TRENGGALEK, bioztv.id – Potensi ekonomi kreatif para penyandang disabilitas di Kabupaten Trenggalek kini mendapat perhatian serius. Pada Senin (23/6/2025), Fatma Saifullah Yusuf, Penasihat I Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos) RI, turun langsung meninjau Kampung Inklusi di Desa Prambon, Kecamatan Tugu. Dalam kunjungannya, Fatma menyerahkan bantuan kewirausahaan kepada puluhan difabel yang selama ini kerap luput dari perhatian.
Sebanyak 22 penyandang disabilitas di Kampung Inklusi menerima bantuan kewirausahaan senilai Rp 3 juta per orang, dengan total anggaran mencapai Rp 66 juta. Kemensos menyesuaikan bantuan ini dengan jenis usaha dan profesi yang para disabilitas jalani, mulai dari alat jahit hingga perlengkapan ojek online.
“Kami melihat langsung banyak sahabat-sahabat kita yang memiliki keterbatasan, tetapi potensi mereka sangat luar biasa,” ungkap Fatma Saifullah Yusuf di lokasi.
Fatma mencontohkan Slamet, seorang tunadaksa setempat yang mampu membuat konten media sosial dan berpeluang besar menjadi pelaku ekonomi kreatif dengan penghasilan menjanjikan.
Kemensos, lanjut Fatma, ingin memastikan bantuan yang diberikan benar-benar tepat guna. Oleh karena itu, sarana prasarana yang diserahkan berupa alat-alat yang menunjang pekerjaan mereka.
“Tadi kami membantu alat jahit, ada helm dan HP untuk ojek online. Ini merupakan bentuk sinergi Kemensos bersama pemerintah daerah untuk menggali potensi kampung inklusi,” imbuhnya.
Sementara itu, Novita Hardini, Ketua TP PKK Kabupaten Trenggalek yang juga Anggota Komisi VII DPR RI, menyebut langkah ini sebagai wujud konkret kehadiran negara bagi kelompok rentan yang selama ini kerap terpinggirkan.
“Mungkin ini tidak bisa menyelesaikan semua masalah, tetapi paling tidak, ini menjadi sinyal bahwa pemerintah hadir dan masyarakat bisa merasakannya,” ujar Novita.
Menurutnya, sudah saatnya mengangkat isu difabel dan kelompok rentan ke ruang publik agar mendapat perhatian lebih luas. Selain sebagai legislator, Novita mengaku berkewajiban melakukan pengawasan, advokasi, dan pendampingan bagi penyandang disabilitas serta kelompok marginal lainnya.
“Saya berterima kasih kepada Kemensos. Bantuan yang diberikan untuk Trenggalek ini nilainya cukup besar dan patut menjadi kebanggaan bersama,” tegasnya.
Di sisi lain, Tariyaningsih, pendiri Yayasan Naeema, berharap program seperti ini tidak berhenti pada penyerahan bantuan saja. Menurutnya, penyandang disabilitas membutuhkan pendampingan jangka panjang agar mereka bisa benar-benar mandiri secara ekonomi.
“Kami senang sekali menerima bantuan ini. Tetapi ke depan, kami ingin tetap diadvokasi, didampingi, sampai teman-teman difabel benar-benar merdeka secara ekonomi,” tandas Tariyaningsih.(CIA)
Views: 37

















