Masuk KEN, FJTT 2026 Tak Bisa Sekadar Festival, Kini Wajib Menjaga Identitas Jaranan Trenggalek

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idFestival Jaranan Trenggalek Terbuka (FJTT) 2026 mencatat sejarah baru saat memasuki usia tiga dekade. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memasukkan edisi ke-30 festival ini ke dalam kalender Karisma Event Nusantara (KEN).

Namun, panitia kini menghadapi tantangan lebih besar. Mereka tidak hanya harus menyajikan pertunjukan berkualitas, tetapi juga menggali dan memperkuat identitas asli jaranan Trenggalek.

Koordinator FJTT 2026, Resa Jaya, mengatakan persiapan festival saat ini mencapai 45 persen. Panitia terus mematangkan petunjuk teknis dan aransemen musik sebelum membuka pendaftaran peserta.

“Persiapan kami saat ini sudah mencapai 45 persen. Tim terus bekerja menyempurnakan Juknis dan materi musik,” ujar Resa.

Program Samboja Gali Akar Identitas Jaranan

Panitia tidak hanya mengandalkan panggung kompetisi untuk memperkuat identitas budaya. Mereka lebih dulu menjalankan program Sambang Bolo Jaranan (Samboja).

Tim Samboja menyambangi komunitas-komunitas jaranan di berbagai kecamatan. Mereka mengunjungi Watulimo, Pogalan, Pule, Bendungan, Kampak, Gandusari, hingga Tugu.

Tim tidak sekadar menemui para seniman. Mereka juga menyerap cerita, merekam pengalaman pelaku seni, menginventarisasi artefak, serta menggali pengetahuan dari para sesepuh jaranan.

Panitia kemudian mengolah hasil kunjungan tersebut sebagai bahan riset untuk memetakan ekosistem jaranan Trenggalek.

“Hasil dari program Samboja kemarin membuat persiapan tahun 2026 ini jauh lebih hidup. Kami membuka ruang diskusi luas untuk menampung seluruh aspirasi dan keluh kesah kawan-kawan pekerja seni jaranan,” beber Resa.

Resa menegaskan, panitia tidak akan membiarkan hasil temuan lapangan berhenti sebagai dokumentasi. Mereka akan mengolah data tersebut untuk memperkuat karakter khas jaranan Trenggalek.

FJTT 2026 Hadir Tujuh Malam Penuh Atraksi Budaya

FJTT 2026 akan berlangsung selama tujuh malam, mulai 20 hingga 26 September 2026. Panitia menjadwalkan seluruh pertunjukan berlangsung pada malam hari.

Panitia membuka festival pada 20 September dengan kategori Turonggo Yakso Bocah. Kompetisi usia dini dan remaja berlanjut pada 21 September. Panitia kemudian menggelar final kategori remaja pada 22 September.

Panggung utama akan memanas pada 23 hingga 25 September. Kelompok umum akan menunjukkan kemampuan mereka dalam kategori Turonggo Yakso maupun non-Turonggo Yakso.

Rangkaian perayaan tiga dekade FJTT mencapai puncaknya pada 26 September melalui malam penganugerahan pemenang.

“Nilai pembeda utama pada edisi tahun ini terletak pada penegasan identitas lokal Trenggalek dan kesenian jaranannya,” terang Resa.

Resa berharap jaringan komunitas jaranan di seluruh Trenggalek kelak mampu membangun satu pusat pengembangan seni tradisi yang kuat.

“Gol besar kami adalah menjadikan spektrum komunitas jaranan ini sebagai pusat pertumbuhan budaya,” harapnya.

Masuk KEN, FJTT Naik Kelas

Masuknya FJTT ke dalam KEN mempertegas posisi festival setelah menempuh perjalanan panjang selama 30 tahun. Resa menilai pengakuan tersebut menempatkan FJTT sejajar dengan festival budaya besar lainnya di Jawa Timur.

“Alhamdulillah, mimpi kami menembus Karisma Event Nusantara akhirnya terwujud tahun ini,” ucap Resa.

“Kawan-kawan seniman kini menyatukan semangat. Kita sudah berdiri di ruang ekosistem yang sama dengan Festival Reog Ponorogo maupun Rontek Pacitan,” lanjutnya.

Status tersebut membuka peluang bagi jaranan Trenggalek untuk menjangkau penikmat seni di tingkat nasional hingga internasional.

Namun, reputasi nasional juga membawa konsekuensi. Panitia harus menjaga kualitas festival sekaligus mempertahankan karakter lokal agar modernisasi tidak mengikis identitas jaranan Trenggalek.

30 Tahun FJTT, Regenerasi Muda Jadi Kunci

Perjalanan FJTT selama tiga dekade tidak lepas dari perjuangan para perintis. Sutiono, salah satu tokoh senior yang ikut mengawal kebangkitan festival sejak 1996, mengaku terharu melihat semangat generasi muda Trenggalek.

“Saya sangat bangga melihat adik-adik generasi penerus memiliki komitmen dan niat yang begitu luar biasa untuk merawat jaranan,” puji Sutiono.

Sebagai salah satu perintis perlombaan jaranan pada era 1990-an, Sutiono mengingatkan para senior agar tidak membatasi kreativitas generasi muda.

“Pengalaman para senior jangan sampai membendung semangat kreativitas generasi muda dalam merancang terobosan baru,” pesannya.

Sutiono menekankan, para perintis harus hadir sebagai pengayom. Dengan begitu, generasi muda bisa mengeksplorasi seni jaranan tanpa memicu gesekan antarkelompok.

“Yang paling penting, para pelaku seni tetap mematuhi regulasi pemerintah,” tegasnya.

Anak Muda Makin Bangga Membawa Jaranan

Sutiono melihat perubahan menarik dalam diri generasi muda Trenggalek. Kini, mereka justru menjadikan jaranan sebagai simbol kebanggaan.

“Anak-anak sekolah sekarang tanpa ragu mengendarai sepeda motor sambil mengenakan pakaian jaranan dan membawa barongan. Mereka tidak memiliki rasa malu sedikit pun,” ungkap Sutiono dengan nada bangga.

Menurut Sutiono, fenomena tersebut menunjukkan bahwa jaranan semakin dekat dengan kehidupan generasi muda.

“Tugas para senior dan pemerintah sekarang adalah memfasilitasi dan mengarahkan potensi besar ini,” tutupnya.

Masuknya FJTT dalam jajaran KEN sekaligus peringatan 30 tahun perjalanan festival menjadi momentum penting bagi perkembangan jaranan Trenggalek.

FJTT kini bukan sekadar arena perebutan piala. Festival ini menjadi ruang regenerasi, penguatan identitas, dan upaya menjaga jaranan Trenggalek agar tetap hidup melintasi zaman.(CIA)

Views: 9