TRENGGALEK, bioztv.id – Setelah mengabdikan diri lebih dari empat dekade sebagai aparatur sipil negara (ASN), Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Trenggalek, Edy Soepriyanto, akhirnya memasuki babak baru dalam hidupnya. Bupati Trenggalek menyerahkan langsung Surat Keputusan (SK) pensiun kepada Edy di Pendapa Manggala Praja Nugraha, Kamis (25/6/2026).
Momentum sakral itu bukan sekadar seremoni administratif. Bagi Edy, selembar SK pensiun tersebut menandai berakhirnya perjalanan panjang selama lebih dari 40 tahun mengawal denyut pemerintahan Kabupaten Trenggalek. Di saat yang sama, dokumen itu juga membuka pintu pengabdian baru di tengah masyarakat.
“Alhamdulillah, pagi hari ini saya menerima SK pensiun bersama rekan-rekan yang memasuki masa purna tugas untuk periode Juli, Agustus, dan September. Waktu ini memang sudah garisnya. Sudah saatnya kami menuntaskan mandat ini dan memasuki masa purna tugas,” ujar Edy Soepriyanto dengan penuh syukur.
Meski akan melepaskan jabatan tertinggi birokrasi Trenggalek per 1 Juli 2026, Edy memastikan dirinya tidak akan berhenti berkarya untuk masyarakat. Ia memegang teguh pesan Bupati Trenggalek yang mengingatkannya bahwa pensiun bukan akhir dari pengabdian.
“Pak Bupati sebelumnya berpesan bahwa purna tugas tidak berarti purna pengabdian, juga tidak berarti purna berkarya. Jika selama ini saya menjalankan tugas negara, maka setelah pensiun nanti saya akan tetap mengabdi dan berkarya di tengah masyarakat melalui lingkungan sosial yang baru,” terangnya.
Empat Dekade Mengawal Pembangunan Trenggalek
Edy memulai karier ASN pada tahun 1986. Sejak saat itu, ia terus mengawal berbagai fase penting pembangunan Trenggalek, menyaksikan pergantian kepemimpinan daerah, sekaligus menghadapi dinamika birokrasi yang terus berubah dari masa ke masa.
Pria yang dikenal dekat dengan para pegawai itu mengaku tak menyangka telah menghabiskan lebih dari 40 tahun hidupnya untuk melayani masyarakat melalui jalur birokrasi.
“Saya memulainya sejak tahun 1986 sebagai PNS hingga posisi sekarang, kurang lebih sudah berjalan 40 tahun lebih empat bulan. Sepanjang empat dekade itu, saya tentu mengalami banyak dinamika, romantika, benturan persoalan, hingga tantangan berat yang harus kami selesaikan bersama,” ungkapnya.
Sepanjang kariernya, Edy mendampingi enam kepala daerah yang berbeda. Ia mengawal pemerintahan mulai era Bupati Slamet, Bupati Ernomo, Bupati Harto, Bupati Mulyadi, Bupati Emil Dardak, hingga menutup masa pengabdiannya bersama Bupati Mochamad Nur Arifin.
“Saya menghitung kembali, rupanya saya sudah mendampingi enam bupati yang berbeda. Alhamdulillah, karakter kepemimpinan masing-masing beliau memperkaya pengalaman hidup dan perjalanan pengabdian saya,” kenangnya.
Pilih Merawat Keluarga daripada Masuk Panggung Politik
Saat awak media menanyakan peluang dirinya terjun ke dunia politik setelah pensiun, Edy langsung menepis spekulasi tersebut. Ia mengaku belum memikirkan langkah ke arah politik dan memilih fokus menikmati waktu bersama keluarga.
“Saya belum membayangkan hal itu sama sekali, pikiran saya belum melangkah sejauh itu. Fokus utama saya saat ini adalah bagaimana menikmati masa pensiun yang damai bersama anak-anak dan cucu-cucu,” ujarnya sambil tersenyum.
Edy bahkan telah menyiapkan rencana sederhana namun penuh makna. Ia ingin meluangkan lebih banyak waktu untuk mendampingi ayahnya yang kini berusia 88 tahun.
“Saya masih memiliki bapak yang sekarang berusia 88 tahun. Nanti kami akan sama-sama menjadi pensiunan, sama-sama saling merawat, dan saling menguatkan satu sama lain,” tuturnya haru.
Kebersamaan Jadi Fondasi Kekuatan Birokrasi
Ketika menengok kembali perjalanan panjangnya sebagai Sekda, Edy mengaku satu hal paling membekas dalam ingatannya bukanlah proyek pembangunan ataupun jabatan yang pernah ia emban. Ia justru paling mengingat kebersamaan dan kekompakan yang berhasil ia bangun bersama seluruh perangkat daerah.
Menurut Edy, soliditas birokrasi menjadi modal utama untuk menggerakkan roda pemerintahan secara efektif.
“Hal yang paling membekas di hati saya adalah keberhasilan kami meleburkan ego menjadi satu kesatuan bersama seluruh kepala perangkat daerah. Ikatan emosional itulah yang kemudian menjelma menjadi kekuatan kolektif yang luar biasa,” tuturnya.
Selama memimpin birokrasi Trenggalek, Edy sengaja membangun komunikasi yang cair dengan seluruh jajaran pegawai. Ia memilih mendekatkan diri kepada staf daripada menciptakan jarak melalui sekat jabatan.
“Saya sengaja tidak menjaga jarak dengan staf. Saya tidak pernah mengumbar amarah di depan umum, juga tidak pernah menuntut hal yang macam-macam. Prinsip yang saya tanamkan adalah rasa kebersamaan, karena kami semua menghuni satu rumah besar yang sama,” tegasnya.
Menurut Edy, budaya kerja yang mengedepankan dialog terbuka dan semangat kekeluargaan menjadi resep utama yang menjaga birokrasi Trenggalek tetap kokoh menghadapi berbagai tantangan daerah.
Kini, setelah menuntaskan pengabdian lebih dari empat dekade, Edy Soepriyanto bersiap meninggalkan ruang kerjanya di lingkungan Pemkab Trenggalek. Namun, ia meninggalkan satu pesan sederhana yang sarat makna: seseorang tidak harus duduk di balik meja birokrasi untuk terus mengabdi kepada masyarakat.
“Purna tugas hanyalah penanda berakhirnya sebuah jabatan administratif. Namun, api semangat untuk terus mengabdi dan berkarya bagi sesama harus tetap menyala di dalam dada,” pungkas Edy.
Empat puluh tahun lebih mengabdi telah mengantarkan Edy Soepriyanto melewati berbagai zaman, enam kepemimpinan bupati, dan beragam tantangan birokrasi. Kini ia menutup lembar pengabdiannya sebagai Sekda Trenggalek, tetapi ia membuka lembar baru sebagai warga yang tetap ingin memberi manfaat bagi sesama. Di balik berakhirnya jabatan itu, semangat pengabdian yang ia rawat selama puluhan tahun tampaknya masih akan terus menyala.(CIA)
Views: 17
















