TRENGGALEK, bioztv.id – Denyut ekonomi musiman mulai terasa di pelosok Kabupaten Trenggalek menjelang Hari Raya Iduladha 2026. Selain pedagang hewan kurban, para pengrajin tusuk sate kini menikmati lonjakan pesanan yang signifikan.
Di Desa Pogalan, Kecamatan Pogalan, suara mesin pemotong bambu terus meraung dari pagi hingga sore. Meningkatnya tradisi bakar sate massal saat momen kurban mendorong permintaan tusuk sate melonjak tajam.
Herno Nurmanto mengungkapkan bahwa volume produksinya meningkat hampir dua kali lipat dibanding hari biasa. Jika biasanya ia hanya memproduksi 3 hingga 4 kuintal, kini produksinya mencapai 7 kuintal per hari.
“Menjelang Iduladha ini permintaan meledak, Mas. Sekitar 7 kuintal tusuk sate habis terjual setiap harinya,” ujar Herno saat memantau proses produksi, Jumat (15/5/2026).
Lonjakan pesanan tersebut membuat Herno bersama enam pekerjanya harus bekerja ekstra keras. Karena permintaan terus membeludak, ia bahkan membatasi pembeli baru dan lebih memprioritaskan pelanggan lama agar distribusi tetap lancar.
Tradisi Bakar Sate Dongkrak Ekonomi Desa
Tradisi memasak daging kurban bersama keluarga saat Iduladha membawa berkah tahunan bagi para pengrajin tusuk sate di pedesaan. Meski permintaan meningkat drastis, Herno memastikan stok bahan baku bambu masih aman.
Melimpahnya pasokan bambu dari kawasan pegunungan Trenggalek menjadi keuntungan tersendiri bagi para pengrajin. Herno rutin mendatangkan bambu dari wilayah Dongko, Kampak, Munjungan, hingga Sendang di Kabupaten Tulungagung untuk menjaga stabilitas produksi.
“Hampir semua jenis bambu bisa kita gunakan, tapi hasil paling bagus berasal dari jenis bambu petung dan bambu ori,” ungkapnya.
Produk Pogalan Tembus Pasar Jawa Tengah
Usaha rumahan milik Herno ternyata tidak hanya memenuhi pasar lokal Trenggalek. Ia juga mengirim produk tusuk sate ke Tulungagung, Kediri, Nganjuk, hingga sejumlah wilayah di Jawa Tengah melalui jasa ekspedisi.
Di balik bentuknya yang sederhana, Herno menjelaskan bahwa proses produksi tusuk sate cukup panjang. Para pekerja harus melewati tahapan pemotongan bambu gelondongan, pencetakan awal menggunakan mesin, pengiratan atau penipisan, hingga penghalusan.
“Setelah semua terpotong sesuai ukuran, kami memasukkannya ke mesin poles agar hasilnya halus dan tidak melukai tangan saat digunakan,” jelas Herno.
Lonjakan permintaan tusuk sate ini menunjukkan bagaimana tradisi Iduladha mampu menggerakkan ekonomi mikro di pedesaan. Dari bambu yang tumbuh di lereng pegunungan, tangan-tangan terampil warga Pogalan berhasil menghasilkan produk sederhana yang dicari masyarakat saat hari raya kurban tiba.(CIA)
Views: 6
















