TRENGGALEK, bioztv.id – Suara gesekan pisau pada batang bambu terdengar ritmis dari teras sebuah rumah di Desa Karanganom, Kecamatan Durenan, Trenggalek. Di tempat itu, Afrizal Rian Khoirul Manna duduk telaten meraut potongan bambu. Tangannya sigap menghaluskan setiap serat bambu yang masih kasar.
Bagi kebanyakan orang, potongan bambu itu mungkin hanya bahan mentah. Namun, Rian mengubah bilah-bilah bambu tersebut menjadi rangka layangan yang kokoh dan presisi.
Aktivitas itu kini menjadi bagian dari keseharian Rian. Pemuda lulusan SMK tersebut merintis usaha bukan dengan modal besar, melainkan dari kegemaran yang ia tekuni sejak duduk di bangku sekolah dasar.
Siapa sangka, hobi masa kecil itu kini mampu menjadi mata pencaharian yang menjanjikan.
Keahlian Masa Kecil yang Mengundang Pesanan
Rian mulai serius membuat layangan pada 2021. Awalnya, ia hanya merakit layangan untuk memenuhi hobinya sendiri. Namun, ketelitian dan hasil karyanya mulai menarik perhatian tetangga serta teman-temannya.
Pesanan yang awalnya hanya satu atau dua buah perlahan meningkat. Sejumlah pembeli bahkan mulai memesan dalam jumlah besar. Kondisi itu membuat Rian melihat peluang bisnis dari hobinya.
“Dulu saya cuma senang bikin layangan untuk dimainkan sendiri. Lama-lama ada orang yang tertarik lalu pesan, kadang satu, kadang dua,” kenang Rian, Kamis (3/9/2026).
Seiring pesanan meningkat, Rian terus mengasah keterampilannya. Dalam sehari, ia mampu menyelesaikan 12 hingga 15 layangan. Dalam kondisi normal, rumah produksinya dapat menghasilkan sekitar 100 layangan setiap bulan.
Rian mengerjakan seluruh proses produksi sendiri. Ia memilih bambu, mengeringkan bahan, meraut rangka, hingga menyelesaikan tahap akhir (finishing).
Musim Kemarau dan Angin Segar Bagi Pembuat Layangan
Musim kemarau membawa keuntungan ganda bagi Rian. Terik matahari membantu mempercepat pengeringan bambu. Sementara itu, angin kencang mendorong masyarakat kembali menerbangkan layangan.
Salah satu produk andalannya ialah Layangan Tanggalan, model khas yang populer di wilayah Trenggalek dan Tulungagung.
Rian mengolah bambu mentah berukuran 1,10 meter menjadi layangan siap terbang dengan ukuran sekitar 90 hingga 95 sentimeter.
Untuk memperluas pasar, Rian menjalin kerja sama dengan pengepul asal Tulungagung melalui sistem grosir.
“Kalau untuk model ini harganya memang harga grosir. Saya menyetorkan langsung ke pengepul,” jelasnya.
Festival Layangan Menghidupkan Tradisi Sekaligus Pasar
Rian melihat pasar layangan tahun ini jauh lebih bergairah dibandingkan tahun lalu. Berbagai festival dan lomba layangan di sejumlah daerah ikut mendorong masyarakat kembali menekuni permainan tradisional tersebut.
Fenomena itu tidak hanya mengajak penghobi lama kembali ke persawahan. Permintaan terhadap model layangan yang lebih beragam juga ikut meningkat.
“Dibandingkan tahun kemarin, musim ini jauh lebih ramai karena event dan festival layangan makin banyak digelar,” tutur Rian.
Peningkatan tersebut langsung terasa di rumah produksinya.
“Penggemarnya bertambah banyak, yang pesan otomatis ikut naik. Model-model yang diminta konsumen juga makin beragam,” tambahnya.
Pasar Rian kini tidak lagi sebatas lingkungan desa. Selain melayani pembeli dari Trenggalek, ia juga menerima pesanan dari Tulungagung dan daerah sekitarnya.
Layangan Kecil Justru Menuntut Ketelitian Lebih Tinggi
Banyak orang menganggap pembuatan layangan kecil lebih mudah daripada layangan berukuran besar. Rian justru menemukan hal sebaliknya dari pengalaman selama membuat layangan.
Menurutnya, semakin kecil ukuran layangan, semakin tinggi tingkat kerumitannya. Sedikit saja kesalahan saat mengikis bambu dapat mengganggu keseimbangan layangan ketika terbang.
“Tingkat kesulitannya justru ada di layangan ukuran kecil karena prosesnya jauh lebih rumit dan butuh kerapian ekstra,” ungkap Rian.
Untuk menjaga kualitas, Rian menggunakan beberapa jenis bambu. Ia memanfaatkan bambu Jawa biasa hingga pring petung atau bambu betung yang terkenal kuat.
Rian menyesuaikan jenis bambu dengan karakter setiap pesanan.
Ia sudah terbiasa mengolah berbagai ukuran layangan, mulai dari ukuran mini hingga layangan raksasa sepanjang 2,5 meter. Meski begitu, model gapangan masih menjadi produk yang paling banyak dicari konsumen.
Musim Hujan Jadi Tantangan Pasokan Bambu
Di balik perkembangan usahanya, Rian tetap menghadapi kendala produksi. Salah satu tantangan terbesar muncul ketika musim hujan tiba.
Hujan membuat pasokan bambu berkualitas lebih sulit ia dapatkan. Proses pengeringan alami pun membutuhkan waktu lebih lama.
“Dukanya itu kalau sudah masuk musim hujan. Cari bahan bambu susah, mengeringkannya juga butuh waktu lama,” akunya.
Karena itu, Rian memanfaatkan musim kemarau untuk meningkatkan produksi. Ia juga tidak terbebani target produksi tertentu meski sudah menjalin kerja sama dengan pengepul.
“Selama ini tidak ada target khusus dari pengepul. Begitu barang jadi dan siap, langsung saya kirim,” ujarnya.
Merawat Hobi Masa Kecil di Bawah Langit Sore
Di balik aktivitas produksi dan pemasukan dari penjualan, Rian tetap mempertahankan kecintaannya terhadap layangan.
Baginya, usaha tersebut bukan sekadar cara mencari rupiah. Rian juga ingin menjaga kegemaran masa kecilnya agar tetap hidup.
“Alasan utamanya ya memang karena hobi. Dari dulu saya memang senang bikin dan main layangan,” ucapnya sambil tersenyum.
Rian merasakan kepuasan tersendiri ketika melihat bambu sederhana berubah menjadi layangan yang menari di udara. Di sela kesibukannya bekerja, ia masih meluangkan waktu menerbangkan layangan bersama teman-temannya di persawahan dekat rumah.
Ia menikmati angin sore hingga menjelang Maghrib.
Kini, teras rumah Rian di Desa Karanganom dipenuhi layangan dengan berbagai ukuran. Ada model mini hingga tipe jumbo.
Rian membersihkan sisa plastik pada rangka dengan telaten. Ia juga menyiapkan aksesori peluit penghasil suara atau sawangan secara terpisah agar pembeli dapat memasangnya sesuai selera.
Rian berharap usaha rumahan tersebut terus berkembang. Ia juga berencana menghadirkan lebih banyak variasi model untuk memberikan pilihan kepada para pecinta layangan.
“Harapan saya ke depan usaha ini bisa makin berkembang dan bisa menghadirkan model-model baru yang lebih bervariasi,” pungkasnya.
Saat senja mulai membayang di langit Karanganom, angin kemarau membawa puluhan layangan membumbung tinggi.
Di bawahnya, Rian tetap tekun mengolah bilah-bilah bambu. Ia membuktikan bahwa hobi masa kecil tidak hanya bisa menjadi sumber penghasilan, tetapi juga ikut menjaga tradisi agar tetap mengangkasa.(CIA)
Views: 8

















