TRENGGALEK, bioztv.id – Puluhan kios di Pasar Pon Trenggalek yang dibiarkan kosong selama berbulan-bulan kini menyita perhatian serius Dinas Koperasi, Usaha Mikro, dan Perdagangan (Diskomidag) Trenggalek. Kondisi ini tidak hanya merusak wajah pasar tradisional, tetapi juga menggerus potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang seharusnya dapat dimaksimalkan.
Diskomidag Trenggalek terus menggencarkan pendataan dan penertiban kios tidak aktif sebagai langkah awal menuju proses lelang ulang. Namun, upaya ini menghadapi kendala utama karena banyak pedagang menilai lokasi kios kosong tersebut kurang strategis untuk berjualan.
Diskomidag Keluarkan Peringatan Keras, Kios Terancam Dicabut Haknya
Kepala Diskomidag Trenggalek, Saniran, menegaskan pihaknya tidak akan membiarkan aset pasar terbengkalai. Diskomidag segera melakukan inventarisasi menyeluruh dan mengirimkan peringatan resmi kepada para pemegang hak kios.
“Setelah inventarisasi selesai, kami langsung memberi peringatan kepada pedagang Pasar Pon. Kami minta mereka menyerahkan kios secara sukarela jika memang tidak berniat menempati. Jika mereka mengabaikan, kami tetap akan melayangkan surat peringatan keras,” tegas Saniran, Selasa (16/12/2025).
Diskomidag mengambil langkah tegas ini untuk memastikan pedagang lain yang lebih siap dan berkomitmen dapat segera memanfaatkan kios tersebut.
Data Lapangan Dinamis, Petugas Kesulitan Mengunci Angka
Saniran mengakui timnya menghadapi tantangan besar dalam pendataan kios kosong. Kondisi lapangan yang dinamis membuat petugas kerap menemukan pedagang yang sebelumnya meninggalkan kios, kembali membuka lapak saat petugas melakukan pengecekan.
“Ketika petugas datang, beberapa pedagang tiba-tiba kembali masuk dan berjualan. Situasi ini membuat data kami berubah-ubah,” jelasnya.
Meski demikian, Diskomidag tetap melakukan verifikasi berlapis agar kebijakan yang mereka ambil benar-benar berbasis data akurat.
Diskomidag Pastikan 14 Kios Kosong, Minat Pedagang Rendah
Berdasarkan hasil pendataan terakhir, Diskomidag memastikan 14 kios di Pasar Pon benar-benar kosong. Sayangnya, sebagian besar kios tersebut berada di lokasi yang pedagang anggap kurang menguntungkan.
“Saat ini kami memastikan ada 14 kios kosong. Kami sudah menawarkannya ke pedagang sekitar, tetapi baru dua pedagang yang menyatakan minat,” ujar Saniran.
Bahkan, satu pedagang yang telah memenangkan undian kios dan melakukan renovasi hingga kini belum menempatinya. “Satu kios sudah selesai direnovasi, tetapi pemiliknya belum berani masuk. Mungkin mereka masih menghitung potensi pasar di lokasi tersebut,” imbuhnya.
Kios Kosong Tekan Target PAD Rp 800 Juta
Kios mangkrak secara langsung menekan realisasi pendapatan Pasar Pon. Diskomidag menargetkan pemasukan sekitar Rp 800 juta dari Pasar Pon sepanjang tahun 2025. Namun hingga pertengahan Desember, realisasi baru menyentuh sekitar 50 persen.
Saniran menjelaskan, Pasar Pon menyumbang PAD melalui dua jenis retribusi, yakni retribusi jasa umum untuk kios, los, dan pelataran, serta retribusi jasa usaha khusus bagi kios dan ruko di dalam pasar.
Diskomidag menegaskan penertiban kios kosong bukan sekadar urusan administrasi. Langkah ini menjadi strategi untuk menghidupkan kembali aktivitas ekonomi Pasar Pon. Pasar yang terisi penuh diyakini mampu menarik lebih banyak pembeli, memperkuat usaha pedagang, dan mendongkrak PAD daerah secara signifikan.
“Kami memasang target besar, dan kami harus menghidupkan pasar ini bersama-sama. Kami tidak akan membiarkan kios kosong terlalu lama,” pungkas Saniran.(CIA)
Views: 59

















