TRENGGALEK – Kabupaten Trenggalek dikenal memiliki banyak pulau kecil, namun tahukah Anda? Hanya ada satu yang masuk dalam kawasan Perhutani. Pulau tersebut adalah Karang Pegat di Kecamatan Watulimo. Hingga kini, pulau ini belum dikelola karena aksesnya sulit. Disisi lain meski hutan produksi di Trenggalek cukup kaya, namun tantangan lahan kritis masih mengantui.
Wakil Administratur Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, menjelaskan bahwa luas total kawasan hutan di Trenggalek mencapai 62.688,9 hektare. Dari jumlah tersebut, sekitar 18.053 hektare merupakan hutan lindung, sementara sisanya, sekitar 54.000 hektare, merupakan hutan produksi.
“Kawasan hutan di Trenggalek yang berbentuk pulau hanya satu, yaitu Karang Pegat dengan luas 1.100 Ha. Belum ada pengelolaan karena aksesnya sulit, dan tidak ada masyarakat yang tinggal di sana,” ujar Hermawan.
Tantangan Lahan Kritis
Salah satu masalah utama yang dihadapi Trenggalek adalah lahan kritis. Hermawan menyebutkan bahwa sekitar 1.500 hektar lahan di Trenggalek masuk dalam kategori kritis, terutama di daerah seperti Gunung Durenan dan Gunung Orak-Arik.
“Lahan di sini didominasi oleh batuan dengan kandungan tanah yang minim. Hanya rumput serasah yang bisa tumbuh, dan saat kemarau, area ini rawan kebakaran,” jelasnya.
Meski demikian, Hermawan menegaskan bahwa 95% kawasan hutan Trenggalek masih tertutup oleh vegetasi.
“Hanya daerah berbatu seperti di Durenan dan Orak-Arik yang kondisinya kritis. Sekitar 90% lahannya terdiri dari batuan, sehingga sulit untuk dimanfaatkan,” tambahnya.
Potensi Hutan Produksi
Trenggalek memiliki potensi besar dalam sektor hutan produksi, terutama dari hasil hutan kayu dan non-kayu. Hermawan menjelaskan bahwa masyarakat sekitar hutan telah membentuk Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) atau kelompok tani hutan untuk bekerja sama dengan Perhutani.
“Ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2023 tentang Perhutanan Sosial. Masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan hutan untuk meningkatkan kesejahteraan mereka,” ujarnya.
Jenis Tanaman Unggulan
Trenggalek memiliki beragam jenis tanaman hutan yang disesuaikan dengan karakteristik wilayahnya. Di daerah Prigi, Kecamatan Watulimo, misalnya, terdapat hutan campur dengan tanaman cengkeh, durian, kelapa, dan pinus. Sementara itu, pohon jati banyak ditemukan di Kecamatan Tugu dan Pule.
“Pohon jati tidak cocok ditanam di dataran tinggi seperti Bendungan karena suhunya terlalu dingin. Begitu juga pinus, tidak bisa tumbuh di area yang seharusnya ditanami jati,” papar Hermawan.
Salah satu komoditas unggulan Trenggalek adalah getah pinus, yang diolah menjadi gondorukem dan minyak terpentin. Untuk luasan lahan hutan pinus sendiri diperkirakan sekitar 17.000 hektar. Lokasi hutan pinus ini juga tersebar di seluruh kecamatan se Trenggalek.
“Setiap tahun, Trenggalek mampu menghasilkan sekitar 7.500 ton getah pinus,” ungkap Hermawan. Getah ini dipungut oleh petani sekitar hutan, memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.
Harapan ke Depan
Meski menghadapi tantangan lahan kritis, Trenggalek tetap optimis dalam mengoptimalkan potensi hutannya. Hermawan berharap, dengan dukungan pemerintah dan partisipasi aktif masyarakat, kawasan hutan Trenggalek dapat dikelola secara berkelanjutan.
Dengan kekayaan alam yang dimiliki, Trenggalek memiliki peluang besar untuk menjadi contoh pengelolaan hutan produksi yang berkelanjutan. Namun, upaya serius diperlukan untuk mengatasi masalah lahan kritis dan memastikan bahwa potensi hutan dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kami ingin memastikan bahwa hutan tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga tetap lestari untuk generasi mendatang,” tutupnya.(CIA)
Views: 14

















