Petani & UMKM Kopi di Blitar Mendapat Dorongan Pemasaran dari Mahasiswa ITB Ahmad Dahlan

oleh
oleh
Rapat Koordinasi Mahasiswa ITB AD & Bumdesma
Rapat Koordinasi Mahasiswa ITB AD & Bumdesma

BLITAR, Bioztv.id – Setiyoko, seorang mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, memiliki kepedulian terhadap petani kopi di Desa Balerejo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar. Dia melihat potensi besar dari kopi desa ini, namun terkendala oleh strategi pemasaran yang kurang efektif.

Desa Balerejo, dikenal dengan topografi pegunungan dan budidaya kopi yang melimpah, menghadapi tantangan dalam pemasaran produknya. Namun, berkat kerja keras mahasiswa ITB AD, berbagai strategi baru diusulkan untuk mengatasi hambatan yang dihadapi.

“Bumdesma di Desa Balerejo memiliki produk unggulan berupa Kopi, produk ini yang akan kita dorong pemasarannya” “Kata Setiyoko, mahasiswa ITB AD.

Melalui proyek Analisa Strategi Pemasaran dengan SWOT Analisis Berbasis Marketing Mix, Setiyoko mengarahkan fokusnya pada Badan Usaha Milik Desa Bersama (BUMDESMA) “Galang Bareng” di Desa Balerejo.

Kopi Desa Balerejo memiliki kualitas yang tinggi dan rasa yang unik. Kami ingin membantu BUMDESMA Galang Bareng untuk memasarkan kopi ini ke pasar yang lebih luas,” Ungkap setiyoko.

Dalam proses analisis, Setiyoko menemukan beberapa masalah yang dihadapi oleh BUMDESMA “Galang Bareng”. Diantaranya yang pertama, Topografi yang Sulit, Kondisi topografi pegunungan membuat transportasi dan distribusi menjadi sulit. Kedua, Keterbatasan Sumber Daya Produksi. Pasalnya, ketersediaan sumber daya seperti air dan infrastruktur irigasi didaerah ini sangat terbatas.

Problem ketiga terkait kurangnya Akses ke Pasar. Selama ini petani maupun produsen kopi lokal masih Kesulitan dalam memasarkan produk ke pasar yang lebih luas. Keempat, yakni Kurangnya Pengetahuan dan Keterampilan. Selama ini pelaku UMKM lokal kurang memahami dalam hal manajemen usaha dan teknik budidaya.

Permasalahan kelima yaitu rendahnya modal dan akses pembiayaan. Petani dan pelaku UMKM kopi saat ini banyak yang Kesulitan dalam mendapatkan modal dan akses ke pembiayaan yang memadai. Sedangkan problem yang keenam berupa persaingan pasar yang ketat. Kondisi UMKM Kopi lokal saat ini harus bersaing dengan produsen kopi besar dan merek terkenal.

“Permodalan masih menjadi alasan klasik pelaku UMKM di desa ini, sehingga mereka perlu mendapatkan pembinaan yang intensif,” Ungkap Setiyoko.

Setiyoko kemudian melakukan analisis SWOT dan Marketing Mix untuk BUMDESMA Galang Bareng, dan merumuskan strategi untuk meningkatkan pemasaran kopi mereka.

Untuk memecahkan solusi dari pemasalahan ini, Setiyoko juga mengidentifikasi poin-poin kunci dalam marketing mix dan menganalisis SWOT untuk menciptakan beberapa strategi yang efektif.

“Strategi penanganan yang kami tawarkan meliputi diversifikasi produk, pemanfaatan online, penguatan kerja sama, penyesuaian harga, peningkatan keterampilan manajemen, promosi berbasis cerita, penerapan praktik berkelanjutan, dan monitoring dan evaluasi,” Kata Setiyoko.

Strategi pertama adalah S-O (Strengths-Opportunities): Memanfaatkan kualitas unggul kopi dan kerja sama antar desa untuk mengembangkan potensi ekowisata.

Strategi kedua W-O (Weaknesses-Opportunities): Tingkatkan pengalaman pemasaran dan infrastruktur desa untuk mendukung ekowisata.

Strategi ketiga S-T (Strengths-Threats): Diversifikasi produk untuk mengurangi ketergantungan pada kopi dan optimalisasi harga dan promosi.

sedangkan Strategi keempat yaitu W-T (Weaknesses-Threats): Perbaiki keterampilan manajemen dan diversifikasi untuk mengatasi fluktuasi harga kopi dunia.

“Selain kualitas produk, strategi marketing menjadi kunci laku dan tidaknya produk,” Jelas Setiyoko.

Dari hasil pengamatannya dilapangan, Setiyoko juga merekomendasikan langkah-langkah konkret untuk mengatasi masalah dan memanfaatkan peluang yang ada. Ini termasuk peningkatan kualitas produk, kehadiran online yang lebih kuat, penguatan kerja sama antar desa, dan investasi dalam pelatihan manajemen dan keberlanjutan.

“Marketing online sangat menunjang produk bisa menjangkau pasar yang lebih luas,” Ungkap Setiyoko.

Dengan implementasi strategi ini, BUMDESMA “Galang Bareng” dapat menghadapi persaingan pasar yang ketat dan meningkatkan pangsa pasarnya. Selain itu juga bisa  memberikan dampak positif bagi ekonomi desa dan masyarakat petani.

“Semoga apa yang kami lakukan ini bisa terus diterapkan dan kedepan mampu membawa manfaat bagi smeua pihak, khususnya petani kopi dan pelaku UMKM lokal,” pungkas Setiyoko.

Kerja sama antara Setiyoko dan BUMDESMA Galang Bareng diharapkan dapat membawa dampak positif bagi petani kopi di Desa Balerejo. Peningkatan pendapatan, daya saing, popularitas, dan kunjungan wisatawan diharapkan dapat tercapai dengan implementasi strategi yang tepat. (AZW)

Views: 13