TRENGGALEK, bioztv.id – Masyarakat selama ini mengenal Prasasti Kamulan sebagai batu bersejarah yang menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Trenggalek. Namun, banyak orang masih memandang benda purbakala itu sebatas artefak tanpa memahami kisah besar yang tersimpan di balik pahatan aksaranya.
Kondisi itulah yang mendorong lahirnya film dokumenter “Prasasti Kamulan Dalam Ingatan Kolektif: Visualisasi dan Diskursus Identitas Trenggalek”. Tim produksi tidak hanya membuat film tersebut, tetapi juga menggelar diskusi diseminasi bersama arkeolog kondang, Mudzakir Dwi Cahyono, untuk mengenalkan sejarah lokal melalui kemasan audiovisual yang lebih menarik dan mudah dipahami masyarakat.
Produser film, Yanu Andi Prasetyo, mengaku ide pembuatan dokumenter itu muncul ketika ia sering melihat Prasasti Kamulan di kawasan Pendopo Manggala Praja Nugraha Trenggalek.
Awalnya, Yanu menganggap prasasti tersebut hanya sebagai sebongkah batu biasa. Namun, setelah menelusuri berbagai referensi sejarah, ia justru menemukan nilai sejarah yang sangat penting bagi identitas Kabupaten Trenggalek.
“Saya sering melihat Prasasti Kamulan di pendopo. Awalnya saya membatin, apakah benda ini hanya seonggok batu biasa? Setelah saya telusuri, ternyata batu ini menyimpan sejarah yang sangat menarik, bahkan menjadi legitimasi kuat dalam menentukan hari jadi Kabupaten Trenggalek,” ujar Yanu.
Menurut Yanu, pemerintah daerah maupun kalangan budayawan tidak bisa lagi hanya mengandalkan keberadaan prasasti untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda. Generasi milenial dan Gen Z membutuhkan media yang lebih interaktif agar lebih mudah memahami pesan moral di balik peninggalan sejarah.
Karena itu, Yanu memilih film dokumenter sebagai media untuk menerjemahkan isi prasasti kuno tersebut menjadi kisah yang lebih hidup.
“Lewat media audiovisual, masyarakat tidak perlu datang hanya untuk melihat batunya. Kami bisa mengenalkan nilai-nilai luhur Prasasti Kamulan melalui film, animasi, maupun media kreatif lainnya,” tuturnya.
Tim Produksi Fokus pada Riset Mendalam
Yanu mengungkapkan tim produksi justru menghabiskan sebagian besar waktu untuk melakukan riset daripada mengambil gambar.
Tim menggandeng sejarawan, budayawan, arkeolog, hingga masyarakat sekitar agar seluruh informasi dalam film memiliki landasan akademis yang kuat. Menurut Yanu, tim tidak boleh menyusun film sejarah secara tergesa-gesa karena setiap adegan harus dapat dipertanggungjawabkan.
“Membuat film dokumenter sejarah itu sangat riskan kalau kita mengerjakannya dengan tergesa-gesa. Selama menyusun naskah, kami terus berkonsultasi dengan para ahli sejarah agar informasi yang kami sampaikan benar-benar valid,” jelasnya.
Sebaliknya, tim hanya membutuhkan waktu sekitar satu pekan untuk menyelesaikan proses pengambilan gambar. Meski singkat, mereka justru menemukan sejumlah fakta baru di lapangan yang kemudian memperkaya alur cerita dokumenter tersebut.
Tim Hadirkan Mitos sebagai Bagian dari Budaya
Dalam dokumenter ini, tim produksi juga memasukkan berbagai cerita rakyat dan kepercayaan masyarakat yang berkembang di kawasan Kamulan.
Namun, Yanu menegaskan tim tidak menyajikan cerita-cerita tersebut sebagai fakta sejarah. Mereka hanya menempatkannya sebagai bagian dari memori kolektif masyarakat yang turut membentuk identitas budaya kawasan Kamulan.
“Kami sengaja menampilkan cerita-cerita masyarakat, termasuk sisi mistis atau mitos lokal, sebagai potret cara warga setempat menjaga wilayah dan warisan leluhurnya. Ini justru menjadi nilai budaya yang sangat otentik,” ujar Yanu.
Bidik Sekolah sebagai Media Edukasi
Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Jawa Timur mendukung penuh proses produksi film ini. Lembaga tersebut mendanai riset, memfasilitasi produksi, sekaligus menggelar forum diseminasi.
Saat ini, tim produksi bersama Balai Pelestarian Kebudayaan sedang menyusun mekanisme distribusi film. Mereka berharap sekolah-sekolah dan berbagai lembaga pendidikan dapat memanfaatkan dokumenter tersebut sebagai media pembelajaran sejarah sekaligus sarana mengenalkan pentingnya pelestarian cagar budaya.
“Harapan besar kami, semua kalangan bisa menonton film ini secara luas sehingga dokumenter ini menjadi media pendidikan yang efektif untuk memperkenalkan kekayaan cagar budaya kepada masyarakat,” pungkas Yanu.(CIA)
Views: 9

















