TRENGGALEK, bioztv.id — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Trenggalek menuntut kesiagaan ekstra. Perum Perhutani memetakan sedikitnya 20 blok hutan di 20 desa sebagai zona rawan kebakaran.
Tiga lokasi di antaranya berada sangat dekat dengan permukiman warga. Bahkan, kawasan tersebut hampir setiap tahun mengalami kebakaran saat musim kemarau.
Wakil Kepala KPH Perhutani Kediri Selatan, Budi Prihartono, mengatakan titik rawan itu tersebar di sejumlah kecamatan, mulai Dongko, Kampak, Karangan, Trenggalek, hingga Gandusari.
“Berdasarkan hasil pemetaan lapangan, kami mengantongi 20 blok di 20 desa yang masuk kategori rawan kebakaran,” ujar Budi.
Kedekatan sejumlah titik api dengan rumah warga membuat risiko karhutla semakin serius. Kebakaran tidak hanya mengancam ekosistem hutan, tetapi juga keselamatan masyarakat.
Tiga Kawasan Hutan Hampir Setiap Tahun Terbakar
Perhutani menempatkan tiga kawasan sebagai titik dengan tingkat kerawanan paling tinggi karena lokasinya berdekatan dengan permukiman.
Gunung Orak-Arik di Petak 114, 115, dan 116 menjadi salah satu kawasan yang hampir setiap musim kemarau mengalami kebakaran.
Gunung Jaas dan Gunung Kuncung di Petak 76 juga masuk zona rawan. Lokasinya berada di kawasan hutan kota dan berdekatan dengan aktivitas masyarakat.
Sementara Gunung Sawe di Petak 74, 75, dan 76 turut masuk daftar kawasan yang kerap memunculkan titik api.
“Tiga lokasi itu memang menunjukkan pola kejadian berulang, di mana hampir setiap tahun selalu dilanda kebakaran hutan,” tegas Budi.
Pola kebakaran yang terus berulang menunjukkan bahwa ketiga kawasan tersebut membutuhkan pengawasan dan mitigasi jangka panjang, bukan sekadar penanganan ketika api sudah muncul.
Kebakaran Hanguskan 21,25 Hektare Hutan
Hingga 18 Agustus 2026, Perhutani mencatat kebakaran di 10 lokasi dalam wilayah kerjanya. Api menghanguskan total 21,25 hektare kawasan hutan.
Meski luasan lahan terbakar cukup besar, Budi mengatakan api belum menimbulkan kerusakan serius pada tanaman produktif utama Perhutani, terutama pohon pinus.
“Untuk vegetasi tanaman produktif kami, yakni pohon pinus, sejauh ini belum tersentuh dampak kerusakan fatal,” jelasnya.
Api mayoritas membakar semak belukar dan tanaman rimba campur. Satu kejadian di Desa Pringapus, Kecamatan Dongko, sempat menyambar sekitar delapan pohon pinus.
Perhutani Perketat Patroli Dekat Permukiman
Perhutani kini memperkuat pengawasan di kawasan yang berdekatan dengan permukiman dan wilayah perkotaan Trenggalek.
Polisi Kehutanan (Polhut) meningkatkan patroli harian sekaligus menelusuri penyebab setiap kebakaran yang muncul di lapangan.
“Kebakaran akhir-akhir ini menjadi atensi khusus kami karena lokasinya semakin mendekati permukiman penduduk,” tandas Budi.
Pemetaan 20 blok rawan tersebut menjadi dasar Perhutani untuk menentukan prioritas patroli dan mitigasi. Langkah ini semakin penting karena kondisi hutan yang mengering saat musim kemarau dapat mempercepat penyebaran api.
Dengan tiga kawasan yang hampir setiap tahun terbakar dan sebagian titik berada dekat rumah warga, ancaman karhutla di Trenggalek kini tidak cukup dihadapi dengan pemadaman. Perhutani dan masyarakat perlu memperkuat pencegahan sejak munculnya potensi titik api.(CIA)
Views: 6
















