TRENGGALEK, bioztv.id – Serangan wereng coklat di Kabupaten Trenggalek kini memasuki fase mengkhawatirkan. Hama yang dikenal lihai bermigrasi ini mulai memangkas produktivitas padi petani hingga setengah ton per hektare. Kondisi ini memaksa petani mengambil keputusan strategis: tetap menanam padi atau beralih ke tanaman palawija.
Plt Kepala Dinas Pertanian Trenggalek, Imam Nurhadi, mengungkapkan pola tanam akan sangat bergantung pada indeks pertanaman (IP) lahan.
“Kalau lahan IP-nya tiga, petani harus tanam padi lagi. Tapi kalau IP-nya dua, rata-rata akan ganti ke palawija. Namun, iklim saat ini membuat sebagian besar petani masih yakin menanam padi,” jelas Imam.
Meskipun optimis, Imam menegaskan bahwa pengendalian wereng mutlak harus dilakukan. Ia mengingatkan petani agar rajin memantau kondisi sawah, membuka rumpun padi, dan tidak terlena oleh pertumbuhan tanaman yang terlihat baik di awal.
“Wereng coklat itu bermigrasi. Begitu ada lahan yang panen, mereka terbang ke sawah yang masih hijau. Kenakalannya ada di situ,” tegasnya.
Produktivitas Turun, Petani Ragu Tanam Padi di MT3
Data Dinas Pertanian mencatat, produktivitas padi di musim tanam (MT) kedua turun menjadi rata-rata 5–6 ton per hektare akibat serangan wereng. Sebelum ada serangan, hasil panen bisa mencapai 6,5–7 ton per hektare. Penurunan ini membuat sebagian petani ragu melanjutkan padi di musim tanam ketiga (MT3) yang dianggap rawan karena masuk periode kemarau.
“Kalau orang Jawa menyebut MT3 itu ‘masa konyol’, karena sangat bergantung pada irigasi teknis. Tapi bagi yang berani dan punya pasokan air, peluang tetap ada,” imbuh Imam.
Selain wereng, petani juga harus mewaspadai serangan penyakit lain seperti jamur yang kerap muncul saat kondisi tanaman melemah. Strategi pengendalian terpadu dan keputusan tanam yang tepat menjadi kunci mempertahankan hasil panen di tengah gempuran hama.(CIA)
Views: 69

















