Produksi Ikan Trenggalek Anjlok Hingga 70 Persen, Nelayan Terpukul Cuaca Ekstrem dan Hilangnya Rumpon

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idSektor perikanan tangkap di Kabupaten Trenggalek tengah memasuki masa-masa sulit. Hingga pertengahan tahun 2026, para nelayan lokal baru mampu mengumpulkan hasil tangkapan sebesar 2.016,9 ton, jauh tertinggal dari capaian tahun lalu. Penurunan produksi hingga 60–70 persen itu langsung memicu kelangkaan pasokan sekaligus melambungkan harga ikan di pasaran.

Data tersebut menjadi alarm keras yang menunjukkan para nelayan di pesisir selatan Trenggalek sedang menghadapi tekanan serius. Selain cuaca yang tidak menentu, para nelayan juga kehilangan rumpon yang selama ini mereka manfaatkan sebagai titik berkumpulnya ikan di laut lepas.

Kepala UPT Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kabupaten Trenggalek, Syamsu Rijal, membenarkan bahwa produktivitas nelayan lokal terus merosot sejak awal tahun.

“Nelayan memang masih mencatatkan hasil tangkapan yang minim dari Januari sampai Mei kemarin, baru sekitar 1.500-an ton. Jenis ikan petek dan tongkol lisong atau rengis masih mendominasi hasil tangkapan yang ada,” ujar Syamsu Rijal.

Data terbaru menunjukkan nelayan hanya mampu menambah produksi sebesar 639 ton sepanjang Juni. Alhasil, akumulasi tangkapan dari Januari hingga Juni baru mencapai 2.016,9 ton.

Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, para nelayan berhasil memperoleh hasil tangkapan yang jauh lebih melimpah. Sepanjang 2025, sektor perikanan tangkap Trenggalek bahkan mencatat produksi sekitar 12 ribu ton.

“Turunnya sangat banyak jika kita bandingkan dengan periode yang sama tahun kemarin. Hasil saat ini mungkin baru menyentuh sekitar 30 sampai 40 persen dari capaian tahun lalu,” jelas Rijal.

Hilangnya Rumpon Jadi Biang Kerok Utama

Rijal menjelaskan bahwa cuaca ekstrem bukan satu-satunya penyebab anjloknya produksi ikan.

Gelombang tinggi, curah hujan lebat, serta perubahan suhu air laut memang sering memaksa nelayan menunda aktivitas melaut. Namun, hilangnya rumpon di perairan lepas justru memberikan dampak yang jauh lebih besar terhadap hasil tangkapan.

Selama ini, para nelayan memanfaatkan rumpon sebagai alat bantu untuk mengumpulkan ikan sehingga mereka lebih mudah menentukan lokasi penangkapan.

Namun, kondisi itu berubah setelah Pertamina Hulu Energi menjadikan perairan Trenggalek sebagai lokasi survei seismik dua dimensi pada akhir 2025.

“Akhir tahun 2025 kemarin, proyek survei seismik dua dimensi dari Pertamina Hulu Energi menggilas rumpon-rumpon milik nelayan. Petugas mengangkat seluruh rumpon tersebut karena posisinya tepat berada di jalur perlintasan kapal survei,” ungkap Rijal.

Setelah kehilangan rumpon, para nelayan kini hanya mengandalkan kawanan ikan layang, rengis, dan petek yang kebetulan melintas di jalur pelayaran mereka. Akibatnya, produktivitas harian nelayan langsung merosot tajam.

Nelayan Memilih Parkir Kapal 

Menghadapi situasi tersebut, mayoritas nelayan memilih mengurangi aktivitas melaut.

Mereka enggan mengeluarkan biaya operasional dan bahan bakar yang tinggi karena peluang memperoleh hasil tangkapan sangat kecil. Sebelum berangkat, para nelayan kini lebih sering berkumpul di dermaga sambil bertukar informasi mengenai kondisi cuaca dan hasil tangkapan rekan-rekan mereka.

“Mereka biasanya memantau dulu rekan-rekannya yang nekat berangkat, dapat ikan atau tidak, dan bagaimana kondisi cuaca di tengah laut. Mereka saling bertukar informasi dan memilih menunggu datangnya musim ikan,” tutur Rijal.

Para nelayan sengaja mengambil langkah tersebut agar biaya solar yang mereka keluarkan tidak lebih besar daripada hasil penjualan ikan di pelelangan.

Pasokan Menyusut, Harga Tongkol Lisong Meroket 

Minimnya hasil tangkapan langsung memicu efek domino di pasar. Berkurangnya pasokan membuat harga berbagai jenis ikan tangkap melonjak tajam, terutama tongkol lisong yang menjadi favorit masyarakat.

“Karena produksi tangkapan dari laut sangat tipis, harga jualnya otomatis meroket tinggi. Tongkol lisong yang biasanya bertengger di harga Rp12 ribu sampai Rp18 ribu per kilogram, sekarang melambung hingga menembus Rp30 ribu per kilogram,” terang Rijal.

Lonjakan harga tersebut tidak hanya membebani konsumen, tetapi juga menyulitkan para pedagang yang kesulitan memperoleh pasokan ikan segar dalam jumlah besar.

Cuaca dan Rumpon Masih Menentukan Nasib Nelayan

Hingga kini, pihak UPT TPI belum dapat memperkirakan kapan produksi ikan Trenggalek akan kembali normal.

Pasalnya, dua faktor utama yang menekan produktivitas nelayan masih berada di luar kendali, yakni perubahan cuaca dan belum pulihnya keberadaan rumpon di laut selatan.

“Kami belum bisa memprediksi kondisi cuaca ke depan. Yang bisa kami lakukan saat ini hanya berharap cuaca segera membaik sehingga hasil tangkapan nelayan kembali melimpah,” pungkas Rijal.(CIA)

Views: 14