TRENGGALEK, bioztv.id – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Trenggalek kembali menuai sorotan. Ratusan porsi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pogalan 2 milik Yayasan Kemala Bhayangkari tidak lolos uji kualitas di lapangan. SMKN 1 Pogalan langsung mengembalikan seluruh menu karena mencium bau tidak sedap dan menilai makanan tidak layak konsumsi.
Peristiwa ini memicu keluhan dari penerima manfaat sekaligus menjadi alarm serius bagi kualitas distribusi makanan dalam program nasional tersebut.
Salah satu wali murid yang enggan disebutkan namanya menegaskan bahwa siswa mengembalikan makanan secara menyeluruh. Ia juga menyebut kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya.
“Iya betul, semua kembali. Di dalam menu baunya tidak enak dan dinilai tidak layak konsumsi,” ujarnya.
Saat itu, dapur SPPG menyajikan menu chicken ball crumble, tahu goreng, salad sayur, dan sup dalam porsi kecil.
Koordinasi Bergerak Cepat, Evaluasi Disiapkan
Koordinator Wilayah SPPG Trenggalek, Neo Ordikla, langsung merespons laporan dari sekolah dengan melakukan pemantauan.
“Saya sudah monitor. Kami sudah mengomunikasikan permasalahan ini dengan pihak sekolah dan penyedia untuk menemukan solusi awal,” jelasnya.
Ia menambahkan, tim saat ini tengah menyusun laporan resmi untuk disampaikan kepada pimpinan sebagai bahan evaluasi lanjutan.
“Kami masih menyusun laporan untuk pimpinan,” tambahnya.
Satgas MBG Benarkan Pengembalian Total
Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, juga mengonfirmasi bahwa SMKN 1 Pogalan mengembalikan seluruh makanan yang didistribusikan pada hari itu.
“Semua makanan dikembalikan. Informasinya karena tercium bau saat makanan diterima,” tegasnya.
Ia memastikan tim akan membahas kasus ini dalam rapat koordinasi sebagai bagian dari evaluasi menyeluruh program MBG.
“Kami akan membahas laporan ini dalam rakor evaluasi MBG minggu ini,” ujarnya.
Teguran dan Laporan ke Pusat
Sunarto menegaskan bahwa pihaknya akan mengambil langkah tegas jika menemukan pelanggaran standar operasional. Tim akan memberikan pembinaan hingga teguran kepada pengelola dapur.
Selain itu, tim juga akan melaporkan hasil evaluasi kepada Badan Gizi Nasional (BGN) sebagai otoritas program di tingkat pusat.
“Kami pasti melakukan pembinaan dan teguran. Kami juga akan melaporkan hasilnya ke BGN,” katanya.
Alarm Keras untuk Pengawasan Kualitas
Kasus ini menegaskan bahwa keberhasilan program MBG tidak hanya bergantung pada distribusi, tetapi juga kualitas makanan yang diterima siswa. Ketika pengelola gagal menjaga standar mutu, program berisiko melenceng dari tujuan utamanya, yakni memenuhi kebutuhan gizi anak.
Di tengah tingginya harapan masyarakat, pengawasan ketat terhadap dapur SPPG menjadi kunci agar kejadian serupa tidak terulang. Program ini menuntut konsistensi kualitas, bukan sekadar mengejar kuantitas distribusi. (CIA)
Views: 125
















