Krisis Manajemen: Persiga Trenggalek Absen di Liga 4, Masa Depan Sepak Bola Lokal Terancam

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Harapan suporter Persiga Trenggalek untuk menyaksikan tim kebanggaan mereka berlaga di kompetisi resmi kembali kandas. Klub yang pernah menjadi ikon sepak bola lokal ini tidak ikut serta dalam Liga 4 Jawa Timur 2026. Kondisi ini memicu kekhawatiran besar: apakah Persiga masih memiliki masa depan?

PSSI Jawa Timur sebenarnya sudah menetapkan Persiga sebagai anggota resmi dan memberikan hak tampil mewakili Kabupaten Trenggalek. Namun, manajemen klub tidak mendaftarkan tim hingga batas waktu habis, sehingga mereka gagal memanfaatkan kesempatan tersebut.

Manajemen Tak Bergerak, Organisasi Vakum

Sekretaris ASKAB PSSI Trenggalek, Harianto Sutrasman, menegaskan bahwa absennya Persiga bukan akibat masalah teknis, tetapi karena manajemen klub tidak menjalankan organisasi.

“Persiga harus mengganti akta notaris karena Ketua Umumnya sudah meninggal. Secara organisasi, Persiga vakum,” jelas Harianto.

Karena struktur mangkrak, tidak ada pengurus yang mengambil keputusan strategis. ASKAB pun tidak bisa mengintervensi karena mereka tidak memiliki kewenangan terhadap internal klub.

“Terkait Persiga Trenggalek yang tidak berangkat, kami sebenarnya tidak punya kewenangan bicara karena saya bukan pengurus Persiga,” ujarnya.

Klub Internal Pun Alami Kebuntuan

ASKAB mencoba mencari alternatif dengan menyeleksi perwakilan melalui kompetisi internal. Klub Kuda Laut berhasil menjadi juara dan berpotensi menggantikan posisi Persiga. Namun, klub tersebut juga belum siap dari sisi administrasi dan pendanaan.

“Juara kompetisi internal tentu bisa mewakili daerah, tetapi mereka harus menggunakan aplikasi SIAP. Mungkin klub tidak siap, dan anggaran yang dibutuhkan juga tidak sedikit,” terang Harianto.

Pemain Muda Cari Jalan di Luar Daerah

Ketiadaan tim resmi Trenggalek di Liga 4 berdampak langsung pada masa depan pemain lokal. Mereka kehilangan wadah untuk menunjukkan performa, sehingga banyak yang memilih memperkuat klub luar daerah demi menyelamatkan karier sepak bola mereka.

“Tahun ini ketika kita tidak ikut, ada beberapa anak Trenggalek yang main di Kabupaten Madiun,” ungkapnya.

Ironi pun muncul: Trenggalek memiliki talenta, tetapi daerah lain yang memetik manfaat.

Jalan Satu-Satunya: Reorganisasi Total

ASKAB meminta pihak-pihak yang berkepentingan untuk segera mengambil langkah nyata menyelamatkan Persiga. Klub ini menyimpan nilai sejarah dan dukungan masyarakat yang kuat, sehingga pembiaran hanya akan memperburuk keadaan.

“Kami mengharapkan ada pembenahan, ada reorganisasi, ada orang yang berkomitmen mengembangkan Persiga, sehingga klub anggota internal juga bisa ikut Liga 4,” tegas Harianto.

Jika pihak terkait terus menunda perbaikan, Persiga bisa kehilangan identitasnya dan hilang perlahan dari peta sepak bola Jawa Timur.(CIA)

Views: 34