Waspada! Gejala DBD di Trenggalek Kini Tak Lagi Munculkan Bintik Merah, Kenali Tanda Terbarunya

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.idMasyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD). Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Diskesdalduk KB) Kabupaten Trenggalek mengingatkan bahwa pola gejala DBD kini semakin sulit dikenali karena penyakit ini tidak selalu memunculkan bintik merah pada kulit.

Perubahan pola klinis tersebut menyulitkan tenaga medis dan orang tua dalam mendeteksi DBD sejak dini. Banyak penderita datang terlambat ke fasilitas kesehatan karena mengira demam yang mereka alami hanya infeksi ringan biasa.

Gejala Menipu, Serangan Datang Diam-Diam

Kepala Diskesdalduk KB Trenggalek, dr. Sunarto, menjelaskan bahwa DBD saat ini sering menyerang tanpa gejala khas. Banyak pasien datang ke fasilitas kesehatan tanpa tanda perdarahan luar.

“Sekarang DBD sering tidak disertai bintik merah. Demamnya pun tidak khas, bahkan menyerupai batuk pilek atau infeksi biasa. Kondisi ini membuat masyarakat tidak menyadari bahwa virus dengue sudah menyerang tubuh,” jelas dr. Sunarto.

Meski pasien tampak stabil secara fisik, dr. Sunarto menegaskan bahwa trombosit dalam tubuh bisa menurun drastis, sementara hematokrit justru meningkat tajam.

“Pasien bisa terlihat baik-baik saja saat datang berobat, tetapi kondisinya bisa merosot tajam hanya dalam hitungan jam hingga masuk fase syok. Situasi inilah yang paling mematikan,” tegasnya.

Optimalkan Tes NS1 untuk Deteksi Dini

Untuk menghadapi kamuflase gejala DBD, Diskesdalduk KB Trenggalek mengoptimalkan pemeriksaan laboratorium NS1 di seluruh puskesmas. Pemeriksaan ini mampu mendeteksi virus dengue sejak hari pertama demam.

“Kami tidak menunggu munculnya bintik merah. Tes NS1 membantu kami mengetahui keberadaan virus lebih cepat, meskipun gejalanya menyerupai infeksi ringan,” imbuh dr. Sunarto.

3 Hari Demam Jangan Tunggu Perdarahan

Pihak dinas kesehatan mengimbau para orang tua agar tidak menunda pemeriksaan medis ketika anak mengalami demam. dr. Sunarto meminta orang tua segera memeriksakan anak ke puskesmas jika demam tidak turun setelah dua hingga tiga hari.

“Jangan menunggu sampai anak mimisan atau gusi berdarah. Justru pemeriksaan sejak fase awal demam menjadi kunci utama untuk menyelamatkan nyawa pasien,” ujarnya.

Data 2025: Kasus Menurun, Risiko Kematian Masih Ada

Sepanjang tahun 2025, Trenggalek mencatat 537 kasus DBD, angka ini turun signifikan dibandingkan 2024 yang mencapai 1.070 kasus pada puncak siklus lima tahunan.

Rincian kasus DBD selama 2025:

  • Puncak Kasus: Januari (259 kasus)
  • Kasus Terendah: November (5 kasus) dan Desember (9 kasus)
  • Wilayah Tertinggi: Kecamatan Bendungan (50 kasus) dan Kecamatan Trenggalek (48 kasus)

Meski tren kasus menurun, dr. Sunarto menyayangkan dua kasus kematian anak yang terjadi di wilayah kerja Puskesmas Trenggalek dan Karangan. Keterlambatan penanganan serta syok akibat infeksi dengue sekunder menjadi faktor utama penyebab kematian tersebut.

Pesan Penting untuk Warga

Di tengah kondisi cuaca yang mendukung perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, dr. Sunarto menegaskan agar masyarakat tidak meremehkan demam sekecil apa pun.

Dengan tersedianya layanan tes NS1 di seluruh puskesmas Trenggalek, masyarakat kini lebih mudah melakukan deteksi dini. Kesadaran orang tua untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan tanpa menunggu gejala berat menjadi kunci utama menekan angka kematian akibat DBD di Kabupaten Trenggalek.(CIA)

Views: 47