“Tujuan kami sederhana, yaitu memastikan aspirasi masyarakat benar-benar sampai ke meja pengambil kebijakan. Kami ingin PKB hadir dan memberikan solusi atas persoalan yang dihadapi warga Trenggalek,” pungkas Sukarodin.(CIA)
Views: 4

















