TRENGGALEK, bioztv.id — Perum Perhutani mengidentifikasi empat faktor utama yang memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Trenggalek sepanjang Juli hingga Agustus 2026. Kondisi hutan yang mengering selama dua bulan terakhir membuat percikan api sekecil apa pun berpotensi memicu kebakaran.
Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Budi Prihartono, mengatakan timnya masih menyelidiki penyebab pasti setiap kebakaran.
Namun, temuan awal mengarah pada empat aktivitas yang berulang kali memicu munculnya titik api.
“Petugas kami memetakan beberapa potensi utama yang menjadi dalang munculnya titik api,” kata Budi.
Dugaan Sengaja Membakar Lahan
Perhutani mendalami dugaan kesengajaan dalam beberapa kasus kebakaran. Petugas mengumpulkan barang bukti dan meminta keterangan warga untuk mengungkap kemungkinan pembakaran secara sengaja.
“Kami masih mendalami dugaan ini melalui proses investigasi dan penelaahan intensif di lapangan,” ungkap Budi.
Perhutani belum menyimpulkan unsur kesengajaan dalam kasus-kasus tersebut karena proses investigasi masih berjalan.
Puntung Rokok Memicu Api di Serasah Kering
Kelalaian warga atau pengunjung yang membuang puntung rokok sembarangan menjadi faktor kedua.
Budi menjelaskan, tumpukan daun kering atau serasah di lantai hutan kini sangat mudah terbakar karena hujan tidak turun selama sekitar dua bulan.
“Serasah di seluruh kawasan hutan sudah benar-benar mengering karena hujan tidak kunjung turun dalam dua bulan terakhir,” jelasnya.
Dalam kondisi tersebut, bara kecil dari puntung rokok yang masih menyala dapat membakar serasah dan memicu penjalaran api dengan cepat.
Api Pembersihan Lahan Warga Merembet ke Hutan
Pembakaran untuk membersihkan lahan pertanian warga yang berbatasan dengan kawasan hutan menjadi pemicu ketiga.
Budi mencontohkan kebakaran di kawasan Gunung Orak-Arik. Api awalnya muncul dari lahan warga sebelum kemudian menjalar ke kawasan hutan Perhutani.
“Titik api pertama menyala di lahan milik warga, lalu angin membawa kobaran api menyabar kawasan hutan negara di sekitarnya,” bebernya.
Kondisi angin dan vegetasi kering membuat api lebih mudah berpindah dari lahan warga menuju kawasan hutan.
Warga Tinggalkan Bara Pembakaran Serasah
Kebiasaan membakar sisa vegetasi tanpa memastikan api benar-benar padam juga menjadi perhatian Perhutani.
Petani atau penggarap lahan terkadang membakar tumpukan serasah kemudian meninggalkan lokasi ketika bara masih menyala.
“Penggarap sering kali membakar tumpukan serasah, lalu meninggalkannya begitu saja sebelum api benar-benar padam,” sesal Budi.
Angin di kawasan perbukitan kemudian dapat membawa bara ke rumput atau dedaunan kering dan memperluas kebakaran.
Perhutani Tingkatkan Patroli di Zona Rawan
Perhutani kini meningkatkan patroli melalui jajaran Polisi Kehutanan (Polhut), terutama di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.
Hingga akhir Agustus 2026, kebakaran telah menghanguskan 21,25 hektare hutan di 10 lokasi berbeda dalam wilayah kerja Perhutani.
Perhutani juga memberikan perhatian khusus kepada tiga kawasan yang berdekatan dengan permukiman, yakni Gunung Orak-Arik, Gunung Jaas-Gunung Kuncung, dan Gunung Sawe.
Di tengah kondisi hutan yang sangat kering, Perhutani meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan. Warga perlu memastikan api pembakaran lahan benar-benar padam, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran.(CIA)
Views: 6
















