Santri Pondok Meninggal Akibat Usus Buntu, Kemenag Trenggalek Evaluasi Sistem Kesehatan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Polemik kematian seorang santri berinisial Z (13) dari salah satu pondok pesantren di Trenggalek memantik terus perhatian publik. Tim Kementerian Agama (Kemenag) Trenggalek telah lakukan verifikasi langsung di  pondok pesantren tersebuit.  Kasus ini pun membuka pertanyaan besar tentang kesiapan pesantren dalam menangani kesehatan santri.

Kemenag Turun ke Pesantren

Kemenag langsung menurunkan tim yang dipimpin Agus Prayitno dan Marjuni untuk memverifikasi kondisi di Pondok Pesantren Ar-Ridwan, Kelutan, Trenggalek. Kepala Kemenag Trenggalek, Nur Ibadi, menyebut timnya sudah melakukan validasi dan konsolidasi.

“Tim kami sudah melakukan validasi dan konsolidasi. Hasilnya, santri memang baru masuk sekitar satu bulan dan mengalami sakit berulang kali sebelum dibawa ke rumah sakit. Kami tentu sangat prihatin,” ujarnya, Selasa (9/9/2025).

Kronologi Sakit hingga Wafat

Berdasarkan verifikasi, Santri Z (13) mulai sakit sejak 29 Agustus 2025 dengan gejala buang air besar berkali-kali. Karena kondisinya memburuk, pihak pondok memindahkannya ke lantai dasar agar lebih mudah dirawat.

Pada 31 Agustus 2025, pihak pondok meminta orang tua Z, warga Desa Semurup, Kecamatan Bendungan, untuk menjemput anaknya untuk dibawa ke rumah sakit. Dokter kemudian menemukan usus buntu akut yang sudah menyebar. Setelah operasi pada 2 September, Z meninggal dunia sehari kemudian.

“Dalam pemeriksaan jenazah, tim medis tidak menemukan tanda kekerasan atau luka akibat penganiayaan. Penyebab kematian murni karena penyakit usus buntu akut,” jelas Sujiono, Humas RSUD dr. Soedomo.

Kemenag Minta Pesantren Perketat Standar Kesehatan

Nur Ibadi menegaskan kasus ini menjadi bahan evaluasi serius. Ia mengingatkan pentingnya keterbukaan orang tua soal riwayat kesehatan anak saat masuk pesantren. Ia juga mendorong pesantren mengimplementasikan aturan Perdirjen Pendis Nomor 4837 Tahun 2022 tentang pola hidup bersih dan sehat.

“Jangan sampai ada santri baru dengan penyakit bawaan berbahaya tidak diketahui pihak pesantren,” tegasnya.

Menurutnya, sebagian besar pesantren di Trenggalek sudah memiliki Poskestren (Pos Kesehatan Pesantren). Namun, ia menekankan perlunya koordinasi intensif dengan orang tua agar penanganan kesehatan lebih cepat dan tepat.

“Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama. Pesantren harus memperkuat tata kelola kesehatan, sementara orang tua wajib terbuka soal kondisi anak,” tandasnya.

Meski pondok sudah memberi pertolongan pertama lewat klinik internal, publik menilai fasilitas kesehatan pesantren masih terbatas. Kasus Z menjadi alarm bagi semua pihak bahwa sistem pengawasan kesehatan pesantren perlu ditingkatkan. Harapannya, kejadian serupa tidak terulang.(CIA)

Views: 85