Pasien Cuci Darah di Trenggalek Tak Hanya Lansia, Usia 15 Tahun Sudah Jalani Hemodialisis

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Pasien cuci darah di RSUD dr. Soedomo Trenggalek tidak hanya berasal dari kelompok lanjut usia. Rumah sakit milik Pemkab Trenggalek itu pernah menangani pasien hemodialisis berusia 15 tahun. Kondisi tersebut menunjukkan kebutuhan edukasi kesehatan ginjal juga menyasar kelompok usia muda.

Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, mengatakan pasien hemodialisis memiliki rentang usia beragam.

“Spektrum usia pasien di sini sangat beragam. Bahkan pasien hemodialisis termuda yang tercatat di RSUD dr. Soedomo kemarin ada yang baru berusia 15 tahun,” ungkap dr. Saeroni.

Pasien berusia lebih dari 60 tahun juga masih mendominasi layanan hemodialisis. Karena itu, upaya pencegahan gangguan ginjal perlu menyasar berbagai kelompok usia.

Pola Makan dan Obat Perlu Diperhatikan

Dr. Saeroni menjelaskan gangguan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan berbagai faktor. Kondisi medis, pola konsumsi, dan penggunaan obat tertentu menjadi bagian yang perlu diperhatikan.

“Ada beberapa jenis makanan yang bersifat toksik bagi ginjal, begitu pula dengan penggunaan obat-obatan keras tertentu yang dikonsumsi sembarangan tanpa pengawasan medis,” jelasnya.

Untuk pasien berusia 15 tahun, dr. Saeroni belum menyimpulkan satu penyebab spesifik. Ia menyebut gangguan ginjal membutuhkan penilaian berdasarkan kondisi masing-masing pasien.

Riwayat penyakit tertentu juga dapat memengaruhi fungsi ginjal. Begitu pula penggunaan obat tanpa pengawasan medis.

Hipertensi juga menjadi salah satu kondisi yang berkaitan dengan gangguan fungsi ginjal. Riwayat keluarga dapat berpengaruh melalui sejumlah kondisi kesehatan, termasuk hipertensi.

“Faktor genetik atau keturunan bisa berpengaruh secara tidak langsung, terutama yang diturunkan melalui riwayat hipertensi keluarga,” tambah dr. Saeroni.

RSUD Tambah 17 Mesin Hemodialisis

Kebutuhan layanan cuci darah turut mendorong RSUD dr. Soedomo menambah fasilitas. Rumah sakit menambah 17 mesin sehingga total fasilitas hemodialisis mencapai 31 unit.

Penambahan tersebut memperluas kapasitas layanan melalui sistem dua shift. Rumah sakit juga menyiagakan satu mesin khusus untuk pasien gawat darurat atau cito.

Namun, penambahan mesin belum langsung menghapus seluruh antrean pasien. Data rumah sakit masih mencatat sekitar 145 pasien dalam daftar tunggu.

“Data waiting list kami masih mencatat sekitar 145 pasien yang mengantre. Sebagian dari mereka bahkan terpaksa harus menjalani cuci darah berkala ke luar daerah,” terangnya.

Layanan hemodialisis di RSUD dr. Soedomo juga masuk dalam jaminan BPJS Kesehatan.

Tidak Semua Pasien Harus Cuci Darah Permanen

Peluang pasien untuk berhenti menjalani hemodialisis bergantung pada jenis gangguan ginjal. Dokter perlu melihat diagnosis dan kondisi fungsi ginjal masing-masing pasien.

Pasien dengan Gangguan Ginjal Akut atau Acute Kidney Injury masih memiliki peluang pemulihan fungsi ginjal. Sementara itu, kondisi Penyakit Ginjal Kronis atau Chronic Kidney Disease memiliki karakter berbeda.

“Namun, jika pasien sudah terdiagnosa Penyakit Ginjal Kronis (Chronic Kidney Disease), umumnya jaringan ginjal sudah mengalami kerusakan permanen sehingga pasien harus bergantung pada tindakan hemodialisis seumur hidup,” pungkasnya..(CIA)

Views: 7