TRENGGALEK, bioztv.id – Hujan deras berdurasi panjang yang mengguyur sebagian besar wilayah Kabupaten Trenggalek pada Senin (2/11/2026) memicu spekulasi masyarakat. Warga mengaitkan hujan lebat yang memicu sejumlah bencana tersebut dengan pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) atau hujan buatan.
Menanggapi spekulasi tersebut, BPBD Kabupaten Trenggalek menegaskan bahwa hujan pada 2 November merupakan fenomena alam. Peristiwa tersebut tidak berkaitan dengan kegiatan modifikasi cuaca.
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Trenggalek, Stefanus Triadi Atmono, menjelaskan bahwa tim teknis telah menyelesaikan operasi penyemaian awan pada 27–29 Oktober 2026.
“Modifikasi itu sudah dua hari yang lalu. 27–29 itu modifikasi,” ungkap Stefanus.
BPBD Sebut Dinamika Atmosfer
Stefanus menjelaskan bahwa intensitas hujan tinggi pada 2 November dipengaruhi dinamika suhu dan penguapan di atmosfer.
Meski hujan turun cukup lebat, ia meminta masyarakat memahami kondisi peralihan musim yang masih berlangsung di wilayah Trenggalek.
“Kalau saat ini dampak uapan, mendekati minggu ketiga ini dan di awal musim penghujan,” jelasnya.
Saat wartawan menanyakan kemungkinan hujan tersebut menandai masuknya musim penghujan secara merata, Stefanus kembali menegaskan kondisi musim di lapangan.
“Bukan. Jadi yang terjadi saat ini adalah berbeda, jadi masih di musim kemarau,” katanya.
Curah Hujan Trenggalek Berpotensi Sangat Tinggi
Di tengah rentetan bencana, BPBD juga menyampaikan peringatan dini dari Stasiun Meteorologi BMKG Jawa Timur.
Berdasarkan prakiraan BMKG, wilayah Kabupaten Trenggalek berpotensi mengalami curah hujan dengan intensitas sangat tinggi. Angka curah hujan tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 200 milimeter.
“Perlu kami sampaikan kepada rekan-rekan, berdasarkan prakiraan BMKG Jawa Timur, hujan yang terjadi di wilayah Trenggalek itu intensitasnya sangat tinggi, rata-rata di atas 200,” ungkap Stefanus.
Hujan Picu Longsor dan Kerusakan Infrastruktur
Hujan yang mengguyur secara terus-menerus meningkatkan kejenuhan tanah. Kondisi tersebut dapat mengurangi daya dukung lahan, terutama di kawasan lereng pegunungan yang memiliki kemiringan curam.
BPBD mencatat bencana melanda lima kecamatan di Trenggalek pada 2 November 2026. Bencana tersebut merusak fondasi sekolah, merobohkan tiang penyangga Jembatan Nayu di Munjungan, hingga memicu longsor di permukiman warga.
Stefanus menjelaskan bahwa hujan berkepanjangan turut memperparah kondisi tanah di sekitar permukiman.
“Salah satu penyebabnya, kemiringan tanah itu berdekatan di samping rumah dimaksud, kemudian dampak hujan yang secara terus-menerus menggerus lahan sehingga berakibat tanah tersebut longsor,” paparnya.
Untuk mengantisipasi jatuhnya korban, BPBD bersama Dinas PUPR Trenggalek terus memantau lokasi terdampak. Petugas melakukan mitigasi dan asesmen terhadap kondisi darurat di lapangan.
BPBD juga mengimbau masyarakat yang tinggal di kawasan rawan banjir dan lereng rawan longsor agar meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan mandiri.(CIA)
Views: 7

















