TRENGGALEK, bioztv.id — Layanan ambulans kemanusiaan Siaga Lingkungan (Si-Galing) terus memperluas jangkauan pelayanan di Kabupaten Trenggalek. Berawal dari kepedulian pribadi dan modal sendiri, gerakan sosial ini kini mengoperasikan tiga kendaraan medis untuk membantu warga yang membutuhkan.
Inisiator Si-Galing mendapat tambahan armada setelah Anggota DPR RI Daerah Pemilihan Jawa Timur VII, Novita Hardini, menyerahkan hibah satu unit ambulans untuk mendukung operasional lapangan.
Bagi pendiri Si-Galing, Sugeng Kuncahyo atau Cak Kun, tambahan armada itu bukan sekadar memperbanyak kendaraan. Hibah tersebut juga memperkuat semangat gerakan sosial yang selama ini mengandalkan prinsip swadaya.
Rintis Gerakan Pakai Uang Pribadi, Armada Kian Solid
Cak Kun mengatakan Si-Galing kini menyiagakan tiga unit armada operasional. Dua unit melayani pengantaran pasien, sedangkan satu unit khusus mengangkut jenazah.
“Si-Galing hingga hari ini mengoperasikan tiga unit armada. Unit pertama mobil operasional lama, kemudian satu unit mobil jenazah hibah dari hamba Allah asal Surabaya,” ungkap Cak Kun.
Perjalanan Si-Galing sempat menghadapi kendala ketika salah satu ambulans mengalami kerusakan parah. Demi menjaga layanan gratis tetap berjalan, Cak Kun kembali menggunakan uang pribadi untuk membeli mobil pengganti.
Kini, hibah armada dari Novita Hardini semakin memperkuat layanan Si-Galing. Dua ambulans pasien siap memperluas jangkauan pertolongan bagi warga Trenggalek hingga luar daerah.
Perkembangan tersebut menunjukkan bagaimana inisiatif pribadi dapat menggerakkan pelayanan publik berbasis masyarakat. Tanpa menetapkan tarif, Si-Galing bertahan melalui gotong royong dan dukungan berbagai pihak.
Bantah Stigma Ambulans ‘Karatan’,
Cak Kun sekaligus menepis stigma yang pernah menyudutkan armada Si-Galing. Sebagian pihak menilai mobil operasional mereka sudah tua dan tidak layak jalan.
Namun, armada hibah terbaru justru menunjukkan kondisi berbeda.
Mobil tersebut membawa sejumlah fasilitas medis. Di dalamnya terdapat dua tabung oksigen berkapasitas besar, inverter listrik, wastafel cuci tangan, serta berbagai peralatan medis darurat.
“Selama ini ada pihak yang memberi label miring bahwa ambulans Si-Galing itu kendaraan karatan atau jelek. Faktanya, seluruh armada kami sangat layak dan siap beroperasi,” tegas Cak Kun.
Dua tabung oksigen juga membuat armada Si-Galing lebih siap melayani perjalanan luar kota.
Cak Kun memperkirakan pasokan oksigen di dalam mobil mampu memenuhi kebutuhan pernapasan pasien hingga delapan jam. Dengan kemampuan tersebut, tim siap menempuh rute jauh seperti Trenggalek-Jakarta.
Bebaskan Tarif, Hanya Terima Bantuan Sukarela
Si-Galing membedakan layanan mereka dari ambulans komersial melalui skema pembiayaan. Cak Kun tidak menetapkan tarif kepada warga yang menggunakan ambulans.
Warga yang memiliki kemampuan finansial dapat memberikan sumbangan sukarela untuk membantu biaya bahan bakar dan operasional.
“Layanan Si-Galing tidak pernah menetapkan tarif rupiah. Jika warga ingin menyisihkan rezeki untuk biaya operasional, kami persilakan membantu seikhlasnya,” tuturnya.
Skema tersebut memberi pilihan bagi keluarga kurang mampu yang kesulitan membayar transportasi medis.
Jika keluarga pasien benar-benar tidak mampu, tim Si-Galing juga mencari donatur agar pasien tetap bisa memperoleh pengobatan.
Minim Personel Bukan Alasan Berhenti
Keterbatasan pengemudi dan relawan tidak menghentikan Si-Galing melayani pasien hingga luar daerah.
Cak Kun mengatakan operasional harian Si-Galing saat ini mengandalkan dua pengemudi aktif. Mereka terdiri dari dirinya sendiri dan seorang relawan anak yatim yang ia bina.
Meski personel terbatas, tim Si-Galing sudah berulang kali mengantar pasien ke Jakarta, Surabaya, Solo, hingga Malang.
“Tim kami sudah sangat sering mengantar pasien ke Jakarta, Surabaya, Solo, dan berbagai kota lain. Untuk rute ke Malang, frekuensinya sudah tidak terhitung,” cerita Cak Kun.
Si-Galing Dampingi Pasien Kritis
Si-Galing memprioritaskan layanan bagi masyarakat menengah ke bawah, terutama pasien yang membutuhkan transportasi untuk menjalani pengobatan rutin.
Cak Kun mencatat sejumlah pasien yang kini mendapat pendampingan Si-Galing.
Salah satunya Fandi, warga Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan. Ia mengalami luka bakar parah akibat sengatan listrik bertegangan tinggi dan membutuhkan rujukan medis lanjutan.
Tim juga mendampingi Sukadi, warga Kelurahan Sumbergedong, Kecamatan Trenggalek, selama menjalani pemulihan medis.
Baru-baru ini, Si-Galing menangani pasien atasnama Murjani, warga Desa Jatiprahu, Kecamatan Karangan, yang mengalami infeksi berat pada bagian wajah. Tim mengawal warga tersebut menjalani pemeriksaan di rumah sakit rujukan.
Bertambahnya armada tentu membuat Si-Galing harus meningkatkan kapasitas pelayanan. Namun, Cak Kun masih menghadapi tantangan utama, yakni menjaga layanan tetap gratis tanpa membebani pasien.
Di sinilah gotong royong warga memegang peran penting. Ambulans memang menjadi sarana utama pelayanan. Namun, operasionalnya membutuhkan bahan bakar, perawatan kendaraan, honor pengemudi, hingga pengisian ulang tabung oksigen.
Satu ambulans hibah dari Novita Hardini tidak hanya menambah jumlah kendaraan. Armada itu juga memperpanjang napas gerakan kemanusiaan yang lahir dari kepedulian warga Trenggalek.
“Kami berdoa agar Si-Galing terus menebar manfaat bagi masyarakat luas. Selama kami mampu, kami akan terus hadir membantu warga,” pungkas Cak Kun.
Perjalanan dari satu mobil pribadi hingga tiga armada menunjukkan bahwa gerakan kemanusiaan tidak selalu membutuhkan lembaga besar untuk memulai perubahan. Kepedulian satu orang yang konsisten bergerak mampu tumbuh menjadi layanan sosial yang memberi manfaat bagi banyak warga.(CIA)
Views: 3
















