Makan Bergizi Gratis di Trenggalek Lebih Hemat, Libatkan Kantin Sekolah & Tanpa Kotak Nasi

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Program makan bergizi gratis di Trenggalek terus dikembangkan dengan pendekatan unik yang lebih hemat dan melibatkan partisipasi masyarakat. Anak-anak tak lagi menggunakan kotak nasi, melainkan membawa piring sendiri. Produksi makanannya pun melibatkan kantin sekolah dan wali murid, sehingga lebih sesuai dengan selera anak-anak.

Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin atau yang akrab disapa Mas Ipin, berharap model ini bisa menjadi prototipe nasional dalam program makan bergizi gratis yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.

Efektif, Hemat, dan Memanfaatkan Potensi Lokal

Mas Ipin menegaskan bahwa pendekatan ini jauh lebih efisien dibanding model yang menggunakan katering besar atau wadah sekali pakai. Anak-anak membawa alat makan sendiri, dan yang memasak adalah kantin sekolah atau wali murid yang sudah tahu selera anak-anak. Proses pengambilan makannya juga dilakukan dengan sistem prasmanan.

“Anak anak mengambil nasi sendiri sesuai porsinya masing masing, selanjutnya mereka diberi lauk pauknya. Jadi tidak ada cerita makanan dingin atau antre panjang.,” ujarnya.

Program ini pertama kali diuji coba di SMP Negeri Satu Atap Kecamatan Suruh, kemudian diperluas ke SMP swasta. Hasilnya, anak-anak lebih menikmati makanan yang disajikan.

“Saya melihat mereka lebih lahap, lebih menikmati makanan. Ada nasi sebagai sumber karbohidrat, pisang untuk vitamin dan mineral, serta protein dari ayam dan tahu. Sayurnya pun bervariasi, ada sawi, buncis, dan lainnya,” tambah Mas Ipin.

Fokus pada Sekolah Pegunungan dan SLB

Untuk tahap awal, program ini diterapkan di sekolah-sekolah di daerah pegunungan. Karena biasanya kalau ada program seperti ini, yang pertama mendapatkan adalah sekolah-sekolah di kota, namun untuk MBG kali  ini tidak.

“Kami ingin mendahulukan anak-anak yang memiliki tantangan lebih besar dalam menempuh pendidikan, termasuk di daerah pegunungan yang aksesnya sulit,” jelasnya.

Ke depan, program ini akan diperluas ke Sekolah Luar Biasa (SLB) dan SMA di Trenggalek. Meskipun SMA berada di bawah kewenangan provinsi, Pemkab Trenggalek tetap berupaya agar skema ini bisa diterapkan di seluruh jenjang pendidikan.

Anak-anak Lebih Senang dan Lahap

Salah satu siswa SMP Negeri Satu Atap Suruh, Melvin, mengungkapkan kebahagiaannya dengan model makan bergizi gratis ini.

“Menunya enak, ada nugget, sop, dan tahu. Buahnya pisang. Kalau di rumah, saya biasanya cuma makan sayur daun ketela, tapi di sini menunya lebih lengkap dan enak. Saya senang sekali dan berharap ini terus berlanjut,” ujarnya.

Menurutnya, makan dengan piring sendiri jauh berbeda jika harus makan dengan kotak nasi sekali pakai. Jika mengunakan piring seperti ini jauh lebih nyaman dan enak.

“Rasanya seperti makan di rumah, jadi lebih lahap dan lebih enak,” pungkasnya.

Model yang Bisa Diterapkan Secara Nasional

Mas Ipin juga menyampaikan usulan kepada Presiden Prabowo agar program makan bergizi gratis bisa mengadopsi model seperti yang diterapkan di Trenggalek. Dengan berbagai keunggulan ini, program seperti ini bisa menjadi percontohan nasional yang lebih efisien, hemat anggaran, dan memberdayakan masyarakat lokal.

“Daripada membangun dapur besar yang hanya bisa melayani 3.000 porsi sehari, lebih baik memberdayakan kantin-kantin sekolah dengan pengawasan standar gizi dari Dinas Kesehatan. Selain lebih hemat, ini juga bisa menghidupkan ekonomi lokal,” katanya.

Selain itu, dengan sistem seperti ini bisa berhemat tidak perlu membuat dapur umum dengan anggaran besar. Yang diperlukan tinggal penguatan sumber daya manusia (SDM) kantin kantin sekolah. Dengan melibatkan langsung kantin dan wali murid, dampak ekonominya lebih luas.

“Harapannya kedepan tidak ada lagi cerita ibu kantin yang menangis karena omsetnya turun. Justru mereka bisa terlibat aktif, bahkan wali murid pun ikut serta,” pungkasnya.(CIA)

Views: 7