TRENGGALEK, bioztv.id – Piala Soeratin 2026 yang seharusnya menjadi panggung bagi pesepak bola muda Trenggalek justru memunculkan polemik baru. Di tengah bergulirnya kompetisi usia dini tersebut, sejumlah pegiat pembinaan sepak bola akar rumput melontarkan kritik tajam terhadap tata kelola administrasi pemain dan pola pembinaan yang dijalankan Askab PSSI Trenggalek.
Kritik keras datang dari Shrimp Army, Sekolah Sepak Bola (SSB) asal Kecamatan Watulimo yang selama beberapa tahun terakhir aktif membina talenta muda. Manajemen klub mengaku gagal menurunkan tim U-15 setelah perubahan data pemain di aplikasi Sistem Informasi dan Administrasi PSSI (SIAP) membuat sejumlah pemain andalan mereka hilang dari database klub.
Pemilik SSB Shrimp Army, Anjar Priadi Putra, menilai minimnya jumlah peserta pada Piala Soeratin tahun ini menjadi sinyal kuat bahwa pembinaan sepak bola usia dini di Trenggalek membutuhkan evaluasi menyeluruh.
“Piala Soeratin kali ini hanya diikuti lima tim untuk kategori U-15 dan delapan tim untuk U-13. Jumlah itu jauh menurun dibanding tahun-tahun sebelumnya, padahal Trenggalek memiliki puluhan SSB yang aktif melakukan pembinaan,” ujar Anjar Priadi Putra.
Menurut Anjar, berbagai persoalan regulasi dan administrasi membuat banyak klub pembinaan kesulitan mengikuti kompetisi resmi.
Data Pemain Hilang, Mimpi Tampil di Soeratin Pupus
Anjar menjelaskan bahwa Shrimp Army telah menjalankan pembinaan pemain secara berjenjang sejak 2023. Dari sisi kualitas maupun jumlah pemain, timnya sudah siap bersaing dalam Piala Soeratin U-15.
Namun, rencana itu kandas ketika sejumlah nama pemain inti yang selama ini tercatat dalam database resmi klub tiba-tiba tidak lagi muncul di akun SIAP milik Shrimp Army.
“Askab seharusnya memfasilitasi pembinaan sepak bola usia dini, tetapi justru membuat sistem administrasi semakin rumit. Askab mengendalikan penuh pengelolaan aplikasi SIAP, padahal akun itu merupakan hak klub,” keluh Anjar.
Ia mengaku terkejut saat menemukan perubahan data dalam sistem. Beberapa pemain yang selama ini terdaftar sebagai anggota Shrimp Army mendadak keluar dari database klub tanpa pemberitahuan maupun persetujuan manajemen.
“Seseorang mencabut status beberapa pemain kami dari database klub. Tiba-tiba mereka tidak lagi tercatat sebagai bagian dari Shrimp Army. Situasi ini sangat mengecewakan,” tegasnya.
Anjar mengatakan pihaknya telah melaporkan persoalan tersebut kepada pengurus Askab PSSI Trenggalek sejak Mei 2025. Namun hingga kompetisi dimulai, ia merasa belum memperoleh penjelasan yang memuaskan.
“Saya sudah meminta kejelasan sejak Mei tahun lalu, tetapi sampai sekarang belum ada penjelasan yang benar-benar terang. Askab harus menjadikan kasus ini sebagai bahan evaluasi besar dalam pembinaan SSB di Trenggalek,” ujarnya.
SSB Butuh Pendampingan Sistem, Bukan Sekadar Bantuan Bola
Anjar menegaskan bahwa pengelola SSB saat ini tidak hanya membutuhkan bantuan perlengkapan latihan atau bola sepak. Mereka lebih membutuhkan pendampingan administrasi dan pengelolaan klub yang profesional.
“Kami memang pernah menerima bantuan lima sampai sepuluh bola. Namun kebutuhan utama kami adalah pendampingan nyata, termasuk akses penuh untuk mengelola aplikasi SIAP agar hak-hak pemain tetap terlindungi,” katanya.
Menurutnya, administrasi yang tertib menjadi fondasi utama pembinaan sepak bola usia muda. Data digital pemain berkaitan langsung dengan legalitas dan hak mereka untuk mengikuti kompetisi resmi yang diselenggarakan federasi.
Kritik dari Shrimp Army kemudian memicu diskusi yang lebih luas di kalangan pegiat sepak bola Trenggalek. Banyak pihak mempertanyakan alasan hanya sedikit klub yang berhasil mengikuti Piala Soeratin tahun ini, padahal jumlah SSB aktif tersebar hampir di seluruh kecamatan.
Admin Askab Akui Kesalahan Pengelolaan Data
Menanggapi kritik tersebut, Admin Askab PSSI Trenggalek, Bima Wahyu Romadoni, memberikan penjelasan. Ia mengatakan bahwa pada awal penerapan aplikasi SIAP, sebagian besar pengurus SSB belum mampu mengoperasikan sistem secara mandiri. Karena itu, Askab mengambil peran untuk membantu pengelolaan administrasi sejumlah klub.
“Pada masa awal penggunaan aplikasi SIAP, tidak semua klub siap mengelolanya sendiri. Saat itu hanya tiga klub yang benar-benar mampu mengoperasikan aplikasi secara mandiri,” jelas Bima.
Meski demikian, Bima mengakui bahwa dirinya melakukan kesalahan saat ikut mengelola data pemain milik klub.
“Saya mengakui kesalahan sebagai admin kabupaten karena ikut terlibat dalam proses mutasi dan pencabutan status pemain milik klub,” ujar Bima.
Ia memastikan Askab akan membenahi sistem pengelolaan aplikasi SIAP agar persoalan serupa tidak kembali terjadi pada kompetisi mendatang.
“Kami akan memperbaiki tata kelola aplikasi ini. Ke depan, Askab tidak akan lagi mencampuri urusan internal akun masing-masing SSB. Kami akan memberikan kewenangan penuh kepada klub untuk mengelola datanya sendiri,” tegasnya.
Momentum Benahi Ekosistem Sepak Bola Trenggalek
Polemik yang muncul di balik pelaksanaan Piala Soeratin 2026 menjadi pengingat bahwa pembinaan sepak bola usia dini tidak hanya bergantung pada kualitas latihan dan prestasi di lapangan.
Pengelola sepak bola juga harus membangun sistem administrasi yang transparan, pendampingan manajemen klub yang profesional, serta perlindungan data pemain yang jelas. Ketiga aspek tersebut menjadi fondasi penting untuk menciptakan ekosistem sepak bola yang sehat dan berkelanjutan.
Di tengah meningkatnya jumlah SSB di berbagai wilayah Trenggalek, para pegiat sepak bola akar rumput berharap Askab PSSI tidak sekadar menjadikan kompetisi usia muda sebagai agenda tahunan. Mereka ingin federasi menjadikan momentum ini sebagai titik awal untuk memperkuat fondasi pembinaan sepak bola dari level paling bawah.(CIA)
Views: 95

















