TRENGGALEK, bioztv.id – Kabar baik muncul dari dasar laut Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo, Kabupaten Trenggalek. Upaya pemulihan ekosistem laut di kawasan ini membuahkan hasil nyata. Kelompok masyarakat pengawas (Pokmaswas) berhasil membuktikan bahwa terumbu karang di Teluk Prigi kini tumbuh jauh lebih cepat dan memicu kembalinya ribuan biota laut ke habitat aslinya.
Masyarakat pesisir secara aktif menerapkan berbagai metode rehabilitasi inovatif, mulai dari penanaman terumbu karang dengan metode bioreeftek, pembangunan kebun bibit karang, hingga pengembangan Eco Fish House sebagai rumah buatan bagi ikan.
Disiplin Tinggi: Karang Mati Langsung Diganti
Ketua Pokmaswas Rembeng Raya, Kacuk Wibisono, menegaskan bahwa pengawasan ketat menjadi kunci keberhasilan konservasi ini. Tim Pokmaswas tidak membiarkan karang mati merusak koloni lain.
“Satu bulan setelah transplantasi, kami langsung melakukan evaluasi. Jika menemukan karang yang memutih atau mati, tim segera menggantinya dengan bibit baru,” jelas Kacuk.
Langkah cepat tersebut berhasil menekan potensi kerusakan lanjutan dan memastikan koloni karang baru tumbuh secara optimal.
Tumbuh 7 Sentimeter, Lampaui Rata-rata Nasional
Keberhasilan konservasi di Teluk Prigi mencatatkan angka pertumbuhan yang mencengangkan. Jika rata-rata pertumbuhan karang nasional hanya mencapai 3–4 sentimeter per tahun, terumbu karang di kawasan Pantai Mutiara Trenggalek tumbuh hingga 6–7 sentimeter per tahun.
Capaian ini menunjukkan pulihnya kualitas perairan Teluk Prigi. Pokmaswas menilai penggunaan metode bioreeftek dan kebun bibit karang menjadi faktor utama yang mempercepat regenerasi ekosistem pesisir.
Pemetaan Strategis di Tiga Titik Konservasi
Untuk memperkuat pengawasan dan pengelolaan, Pokmaswas membagi wilayah konservasi ke dalam tiga zona utama, yakni:
- Pantai Mutiara (200 x 600 meter)
Pokmaswas memusatkan pengembangan bioreeftek dan kebun bibit karang di kawasan ini.
- Pulau Rembeng (100 x 300 meter)
Tim fokus membangun terumbu karang buatan dan rumah ikan.
- Pantai Rasa
Pokmaswas menjadikan kawasan ini sebagai sentra pengembangan Eco Fish House.
“Di Pantai Mutiara kami mengelola dua bioreeftek berbentuk hati dan kebun bibit karang. Di Pulau Rembeng, kami memprioritaskan penyediaan rumah bagi ikan karang,” terang Kacuk.
Ikan Nemo dan Biota Langka Mulai Kembali
Pemulihan terumbu karang langsung menghidupkan kembali rantai makanan laut. Kehadiran plankton di sekitar area rehabilitasi menarik ikan-ikan kecil dan biota laut eksotis untuk kembali bermukim.
“Ikan Nemo atau ikan badut sekarang sudah banyak terlihat. Begitu juga ikan unduk walang atau ikan piso-piso yang mulai memenuhi kawasan konservasi,” kata Kacuk antusias.
Selain ikan hias, nelayan dan pengawas juga sering melihat kemunculan ikan bernilai ekologis dan ekonomis tinggi, seperti ikan lepu (lion fish), kerapu lumpur, kerapu macan, hingga ikan mata sebelah.
Investasi Jangka Panjang Masyarakat Pesisir
Kembalinya keanekaragaman biota laut menjadi harapan baru bagi warga pesisir Watulimo. Masyarakat memandang konservasi laut bukan sekadar upaya menjaga lingkungan, tetapi investasi jangka panjang bagi masa depan.
Dengan laut yang sehat, ekosistem akan terus memberi manfaat, menopang ekonomi nelayan, serta menjamin keberlanjutan penghidupan generasi mendatang di Trenggalek.(CIA)
Views: 33

















