TRENGGALEK, bioztv.id – Dinas Pertanian dan Pangan (Dispertan) Kabupaten Trenggalek mencatat penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 80,84 persen hingga 21 September 2026.
Pada saat yang sama, pemerintah mengubah mekanisme penebusan pupuk bersubsidi bagi petani. Kini, petani menebus pupuk secara bertahap mengikuti jadwal musim tanam.
Analis Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) Dispertapan Trenggalek, Sadriyati, membenarkan capaian realisasi tersebut.
“Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Trenggalek rata-rata sudah menyentuh 80,84 persen per hari ini,” ujar Sadriyati.
Sadriyati mengatakan tambahan kuota pupuk NPK pada September ikut meningkatkan persentase penyerapan secara keseluruhan.
Pemerintah Ubah Aturan Penebusan Pupuk Subsidi Per Musim Tanam
Perubahan utama pada Semester II 2026 menyangkut tata cara penebusan pupuk di tingkat pengecer. Petani kini harus menebus pupuk bersubsidi secara bertahap sesuai jadwal Musim Tanam (MT).
Mekanisme tersebut menggantikan aturan yang berlaku pada Januari hingga Agustus 2026. Saat itu, petani masih dapat mengambil seluruh alokasi pupuk tahunannya dalam satu transaksi.
“Pengambil kebijakan kini membatasi pola penebusan pupuk hanya boleh per musim tanam,” tegas Sadriyati.
Meski mekanisme berubah, Sadriyati memastikan petani tetap memperoleh hak alokasi sesuai ketentuan. Luas lahan garapan tetap menjadi acuan dalam menentukan jumlah pupuk yang diterima.
“Hak alokasi masing-masing petani tetap utuh sesuai luasan lahan yang mereka garap,” tambahnya.
Tambahan Kuota NPK 1.030 Ton Perkuat Alokasi Daerah
Kabupaten Trenggalek sebelumnya memperoleh alokasi awal pupuk NPK sebanyak 12.994 ton. Pemerintah pusat kemudian menambahkan 1.030 ton pada September 2026.
Tambahan tersebut membuat total alokasi NPK Trenggalek mencapai 14.024 ton. Dispertan mengalokasikan pupuk bersubsidi itu untuk memenuhi kebutuhan 85.585 petani terdaftar selama setahun.
“Pemerintah menambahkan kuota 1.030 ton NPK di bulan September, sehingga total alokasi NPK kita naik menjadi 14.024 ton,” terang Sadriyati.
Hingga pertengahan September, setiap jenis pupuk menunjukkan tingkat penyerapan berbeda. Penyerapan NPK mencapai 78 persen, NPK Formula 80 persen, pupuk organik 70 persen, dan pupuk ZA 72 persen.
Dispertan Susun e-RDKK 2027 dan Perbarui Data Ahli Waris
Di tengah penyaluran pupuk tahun berjalan, Dispertan Trenggalek mulai menyusun kebutuhan pupuk subsidi untuk 2027.
Kelompok Tani (Poktan) dan Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) menyusun Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) mulai 22 September hingga 25 Oktober 2026.
Petugas penyuluh kemudian mengunggah data RDKK ke dalam sistem e-RDKK secara berjenjang.
“Poktan mulai menyusun perencanaan kebutuhan pupuk lewat Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok Tani,” kata Sadriyati.
Petugas juga memvalidasi data penerima yang telah meninggal dunia dalam proses pemutakhiran e-RDKK. Sistem kemudian mengalihkan hak alokasi pupuk kepada ahli waris yang melanjutkan pengolahan lahan.
“Keterbatasan sistem membuat kita hanya bisa menambah atau memperbarui data penerima via ahli waris, tanpa bisa menghapus identitas,” jelasnya.
Dispertan melakukan pemutakhiran tersebut saat mayoritas petani Trenggalek mulai menggarap lahan pada Musim Tanam III (MT III).
Penyerapan Trenggalek Lampaui Rata-rata Jawa Timur
Realisasi penyaluran pupuk bersubsidi di Jawa Timur mencapai 1.619.830 ton atau sekitar 74 persen dari alokasi 2.182.522 ton hingga 18 September 2026.
Pada periode tersebut, capaian Trenggalek berada di atas rata-rata provinsi.
Di tingkat nasional, PT Pupuk Indonesia (Persero) mencatat penyaluran pupuk bersubsidi mencapai 6.685.509 ton atau 68 persen dari alokasi nasional 2026 sebesar 9,8 juta ton.
VP Komunikasi Korporat PT Pupuk Indonesia, Cindy Systiarani, menyampaikan capaian tersebut.
“Pupuk Indonesia telah menyalurkan 6.685.509 ton atau 68 persen dari total alokasi nasional tahun 2026,” sebut Cindy Systiarani.
Dari total alokasi nasional, pemerintah mengalokasikan 9,55 juta ton untuk sektor pertanian. Sementara 295.676 ton lainnya menopang sektor budi daya ikan.
Pupuk Indonesia menjaga pasokan melalui kapasitas produksi tahunan mencapai 14,8 juta ton. Per 20 September 2026, perusahaan juga mencatat stok cadangan 1,7 juta ton.
Stok tersebut terdiri atas 1,30 juta ton pupuk bersubsidi dan 454.492 ton pupuk nonsubsidi. Pemerintah dan perusahaan menjaga ketersediaan tersebut untuk mendukung kebutuhan pertanian dan ketahanan pangan.(CIA)
Views: 4
















