TRENGGALEK, bioztv.id – Aksi damai di Trenggalek kembali mencuri perhatian publik, namun kali ini dengan cara yang kreatif dan unik. Bukan melalui demonstrasi jalanan seperti biasanya, warga memilih paralayang sebagai media untuk menyampaikan aspirasinya. Bendera raksana bertuliskan “Tolak Tambang Emas Trenggalek, Cabut IUP PT SMN” melayang tinggi di atas sasaran eksploitasi tambang emas.
Salah satu koordinator aksi, Jhe Mukti, menyampaikan, bahwa aksi ini sebagai simbol penolakan keras terhadap aktivitas industri tambang yang akan merusak lingkungan dan mengancam sumber mata pencaharian warga setempat, terutama di sektor pertanian. Paralayang dipilih untuk menonjolkan protes secara damai, namun tetap kuat dalam menyampaikan pesan.
“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa alam ini bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dilindungi demi generasi yang akan datang.” ujar Jhe.
Menurutnya, penolakan ini muncul sejak dikeluarkannya Izin Usaha Pertambangan (IUP) untuk PT. Sumber Mineral Nusantara pada 2019. Dengan konsesi tambang seluas 12.813 hektar yang mencakup sembilan kecamatan, termasuk Kampak, Watulimo, dan Dongko. Selain merusak hutan lindung dan kawasan karst, aktivitas tambang ini juga dinilai akan menghilangkan sumber air bersih dan merusak ekosistem lokal.
“Menolak tambang emas berarti mempertahankan hasil bumi kita, seperti durian, kelapa, kopi, dan kakao yang menjadi andalan Trenggalek,” tambah Jhe Mukti.
Trenggalek, yang sebagian besar wilayahnya terdiri dari pegunungan dan hutan, sangat bergantung pada kawasan perbukitan tersebut. Hal ini menjadikan dampak tambang sangat signifikan, tidak hanya terhadap lingkungan tetapi juga pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Sesuai data yang ada, lebih dari 114.000 warga bekerja di sektor pertanian yang rentan terkena imbas dari proyek tambang ini.
“Jika tambang ini dibiarkan, bukan hanya lingkungan yang rusak, tetapi juga hilangnya sumber penghidupan ribuan warga.” tegas Jhe.
Melalui aksi ini, warga Trenggalek yang peduli terhadap lingkungan hidup ingin mengirim pesan jelas kepada pemerintah, bahwa mereka akan terus bersatu melawan proyek tambang yang dinilai mengancam masa depan daerah mereka.
“Bukan hanya demi hari ini, tapi untuk memastikan bahwa generasi mendatang masih bisa menikmati lingkungan yang bersih dan sehat,” jelas Jhe Mukti.
Aksi kreatif ini mencerminkan semangat kolektif warga untuk menjaga bumi Menak Sopal, dan sekali lagi menunjukkan bahwa perlawanan terhadap tambang tidak harus selalu melalui demonstrasi konvensional.
“Kami tidak hanya bicara, kami bertindak dengan cara yang tidak biasa, dan kami berharap suara kami didengar,” pungkas Jhe Mukti.(CIA)
Views: 18

















