TRENGGALEK, bioztv.id – Kasus Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kabupaten Trenggalek masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) mencatat 47 kasus baru HIV sepanjang semester pertama 2026. Mayoritas penderita berasal dari kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun.
Lonjakan kasus pada kelompok usia aktif secara sosial dan ekonomi ini memicu kekhawatiran karena berpotensi menurunkan produktivitas masyarakat jika Pemkab tidak segera memperkuat upaya pencegahan dan penanganan.
“Kalau kita membedah data berdasarkan rentang usia, penderita terbanyak memang berada di kelompok umur 25 sampai 49 tahun. Ini jelas masa-masa usia produktif warga,” ungkap Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, drg. Andiek Muarifin.
Andiek menjelaskan, dari total 47 warga yang terinfeksi HIV, sebanyak 32 orang berada pada rentang usia 25–49 tahun.
Tim medis juga menemukan tiga penderita berusia 20–24 tahun, satu penderita berusia 15–19 tahun, serta 11 penderita berusia di atas 49 tahun.
Pelanggan Pekerja Seks Mendominasi Kasus
Tim Dinkes Trenggalek juga menelusuri kelompok yang paling berisiko menjadi sumber penularan HIV. Hasil penelusuran menunjukkan sebagian besar penderita merupakan pria yang menjadi pelanggan pekerja seks.
Di urutan berikutnya, tim menemukan kasus pada penderita tuberkulosis (TBC) serta kelompok lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki (LSL).
“Garda terdepan kami paling banyak menemukan kasus HIV pada populasi pelanggan pekerja seks. Selain itu, ada juga paparan dari penderita TBC dan beberapa penderita dari pasangan LSL,” tegas Andiek.
Andiek menilai tingginya mobilitas warga ke luar daerah ikut meningkatkan risiko penularan. Banyak penderita sering bepergian atau beraktivitas di luar kota meski tetap berdomisili di Kabupaten Trenggalek.
Mayoritas Penderita Masih Berada di Stadium Awal
Tim medis berhasil mendeteksi sebagian besar penderita HIV pada stadium awal sehingga mereka belum mengalami kerusakan organ yang berat.
Data Dinkes menunjukkan 26 penderita berada pada stadium 1, delapan orang stadium 2, 12 orang stadium 3, dan satu orang stadium 4.
Andiek menjelaskan, penderita stadium 1 umumnya belum menunjukkan gejala yang khas. Namun, ketika penyakit memasuki stadium lanjut, virus mulai melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga memicu sariawan kronis, diare berkepanjangan, hingga penurunan berat badan secara drastis.
“Obat untuk menyembuhkan penyakit HIV secara total memang belum ada. Namun, tim medis bisa mengendalikan perkembangan virus melalui terapi ARV (antiretroviral) yang dijalani secara disiplin sehingga jumlah virus terus menurun,” jelasnya.
Laki-Laki Masih Mendominasi
Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki masih mendominasi kasus HIV di Trenggalek. Petugas mencatat 26 penderita laki-laki dan 21 penderita perempuan.
Dinkes menegaskan, hubungan seksual berisiko bukan satu-satunya jalur penularan HIV. Virus ini juga dapat menular melalui penggunaan jarum suntik secara bergantian, transfusi darah yang terkontaminasi, serta penularan dari ibu kepada bayi selama kehamilan, persalinan, maupun menyusui.
Karena itu, Dinkes mengimbau masyarakat agar tidak memberikan stigma kepada penderita HIV. Dinkes juga mengajak masyarakat melakukan deteksi dini di fasilitas kesehatan, menerapkan perilaku hidup sehat, serta menjalani terapi ARV secara disiplin untuk menekan penularan dan menjaga kualitas hidup penderita.(CIA)
Views: 59
















