SD Inovatif Trenggalek Tolak MBG, Sita Jam Belajar dan Banyak Makanan Terbuang Jadi Alasan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idDi tengah ambisi pemerintah memperluas jangkauan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), SD Muhammadiyah 1 Trenggalek atau yang lebih dikenal sebagai SD Inovatif Trenggalek justru mengambil langkah berbeda. Sekolah ini resmi menghentikan keikutsertaannya dalam program nasional tersebut pada tahun ajaran 2026/2027.

Pihak sekolah menegaskan bahwa keputusan tersebut bukan bentuk penolakan terhadap pentingnya pemenuhan gizi anak. Sekolah mengambil kebijakan itu setelah mengevaluasi pelaksanaan Program MBG selama hampir 10 bulan sejak November 2025.

Hasil evaluasi menunjukkan sejumlah persoalan yang belum teratasi, mulai dari berkurangnya jam belajar hingga banyaknya makanan yang terbuang setiap hari.

Kepala SD Inovatif Trenggalek, Ikhsan Nur Wahyudi, mengatakan seluruh guru dan pengurus sekolah menyepakati keputusan tersebut dalam rapat kerja.

“Untuk tahun ajaran baru ini, SD Muhammadiyah resmi memutuskan tidak lagi mengikuti program MBG. Kami mengambil keputusan ini dalam rapat kerja internal hari Selasa kemarin,” ujar Ikhsan Nur Wahyudi, Sabtu (11/7/2026).

Distribusi MBG Kurangi Jam Belajar

Ikhsan menyebut efektivitas kegiatan belajar mengajar menjadi pertimbangan utama sekolah.

Menurutnya, proses membagikan makanan kepada ratusan siswa membutuhkan waktu cukup lama. Setiap hari, guru dan petugas harus mengalokasikan sekitar 30 menit untuk mendistribusikan makanan sehingga waktu belajar siswa berkurang.

“Alasan yang paling krusial bagi kami adalah masalah waktu. Distribusi makanan MBG di lingkungan sekolah minimal membutuhkan waktu hingga 30 menit. Bagi kami, durasi itu sangat berharga karena mengurangi jatah efektif anak-anak belajar di dalam kelas,” katanya.

Sekolah Soroti Banyaknya Makanan Terbuang

Selain mengurangi jam pelajaran, sekolah juga menyoroti tingginya jumlah makanan yang tidak habis dikonsumsi siswa.

Para guru hampir setiap hari menemukan banyak kotak makan yang masih menyisakan makanan. Kondisi tersebut menimbulkan keprihatinan karena bertentangan dengan nilai karakter yang selama ini sekolah tanamkan kepada peserta didik.

“Sisa makanannya terlalu banyak yang terbuang. Sayang sekali, sangat mubazir. Padahal dalam ajaran Islam, kita tahu bersama bahwa perilaku mubazir itu tidak diperbolehkan dan harus kita hindari,” tegas Ikhsan.

Sekolah Nilai Daerah Lain Lebih Membutuhkan

Pertimbangan sosial juga mendorong sekolah menghentikan keikutsertaan dalam Program MBG.

Ikhsan menilai sebagian besar orang tua siswa memiliki kondisi ekonomi yang relatif mandiri. Karena itu, ia berharap pemerintah mengalihkan manfaat program tersebut kepada sekolah-sekolah yang siswanya lebih membutuhkan bantuan pangan bergizi.

“Kami merasa anak-anak di tempat lain masih ada yang jauh lebih membutuhkan bantuan makanan bergizi ini daripada siswa-siswi di SD Muhammadiyah,” ujarnya.

Sekolah Kembali Jalankan Program Makan Siang Mandiri

Meski keluar dari Program MBG, SD Inovatif memastikan seluruh siswa tetap mendapatkan fasilitas makan siang di sekolah.

Sekolah memilih kembali menjalankan program katering mandiri yang sudah berlangsung jauh sebelum pemerintah meluncurkan MBG. Manajemen menilai program tersebut lebih fleksibel karena dapat menyesuaikan menu dengan kebutuhan dan selera siswa. Sekolah juga menyampaikan daftar menu kepada orang tua setiap bulan.

“Program makan siang mandiri ini sudah ada sejak pertama kali sekolah ini berdiri. Sayang jika kami hapus begitu saja. Apalagi, mayoritas wali murid juga mendesak agar program internal ini tetap berjalan,” kata Ikhsan.

Sistem Mandiri Dinilai Lebih Efektif

Sekolah juga menilai sistem makan mandiri jauh lebih fleksibel dibandingkan mekanisme MBG.

Pihak sekolah bekerja sama dengan dapur mitra untuk menyiapkan makanan, kemudian menyajikannya dalam wadah besar di sekolah. Siswa mengambil nasi sesuai kebutuhan dan dapat menambah porsi apabila masih lapar.

“Kalau ada menu yang kurang cocok atau kualitasnya menurun, kami bisa langsung menegur pihak dapur,” ungkap Ikhsan.

Sekolah juga menyediakan lauk alternatif seperti telur, tahu, atau tempe ketika siswa kurang menyukai menu utama. Sistem tersebut berhasil menekan pemborosan makanan sekaligus memberi keleluasaan kepada siswa memilih porsi makan.

Di sisi lain, guru dapat langsung mengevaluasi kualitas makanan bersama dapur mitra apabila menemukan menu yang kurang sesuai.

“Kami juga bisa mengatur sendiri variasi menunya agar anak-anak tidak bosan. Sementara di program MBG, kami tidak punya kuasa menentukan menu karena semua sudah terkunci mengikuti juknis yang ada,” pungkas Ikhsan.(CIA)

Views: 32