Uji Laboratorium Temukan Bacillus cereus dan E.coli pada Sampel MBG SPPG Tamanan Trenggalek

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idBalai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya menemukan dua jenis bakteri pada sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari SPPG Tamanan Trenggalek.

Tim laboratorium menemukan Bacillus cereus pada sampel nasi putih dan Escherichia coli (E. coli) pada buah semangka. Petugas melakukan pengujian setelah kasus gangguan kesehatan massal menimpa ratusan penerima MBG.

Kedua temuan tersebut berasal dari menu MBG yang SPPG Tamanan distribusikan pada Selasa (11/8/2026). Sehari setelah mengonsumsi makanan itu, ratusan penerima mengeluhkan mual, muntah, diare, hingga gangguan pencernaan berat.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, mengatakan pihaknya menerima surat resmi hasil pemeriksaan laboratorium tertanggal 20 Agustus pada Senin (24/8/2026).

“Tim laboratorium menemukan indikasi masalah utama pada nasi putih. Sampel nasi putih tersebut terbukti mengandung bakteri Bacillus cereus,” kata Sunarto, Rabu (26/8/2026).

Lima Komponen Makanan Diuji, Dua Mengandung Bakteri

BBLKM Surabaya memeriksa lima komponen menu MBG, yakni nasi putih, ayam sambal kacang, tumis bayam dan jagung, tahu fantasi, serta potongan semangka.

Hasil pemeriksaan menunjukkan Bacillus cereus terdapat pada nasi putih. Sementara itu, petugas menemukan E. coli pada potongan semangka.

Sunarto menjelaskan bahwa spora Bacillus cereus secara alami hidup di tanah dan lingkungan. Spora tersebut dapat menempel pada beras dan memiliki daya tahan tinggi.

“Bakteri ini membentuk endospora yang sanggup bertahan meski terkena suhu panas saat proses memasak,” jelasnya.

Karena itu, pengelola dapur tidak cukup hanya memastikan nasi matang. Petugas juga harus mengendalikan waktu dan suhu penyimpanan nasi sebelum makanan dibagikan kepada penerima.

Waktu Penyajian Nasi Jadi Perhatian

Sunarto mengingatkan penjamah makanan agar tidak membiarkan nasi matang terlalu lama pada suhu ruang.

“Jika juru masak membiarkan nasi matang berada di udara terbuka lebih dari dua jam, endospora bakteri dapat berkembang biak dan memicu gangguan pencernaan,” ungkapnya.

Temuan tersebut memiliki kesesuaian dengan gejala yang dialami sebagian penerima MBG. Mereka mengalami mual, muntah, hingga diare setelah menyantap makanan.

“Gejala klinis yang dialami para korban sangat cocok dengan dampak paparan bakteri tersebut,” tegas Sunarto.

Meski demikian, Satgas MBG belum menyimpulkan bahwa Bacillus cereus dan E. coli menjadi satu-satunya penyebab gangguan kesehatan terhadap 549 penerima.

Tim medis masih menghubungkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan kondisi masing-masing pasien melalui pemeriksaan lanjutan.

E. coli Ditemukan pada Potongan Semangka

Selain nasi, BBLKM Surabaya menemukan E. coli pada potongan semangka.

Sunarto mengatakan sejumlah faktor dapat menyebabkan kontaminasi bakteri tersebut. Faktor itu antara lain kebersihan penjamah makanan, kualitas air, kebersihan tangan, dan sanitasi peralatan dapur.

“Kontaminasi bisa berasal dari penjamah makanan maupun peralatan kerja yang kurang bersih, seperti penggunaan air atau kondisi tangan petugas,” paparnya.

Penggunaan pisau yang sama untuk bahan mentah dan buah siap makan juga dapat membuka peluang terjadinya kontaminasi silang. Apalagi jika petugas tidak mencuci dan mensterilkan pisau sebelum menggunakannya kembali.

Menurut Sunarto, E. coli dapat menyebabkan infeksi saluran pencernaan dan memicu diare.

“Paparan bakteri E. coli ini berisiko tinggi memicu diare pada pengonsumsinya,” imbuh Sunarto.

549 Penerima MBG Mengalami Gangguan Kesehatan

Kasus tersebut bermula ketika SPPG Tamanan Yayasan Petuk Tadah Lillah Billah membagikan 549 paket MBG pada 11 Agustus 2026.

Menu yang dibagikan terdiri atas nasi putih, ayam bumbu sate, tahu fantasi, tumis bayam jagung, dan potongan semangka.

Pada 12 Agustus 2026, ratusan penerima mulai mengalami gangguan kesehatan. Satgas MBG mencatat 549 orang mengalami keluhan hingga pendataan selesai pada 13 Agustus.

Korban berasal dari SMPN 1 Trenggalek sebanyak 493 orang, terdiri atas 474 siswa dan 19 guru. Sebanyak 30 orang dari SDI Luqman Al Hakim juga terdampak, terdiri atas 20 siswa dan 10 tenaga pendidik.

Selain itu, sebanyak 26 warga penerima manfaat Posyandu Kelurahan Tamanan turut mengalami keluhan kesehatan.

Seorang siswa berinisial SA (11) bahkan harus menjalani perawatan di RSUD dr. Soedomo Trenggalek akibat dehidrasi berat.

SA mengalami muntah lebih dari tujuh kali dan diare hingga 10 kali. Setelah menjalani perawatan selama tiga hari, dokter memperbolehkannya pulang pada 14 Agustus 2026.

Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, mengatakan tim medis membutuhkan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut.

“Penyebab pasti keracunan tetap memerlukan rangkaian pemeriksaan medis dan validasi laboratorium secara menyeluruh,” kata Saeroni.

Satgas Bekukan Operasional SPPG Tamanan

Satgas MBG Trenggalek kemudian membekukan sementara operasional dapur SPPG Tamanan sebagai tindak lanjut kasus tersebut.

Tim Satgas mendatangi dapur SPPG untuk memberikan pembinaan sekaligus mengevaluasi penerapan standar operasional prosedur (SOP) sanitasi dan pengolahan makanan.

Namun, pembekuan operasional membuat tim tidak dapat mengamati secara langsung seluruh proses produksi makanan saat kejadian berlangsung.

Sunarto mengatakan kondisi tersebut menyulitkan Satgas untuk memastikan titik awal masuknya kontaminasi.

“Kami sudah mendatangi lokasi SPPG Tamanan dan memberikan pembinaan ketat terkait pembenahan SOP pengolahan makanan,” jelasnya.(CIA)

Views: 6