Gaungkan “Tambang Apapun Ra Ritek”, Warga Trenggalek Tanam Alpukat di Bekas Tambang Ngares

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idWarga Dukuh Sambi, Desa Ngares, Kecamatan Trenggalek, menolak berpangku tangan menghadapi ancaman longsor yang terus menghantui permukiman mereka. Dengan mengandalkan semangat swadaya, warga bersama aktivis lingkungan langsung menghijaukan kembali lahan bekas tambang galian C yang menganga di dekat rumah penduduk. Mereka menanam ratusan bibit pohon alpukat sebagai benteng alami penahan longsor.

Aksi ini muncul sebagai respons atas kondisi lahan yang semakin mengkhawatirkan. Selama bertahun-tahun, aktivitas penambangan mengikis struktur tanah hingga mendekati batas permukiman warga. Bahkan, warga menduga kuat aktivitas tambang tersebut telah melampaui titik koordinat izin yang berlaku.

Reklamasi Mandiri: Warga Menabung Keselamatan Lewat Pohon

Aktivis lingkungan yang mendampingi warga, Sumilih, menegaskan bahwa masyarakat menjalankan aksi ini sebagai bentuk reklamasi rakyat. Tanpa menunggu program resmi dari pihak mana pun, warga bergerak cepat menstabilkan lereng curam di sekitar permukiman.

“Kami menanam kembali pohon untuk mencegah longsor. Meski masyarakat melakukannya secara swadaya, secara fungsi ini sudah menjadi reklamasi lahan bekas tambang galian C,” ujar Sumilih, Rabu (7/1/2026).

Ia menjelaskan bahwa pengerukan tanah dan batu selama belasan tahun telah meninggalkan tebing-tebing curam yang sangat rawan ambrol, terutama saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Alpukat Jadi Jawaban Lingkungan dan Ekonomi

Warga secara sadar memilih alpukat sebagai tanaman utama penghijauan. Mereka mempertimbangkan kekuatan akar sekaligus potensi ekonomi jangka panjang.

“Kami menanam bibit alpukat setinggi 60 hingga 70 sentimeter. Akar pohon alpukat mampu mengikat tanah dengan kuat, sementara buahnya nanti dapat menambah penghasilan warga Dukuh Sambi,” jelas Sumilih.

Lahan bekas tambang yang kini mereka hijaukan membentang seluas kurang lebih 3,6 hektare. Selama hampir 15 tahun, perusahaan tambang beroperasi di kawasan tersebut. Warga baru berhasil menghentikan aktivitas tambang setelah mereka melayangkan protes secara masif.

Tegaskan Sikap Lewat Slogan “Tambang Apapun Ra Ritek”

Melalui gerakan tanam pohon ini, warga Dukuh Sambi juga menyampaikan sikap tegas terhadap industri ekstraktif yang mereka nilai merusak lingkungan. Aksi ini sekaligus sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Trenggalek menuju Net Zero Carbon.

Bagi warga Ngares, menanam pohon menjadi cara paling jujur untuk merawat alam sekaligus mengingatkan bahwa keselamatan manusia harus berada di atas kepentingan ekonomi tambang.

“Kami mencintai alam Trenggalek. Faktanya, model tambang apa pun—baik galian C maupun tambang emas—tetap merusak lingkungan. Itulah alasan kami menggaungkan semboyan tambang apapun ra ritek,” pungkas Sumilih. (CIA)

Views: 29