TRENGGALEK, bioztv.id – Deru dinamo mesin jahit berdengung tanpa putus dari sebuah rumah sederhana di Dusun Karangnongko, Desa Kamulan, Kecamatan Durenan. Di antara tumpukan kain baru dan hamparan pola seragam sekolah, Ahmad Fajar Aziz berdiri tegak. Jemarinya lincah mengayunkan gunting, memotong lembar demi lembar kain yang segera berubah menjadi pakaian siap pakai.
Tak banyak orang mengetahui bahwa di balik kesibukan itu tersimpan perjalanan panjang seorang santri yang memulai semuanya dari sebuah keterpaksaan. Saat masih remaja, keluarganya mendorong bahkan memaksa Fajar belajar menjahit. Kini, keterampilan yang dulu ia jalani dengan setengah hati justru menjadi urat nadi penghidupan keluarganya sekaligus membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.
Pada usia 27 tahun, Fajar berhasil menancapkan usahanya di industri konveksi rumahan. Bisnis yang ia bangun mampu bertahan bahkan ketika banyak pelaku usaha mikro mengeluhkan lesunya perputaran ekonomi.
Berawal dari Dorongan Keras Keluarga
Fajar mengaku tidak pernah bercita-cita menggeluti dunia jarum dan benang. Cerita itu bermula ketika keluarganya menuntut dirinya menguasai keterampilan kerja sepulang sekolah saat masih duduk di bangku SMP.
Ketika remaja seusianya menghabiskan waktu untuk bermain, Fajar justru menghabiskan hari-harinya di depan mesin jahit dan mulai mengenal dunia konveksi.
“Keluarga mendesak saya untuk belajar keterampilan kerja sepulang sekolah. Itu awal mula saya menyentuh ilmu ini,” kenang Fajar saat berbincang di ruang produksi, Rabu (24/6/2026).
Seiring waktu, Fajar mengubah cara pandangnya. Ia menjadikan beban yang dulu terasa berat sebagai bekal hidup yang sangat berharga.
“Setelah konsisten menjalani, saya akhirnya sadar bahwa keterampilan ini adalah sebuah kebutuhan. Akhirnya saya menekuni dan mempelajari ilmu ini secara total sampai benar-benar mahir,” imbuhnya.
Sejak kelas dua SMP, Fajar mulai menekuni dunia jahit-menjahit secara serius. Ia mempelajari karakter berbagai jenis kain, membuat pola dengan presisi, hingga menguasai beragam mesin jahit modern.
Sulit Merebut Kepercayaan karena Usia Terlalu Muda
Bekal keterampilan itu mendorong Fajar memberanikan diri membuka usaha sendiri pada tahun 2020 saat masih berstatus mahasiswa. Namun, menjalankan bisnis di usia muda menghadirkan tantangan yang tidak ringan.
Bagi Fajar, modal dan peralatan bukan hambatan terbesar. Ia justru harus bekerja keras membangun kepercayaan pelanggan.
“Duka paling terasa ya karena faktor usia saya yang masih sangat muda. Saat menawarkan jasa atau menggencarkan pemasaran, saya sering kali kesulitan mengunci kepercayaan konsumen,” tuturnya.
Wajahnya yang tampak jauh lebih muda dari usia sebenarnya sering membuat calon pelanggan meragukan kemampuannya.
“Calon pelanggan terkadang meremehkan atau mengabaikan penawaran saya karena mereka mengira saya belum berpengalaman,” lanjut alumnus Program Studi Manajemen Bisnis UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung tersebut.
Alih-alih menyerah, Fajar menyusun strategi baru. Ia membangun reputasi usahanya sedikit demi sedikit. Saat menemui calon pelanggan besar, ia sengaja mengajak rekan yang usianya lebih matang.
“Dulu kalau datang sendirian, orang-orang sering menganggap saya masih anak-anak. Akhirnya saya menyiasatinya dengan mengajak teman yang lebih senior supaya calon pelanggan lebih mantap,” katanya sambil tersenyum.
Musim Ajaran Baru Menjadi Ladang Rezeki
Enam unit mesin jahit yang berjejer rapi di ruang produksi kini menjadi saksi perjalanan panjang usaha Fajar. Menjelang tahun ajaran baru, pesanan seragam sekolah terus berdatangan, mulai dari tingkat SD, SMP hingga SMA.
Dalam sebulan, konveksi miliknya mampu menyelesaikan puluhan hingga mendekati seratus setel pakaian.
“Musim masuk sekolah seperti sekarang menjadi berkah tersendiri. Kami minimal bisa menyelesaikan 60 sampai 80 setel seragam dalam satu bulan,” ungkapnya.
Selain mengerjakan seragam sekolah, Fajar juga menerima pesanan pakaian kasual, jas formal, hingga busana adat beskap untuk kebutuhan pernikahan.
Untuk menjaga kualitas jahitan, Fajar berbagi tugas dengan sang istri. Ketika pesanan melonjak, ia menggandeng sejumlah penjahit lokal yang memiliki standar kualitas serupa.
Hadapi Lonjakan Harga Mesin dengan Cara Kreatif
Di tengah meningkatnya pesanan, Fajar menghadapi tantangan baru berupa kenaikan harga mesin jahit dan suku cadang impor.
“Kenaikan harga paling memukul sektor peralatan. Mesin dan sparepart kebanyakan barang impor, jadi harganya melambung sangat signifikan,” keluhnya.
Untuk menekan biaya produksi, Fajar memilih berburu komponen bekas yang masih layak pakai. Ia juga bekerja sama dengan mekanik langganan untuk memperbaiki dan memodifikasi mesin yang sudah ada.
“Selagi mekanik bisa memperbaiki, kami optimalkan mesin yang ada. Kami menahan diri untuk tidak membeli mesin baru karena harganya melesat tinggi,” jelasnya.
Meski biaya operasional meningkat, Fajar tetap mempertahankan tarif jasanya. Ia lebih memilih menjaga loyalitas pelanggan daripada mengejar keuntungan sesaat.
“Kami belum berani menaikkan ongkos jasa. Daya beli masyarakat juga sedang berat, jadi kami berusaha saling mengerti dan menyesuaikan,” katanya.
Pesan Sang Santri untuk Generasi Muda
Kesuksesan yang Fajar nikmati hari ini tidak datang secara instan. Ia melewati proses panjang, belajar dari berbagai kegagalan, dan membangun kepercayaan pelanggan sedikit demi sedikit.
Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk memanfaatkan masa produktif dengan belajar keterampilan yang bernilai ekonomi.
“Mumpung fisik masih kuat dan pikiran masih maksimal, manfaatkan waktu sebaik mungkin. Serap keterampilan apa saja yang bisa menjadi bekal berharga untuk masa depan,” pesannya.
Fajar kemudian menutup obrolan dengan kalimat sederhana yang selalu menjadi pegangan hidupnya.
“Teruslah belajar dan jangan pernah menumpuk-numpuk waktu. Sebab, kita tidak akan pernah bisa memutar kembali waktu yang sudah lewat,” pungkasnya.
Bagi Fajar, mesin jahit bukan sekadar alat pencari nafkah. Di balik setiap tusukan jarum yang menembus kain, ia merajut kisah tentang ketekunan, kesabaran, dan keberanian. Dari rumah sederhana di pelosok Trenggalek, santri muda itu berhasil menjahit masa depannya sendiri dan membuktikan bahwa keterpaksaan hari ini bisa berubah menjadi jalan hidup yang membanggakan di masa depan.(CIA)
Views: 14
















