TRENGGALEK, bioztv.id – Kabar baik datang dari sektor kesehatan Kabupaten Trenggalek. Grafik kasus demam berdarah dengue (DBD) di Bumi Menak Sopal terus menurun sepanjang semester pertama 2026. Hingga akhir Juni, Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Trenggalek mencatat hanya 54 kasus DBD. Jumlah tersebut turun sangat drastis dibanding puncak wabah pada 2024 yang mencapai 1.070 kasus.
Meski tren kasus terus melandai, Dinkes PPKB Trenggalek mengingatkan masyarakat agar tidak lengah menghadapi ancaman nyamuk pembawa virus dengue. Pengalaman beberapa tahun terakhir menunjukkan penyakit ini memiliki siklus tahunan yang sewaktu-waktu dapat kembali meningkat apabila masyarakat mengabaikan upaya pencegahan.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg. Andiek Muarifin, mengatakan grafik penurunan kasus tahun ini jauh lebih baik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Alhamdulillah, jika kita melihat kondisi penyakit DBD di Kabupaten Trenggalek, data kumulatif Januari sampai Juni 2026 hanya mencatat 54 penderita. Trennya memang menunjukkan penurunan yang sangat signifikan,” ungkap Andiek Muarifin.
Kasus Turun dari 1.070 Menjadi Puluhan
Catatan tim epidemiologi Dinkes menunjukkan angka penularan DBD terus berfluktuasi dalam empat tahun terakhir. Pada 2023, petugas mencatat 129 kasus. Setahun kemudian, jumlah kasus melonjak tajam hingga mencapai 1.070 penderita dan memicu status siaga.
Memasuki 2025, Dinkes berhasil menekan jumlah kasus menjadi 539. Tren positif itu berlanjut pada semester pertama 2026 dengan hanya 54 kasus.
Menurut Andiek, pola tersebut sejalan dengan karakteristik penyebaran DBD yang umumnya mengalami siklus lonjakan setiap tiga hingga lima tahun.
“Tren penularan mulai melandai pada tahun 2025 dengan 539 kasus, kemudian kembali turun drastis menjadi puluhan kasus pada pertengahan tahun ini,” jelasnya.
Musim Kemarau Ikut Menekan Populasi Nyamuk
Dinkes menilai musim kemarau menjadi salah satu faktor yang membantu menekan penyebaran DBD. Berkurangnya curah hujan membuat genangan air semakin sedikit sehingga nyamuk Aedes aegypti kehilangan banyak tempat berkembang biak.
Selain itu, fenomena suhu dingin atau bediding yang sering terjadi pada malam hingga pagi hari turut menghambat siklus hidup dan reproduksi nyamuk.
Namun, Andiek menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak berarti Trenggalek bebas dari ancaman DBD. Kawasan padat penduduk tetap menjadi wilayah dengan risiko penularan tertinggi.
“Kalau melihat riwayat wabah sebelumnya, lonjakan kasus DBD biasanya berpusat di kawasan perkotaan yang padat penduduk, terutama Kecamatan Trenggalek dan sekitarnya,” katanya.
Ia juga mengingatkan masyarakat di wilayah pegunungan agar tetap waspada. Tempurung kelapa penampung getah pinus maupun wadah terbuka lain di area perkebunan masih bisa menampung air hujan dan menjadi tempat berkembang biaknya jentik nyamuk.
Dinkes Gencarkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik
Untuk mempertahankan tren penurunan kasus, Dinkes terus menggencarkan Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (Juru Pemantau Jentik). Melalui program tersebut, setiap keluarga diminta menunjuk sedikitnya satu anggota rumah sebagai pemantau jentik di lingkungan rumah masing-masing.
“Masyarakat jangan sampai terlena. Kewaspadaan harus dimulai dari rumah sendiri. Setiap rumah harus memiliki satu orang jumantik, bisa ayah, ibu, maupun anak, yang rutin memeriksa bak mandi dan saluran air sedikitnya seminggu sekali,” tegas Andiek.
Selain itu, Dinkes juga mengajak masyarakat rutin menjalankan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus, yakni menguras tempat penampungan air, menutup rapat wadah air, mendaur ulang atau mengubur barang bekas, serta menyingkirkan benda-benda yang berpotensi menampung air hujan.
Andiek menilai kebiasaan melakukan PSN jauh lebih efektif dibanding hanya mengandalkan fogging. Pengasapan hanya membunuh nyamuk dewasa, sedangkan PSN memutus siklus hidup nyamuk sejak fase telur dan jentik.
Dengan tren yang terus membaik, Dinkes berharap Trenggalek mampu mempertahankan rendahnya angka kasus DBD hingga akhir tahun. Namun, keberhasilan itu sangat bergantung pada kedisiplinan masyarakat menjaga kebersihan lingkungan dan rutin memberantas sarang nyamuk.(CIA)
Views: 4

















