Terpukul Defisit Belanja BBM, PT JET Bertahan Lewat Gotong Royong dan Harapan Baru dari DPRD

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Dibalik sorotan pengelolaan SPBU milik pemerintah daerah Trenggalek, ada kisah sunyi tentang semangat bertahan dan saling dukung. PT Jwalita Energi Trenggalek (JET), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) yang mengelola SPBU Perseroda, sedang bergelut menutup defisit anggaran belanja BBM sekitar Rp 300 jutaan. Namun alih-alih menyerah, perusahaan ini memilih jalan gotong royong.

Direktur PT JET, Mardianto Harahap  mengungkapkan, jika selama ini PT JET mengalami defisit sekitar Rp 300 juta untuk belanja BBM. Untuk menutup itu, langkah pertama perusahaan lakukan gotong royong.

“Karyawan punya perhatian besar terhadap perusahaan, karena kalau tidak ada BBM, mereka tidak bisa berjualan. Jadi mereka urunan, saling bantu,” tutur Mardianto.

Tak berhenti di situ, PT JET juga mencari jalan lain agar tetap bisa menyalurkan bahan bakar ke masyarakat. Mardianto menyebut, pihaknya menjalin kerja sama dengan para mitra melalui skema sharing profit.

“Kami ajak beberapa investor yang mau bantu, misal mereka punya modal, kami kelola untuk belanja BBM, nanti bagi hasil,” jelasnya.

Namun kenyataan tak bisa disembunyikan. Dengan modal dasar Rp 35 miliar, PT JET saat ini baru mendapatkan Rp 11 miliar dari Pemkab Trenggalek. Modal tersebut terdiri dari Rp 10 miliar dalam bentuk aset dan Rp 1 miliar dalam bentuk tunai. Jumlah itu setara dengan 34 persen saham, sedangkan idealnya, porsi saham pemerintah adalah minimal 51 persen.

Pada awal pengelolaan, alokasi belanja BBM dari Pemkab hanya Rp 648 juta. Ketika harga BBM naik sejak semester dua tahun 2024, angka itu sudah tak cukup lagi. Belanja BBM meningkat menjadi sekitar Rp 900 juta sampai Rp 1 miliar hanya untuk menebus barang.

“Padahal, BBM ini harus dibeli dulu ketika tersedia. Tapi penjualannya tidak langsung habis. Ada yang masih di tangki, ada yang sedang dipesan dari Pertamina. Di sinilah kami kekurangan modal,” kata Mardianto.

Di sisi lain, Mardianto tak menampik bahwa masalah bukan cuma soal modal. Mesin-mesin SPBU yang digunakan PT JET kini telah berusia lebih dari dua dekade. Sparepart-nya langka, performanya menurun, dan dampaknya nyata. Kerugian akibat losses pada dispenser yang sudah melewati batas ideal usia pakai ini bisa mencapai 300 Juta hingga setengah miliar rupiah setiap tahun.

“Kami perkirakan kerugiannya sekitar Rp 300–500 juta per tahun,” ujanya.

Mesin dispenser atau pompa BBM SPBU yang dikelola PT JET ini usianya sudah mencapai 21–22 tahun, Sedangkan idealnya maksimal setelah 20 tahun harus ganti baru. Saat mesin sudah melewati batas ideal usia pakai, maka katup-katup ada yang tidak menutup sempurna, dan itu menyebabkan kebocoran.

“Kalau kita bisa peremajaan, potensi kerugian bisa ditekan, dan itu akan kembali ke pendapatan daerah.” jelas Mardianto.

Untuk itu, PT JET telah mengajukan tambahan penyertaan modal ke Pemkab Trenggalek senilai Rp 1,6 miliar. Dana tersebut rencananya digunakan untuk peremajaan mesin dan penambahan modal kerja agar BBM tetap bisa dibeli secara berkelanjutan. Sayangnya, pengajuan itu sempat tertunda karena berakhirnya masa jabatan DPRD periode sebelumnya.

“Pemkab sebenarnya sudah menyetujui secara internal. Bahkan dalam rapat umum pemegang saham sudah disepakati dan dituangkan dalam berita acara notaris,” ujar Mardianto.

Ia berharap, di tahun anggaran 2025 ini, pembahasan penyertaan modal bisa segera tuntas. Sebab, jika tidak, defisit dan kerugian yang terus berulang akan menjadi beban, bukan hanya bagi perusahaan, tapi juga bagi daerah.

“Penyertaan modal tinggal menunggu persetujuan DPRD agar raperda segera di bahas dan disahkan,” pungkasnya.(CIA)

Views: 2