TRENGGALEK, bioztv.id – Di balik citra Trenggalek sebagai wilayah berhutan lebat, fakta baru menunjukkan adanya ratusan hektare lahan kritis permanen. Kondisi geografis yang keras dan berbatu membuat wilayah ini mustahil mendukung penanaman pohon kayu-kayuan.
Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Hermawan, menegaskan bahwa lahan kritis yang tidak bisa ditanami mencapai angka besar.
“Trenggalek memiliki lahan kritis hampir sekitar 450 hektare. Mayoritas berupa lahan berbatu yang tidak memungkinkan tanaman kayu-kayuan tumbuh. Di sana biasanya hanya tumbuh ilalang,” jelasnya.
Hermawan juga menjelaskan bahwa lahan berbatu tersebut berubah warna sesuai musim. Hamparan ilalang menguning saat kemarau dan kembali hijau saat hujan, meski kawasan itu tidak memiliki vegetasi berkayu.
Perhutani Mempercepat Rehabilitasi di Titik-Titik Potensial
Meskipun 450 hektare lahan tidak bisa mereka garap, Perhutani tetap menjalankan program rehabilitasi pada titik-titik yang masih memungkinkan.
“Untuk lahan yang memerlukan rehabilitasi, tahun ini kami menyiapkan sekitar 21 hektare. Lokasinya tersebar di berbagai spot di seluruh Kabupaten Trenggalek,” ujar Hermawan.
Para petugas Perhutani bahkan sering menginisiasi penanaman secara swadaya pada area kecil yang tidak masuk program resmi. Ketika tersedia bibit tanaman kayu, buah, atau konservasi, mereka langsung menanamnya bersama warga.
“Contohnya, ketika pohon pinus sudah tua dan tidak bisa ditebang karena berada di lereng, petugas lapangan langsung menanam bibit baru sambil menjalankan kegiatan kehutanan rutin,” tambahnya.
Perhutani juga menjalankan konservasi intensif melalui penanaman rumput vetiver, tanaman berakar kuat yang mampu mencegah longsor sekaligus menyediakan pakan ternak.
Tutupan Hutan Trenggalek Tetap Mencapai 98 Persen
Meski memiliki area kritis berbatu, Hermawan memastikan tutupan hutan Trenggalek tetap berada pada kategori sangat baik.
Ia menegaskan bahwa citra satelit menunjukkan tutupan hutan mencapai 98 persen.
“Kami melihat di citra bahwa tutupan lahan Trenggalek masih sangat bagus. Dari total 62.153 hektare lahan perhutani awal, hampir seluruhnya masih tertutup,” kata Hermawan.
Perhutani kini mengelola luasan yang lebih kecil setelah pemerintah mengalihkan 35.207 hektare kawasan hutan ke skema Kawasan Hutan Dengan Pengelolaan Khusus (KHDPK). Saat ini Perhutani mengelola sekitar 26.945 hektare hutan di Trenggalek.
Kesimpulan: Tantangan Geologi yang Tidak Bisa Dihindari
Lahan kritis seluas 450 hektare di Trenggalek muncul bukan karena kurangnya rehabilitasi, melainkan karena faktor alam yang tidak bisa diintervensi. Tanah berbatu, tipis, dan berada di lereng ekstrem membuat kawasan tersebut mustahil mendukung pertumbuhan pohon.
Fakta ini menunjukkan bahwa menjaga ekosistem Trenggalek tidak hanya bergantung pada penanaman pohon, tetapi juga pada pemahaman kondisi geologis dan batas-batas alami. Perhutani terus melanjutkan rehabilitasi melalui penanaman kayu, buah, hingga vetiver sambil melibatkan masyarakat dalam menjaga kelestarian hutan. (CIA)
Views: 36

















