SIGI, SULAWESI TENGAH, bioztv.id – Stunting, momok yang menghantui masa depan anak-anak di Desa Kalukutinggu, Sulawesi Tengah. Di tengah angka 40% balita terhambat pertumbuhannya, seberkas harapan hadir dari tangan-tangan muda mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta.
Masalah stunting pada anak di Desa Kalukutinggu, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah, menjadi sorotan dalam proyek independen yang diinisiasi oleh Rahmansyah, salah satu mahasiswa ITB AD Jakarta. Dengan judul kegiatan yang menarik, “Klinik Stunting dan Inovasi Gizi dalam Upaya Pencegahan Stunting pada Anak,” proyek ini menjadi tonggak berarti dalam memberikan solusi konkret untuk masalah kesehatan masyarakat.
“Stunting bukan hanya masalah fisik, tapi juga mental dan kecerdasan anak,” tegas Rahmansyah. Edukasi gizi dan perubahan perilaku menjadi kunci utama dalam proyek inspiratif ini.
Sesuai data terkini, Desa Kalukutinggu memiliki tingkat stunting yang mencemaskan, dengan 40% anak mengalami pertumbuhan terhambat. Prevalensi stunting pada tahun 2023 mencapai 27,1%, angka yang memicu kekhawatiran. Salah satu faktor penyebab yang diidentifikasi adalah kurangnya pemahaman masyarakat tentang gizi serta akses yang terbatas terhadap sumber daya kesehatan.
“Kami melihat bahwa permasalahan stunting tidak hanya terkait dengan pola makan, tetapi juga dengan lingkungan dan pemahaman yang kurang tentang kesehatan,” kata Rahmansyah.
Untuk mengatasi stunting di Desa Kalukutinggu ini perlu adanya Solusi Terencana, yakni Membangun Langkah Menuju Perubahan. Terkait hal ini Mahasiswa ITB AD Jakarta mengusulkan serangkaian solusi yang komprehensif untuk mengatasi masalah stunting.
“Stunting bukan hanya soal pola makan, tapi juga lingkungan dan pemahaman kesehatan yang kurang.” Ujar Rahmansyah.
Dalam rembug stunting yang digelar di tingkat desa, mulai dilakukan pembahasan masalah stunting dan dampaknya bagi pembangunan desa. Pada momen ini juga dilakukan penyusunan rencana aksi pencegahan stunting di desa berdasarkan hasil pendataan Selain itu juga dipastikan rencana adanya alokasi dana desa untuk mendukung kegiatan pencegahan stunting
Langkah konkrit untuk mengatasi stunting, hal pertama yang harus dilakukan adalah menggalakkan sosialisasi program. Artinya semua harus gotong royong memperluas kesadaran masyarakat. Sehingga bisa mendapatkan dukungan aktif untuk program pencegahan stunting.
Langkah kedua harus melakukan Revitalisasi Posyandu Menjadi Klinik Stunting. Artinya mengubah fasilitas posyandu menjadi pusat pelayanan kesehatan yang berfokus pada pencegahan stunting dan edukasi gizi.
Langkah Ketiga berupa penyuluhan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Langkah ini dilakukan dengan cara memberikan pemahaman tentang pentingnya kebersihan lingkungan dan gaya hidup sehat.
Langkah Keempat adalah bersih-bersih desa. Artinya pemerintah dan masyarakat harus bersatu kompak melakukan kegiatan gotong-royong untuk menjaga kebersihan lingkungan.
Solusi kelima berupa pengolahan Makanan Bergizi. Dalam hal ini pihak terkait harus memberikan pemahaman kepada ibu-ibu tentang pentingnya makanan bergizi untuk anak-anak mereka.
Solusi keenam yakni Penyuluhan Gizi dan Demonstrasi Menu Modifikasi Makanan Sehat. Dalam hal ini pihak terkait harus mengajarkan kepada masyarakat tentang pentingnya gizi dan memberikan contoh menu makanan yang sehat dan bergizi.
Sedangkan solusi ke tujuh harus dilakukan pengukuran Anak Stunting. Kegiatan monitoring pertumbuhan anak harus dilakukan secara berkala. Tujuannya untuk memastikan efektivitas program.
“Sinergitas antar pihak tentunya menjadi solusi pelaksanaan program ini, khusunya tenaga kesehatan dan peran serta pemerintah desa,” Tegas Rahmansyah. Selain itu keterlibatan seluruh ungsur yang di desa juga menjadi penunjang suksesnya program ini.
Dari sejumlah solusi yang ditawarkan, diyakini mampu membentuk Masyarakat yang Sehat dan Produktif. Dengan implementasi solusi tersebut, diharapkan dapat terjadi peningkatan signifikan dalam pencegahan dan penanganan stunting di Desa Kalukutinggu. Selain itu, upaya ini juga diharapkan dapat memperkuat infrastruktur kesehatan masyarakat serta membentuk kesadaran akan pentingnya gizi dan lingkungan bersih.
“Ini bukan hanya tentang mengatasi masalah stunting saat ini, tetapi juga tentang membentuk generasi masa depan yang lebih sehat dan produktif,” ungkap Rahmansyah dengan penuh semangat.
Proyek ini menunjukkan betapa pentingnya kolaborasi antara pemuda, Mahasiswa, dan pemerintah lokal dalam mengatasi tantangan kesehatan masyarakat. Dengan adanya solusi yang terencana dengan baik dan implementasi yang tepat, diharapkan dapat terjadi perubahan yang positif dalam masyarakat Desa Kalukutinggu. Disisi lain, proyek ini diharapkan bisa menjadi inspirasi bagi daerah lain untuk mengadopsi langkah serupa dalam memerangi stunting dan masalah kesehatan lainnya.(AZW)
Views: 22

















