TRENGGALEK, bioztv.id — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Trenggalek dipastikan kembali bergulir seiring dimulainya kegiatan belajar mengajar (KBM) tahun ajaran 2026/2027. Meski demikian, otoritas terkait belum mengizinkan seluruh dapur penyedia makanan untuk langsung beroperasi.
Koordinator Wilayah Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Trenggalek, Sheila Ammanda Yadu Fadilla, menjelaskan bahwa pihaknya masih menghentikan sementara operasional sejumlah dapur. SPPI mengambil langkah tersebut agar pengelola dapur menyelesaikan seluruh pembenahan sesuai standar ketat Badan Gizi Nasional (BGN).
Hingga saat ini, sebanyak 19 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Trenggalek telah mengantongi Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) sebagai syarat utama menjalankan operasional dapur.
“Saat ini 19 SPPG di Trenggalek sudah resmi memegang Sertifikat Laik Higiene Sanitasi,” ungkap Sheila Ammanda.
SPPG Karangsoko 1 Siap Mulai Operasi
Salah satu dapur yang dipastikan siap kembali beroperasi adalah SPPG Karangsoko 1.
Kepala SPPG Karangsoko 1, Muhammad Afrizal Dwi Prabowo, mengatakan seluruh persiapan operasional telah mencapai lebih dari 90 persen. Saat ini pihaknya hanya menunggu validasi jumlah peserta didik baru dari sekolah agar distribusi makanan tepat sasaran.
“Progres dapur kami sudah lebih dari 90 persen. Tinggal menunggu validasi data peserta didik baru dari sekolah,” ujar Afrizal.
Jika tidak ada perubahan jadwal dari Badan Gizi Nasional, dapur tersebut akan mulai memasak dan mendistribusikan makanan pada hari pertama sekolah.
“Insyaallah kalau sesuai jadwal, Senin sudah mulai running,” katanya.
Layani 2.600 Penerima Manfaat
SPPG Karangsoko 1 saat ini masih melayani sekitar 2.600 penerima manfaat.
Sebanyak 2.300 orang merupakan peserta didik dari berbagai jenjang pendidikan, sedangkan sekitar 300 penerima berasal dari kelompok 3B, yakni ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
“Untuk sementara penerima manfaat masih sekitar 2.600 orang. Kelompok 3B sekitar 300 orang, sisanya peserta didik,” terang Afrizal.
Ia menambahkan, hingga kini layanan MBG di dapurnya masih mencakup seluruh jenjang pendidikan, mulai dari PAUD, TK, SD, SMP hingga SMA.
“Untuk sementara kami tetap melayani mulai PAUD, TK sampai SMA sesuai arahan yang berjalan saat ini,” ujarnya.
SPPI Jatuhkan Sanksi Suspend demi Keamanan Pangan
Sheila mengakui bahwa SPPI sengaja menunda operasional beberapa dapur penyedia MBG.
SPPI menjadikan status suspend sebagai bagian dari mekanisme evaluasi berkala. Melalui langkah tersebut, SPPI mendorong seluruh pengelola dapur memenuhi standar higienitas, keamanan pangan, dan mutu layanan sebelum kembali mendistribusikan makanan kepada siswa.
“Beberapa dapur memang masih kami suspend agar mereka fokus berbenah memenuhi standar operasional,” katanya.
Sasaran Program Tetap Sama
Di tengah proses evaluasi dapur mitra, SPPI memastikan sasaran penerima manfaat MBG tidak berubah.
Pemerintah tetap memprioritaskan peserta didik di sekolah serta kelompok rentan 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.
Sementara itu, SPPI masih mendata sekolah maupun penerima manfaat yang memilih mengundurkan diri dari Program MBG pada tahun ajaran baru.
“Kami sedang memetakan kondisi di lapangan untuk menangkap dinamika terbaru dari sekolah maupun penerima manfaat,” tutur Sheila.
BGN Tekankan Ketepatan Distribusi dan Kualitas Gizi
Menjelang dimulainya kembali operasional dapur MBG, Badan Gizi Nasional (BGN) mengingatkan seluruh pengelola dapur agar mematuhi standar layanan.
Selain menjaga kebersihan selama proses memasak, setiap dapur juga harus mendistribusikan makanan tepat waktu dan memastikan kandungan gizi tetap sesuai standar. Sheila menegaskan bahwa kualitas layanan menjadi syarat utama agar program ini benar-benar memberi manfaat bagi kesehatan masyarakat.
“BGN menginstruksikan seluruh pengelola dapur untuk menjaga higienitas, ketepatan jam distribusi, serta kualitas nutrisi sesuai regulasi pusat,” pungkas Sheila.(CIA)
Views: 14

















