TRENGGALEK, bioztv.id – Robohnya tiang jembatan Nayu di Desa Karangturi, Kecamatan Munjungan, Kabupaten Trenggalek, memutus akses warga di tiga dusun. Banjir bandang pada Senin (2/11/2026) merusak tiang penyangga hingga membuat jembatan sepanjang 34 meter tersebut tidak bisa dilalui.
Pemerintah desa langsung menutup akses jembatan karena kondisinya membahayakan keselamatan. Kepala Desa Karangturi, Puryono, menyebut kerusakan terjadi pada tiang penyangga utama dan bagian tengah jembatan.
“Jembatan Nayu sepanjang 34 meter, jembatan buatan masyarakat, jembatan swadaya, ini tiangnya roboh dan yang satu yang ada di tengah itu juga sudah retak,” ungkap Puryono di lokasi kejadian.
Tiga Dusun Kehilangan Akses Penghubung
Penutupan Jembatan Nayu berdampak langsung terhadap warga Dusun Nayu, Kebonsari, dan Jati. Ketiga dusun tersebut berada di wilayah barat Desa Karangturi.
Menurut Puryono, jembatan tersebut menjadi satu-satunya akses penghubung warga menuju wilayah lainnya. Akibatnya, kerusakan jembatan menghambat aktivitas pendidikan, ekonomi, dan mobilitas masyarakat.
“Jembatan hari ini resmi ditutup karena tidak bisa dilewati dan tiga dusun yang ada di sebelah barat sana itu tidak bisa lewat karena akses satu-satunya adalah lewat jembatan ini,” tegas Puryono.
Ia meminta pemerintah segera menangani kerusakan tersebut melalui langkah darurat. Menurutnya, warga membutuhkan akses penghubung agar aktivitas sehari-hari tidak terus terganggu.
“Jalan ini menjadi akses satu-satunya anak sekolah, terus akses ekonomi dan warga yang melewat. Saya mohon kepada pemerintah untuk segera membenahi dengan unsur kedaruratan karena sekali lagi warga saya yang ada di tiga dusun ini terisolasi,” pintanya.
Kades Sebut Usulan Perbaikan Sudah Empat Tahun
Di tengah kondisi tersebut, Puryono mengungkapkan bahwa pemerintah desa sudah beberapa kali melaporkan kondisi Jembatan Nayu kepada pemerintah di tingkat atas.
Ia menyebut pihaknya telah menyampaikan usulan perbaikan sejak tiga hingga empat tahun lalu. Namun, menurut pengakuannya, hingga jembatan roboh belum ada penanganan yang memadai.
“Jembatan ini sudah kami laporkan beberapa tahun lalu dan berkali-kali saya laporkan ke pihak pemerintah yang ada di atas kita, tetapi tidak ada upaya untuk pembenahan,” ujar Puryono.
Puryono mengatakan kerusakan jembatan sebenarnya sudah terlihat sebelum banjir bandang terjadi. Sejumlah bagian fondasi mengalami keretakan dan pergeseran.
“Kejadiannya ini sebetulnya sudah beberapa tahun lalu, ada tiga atau empat tahun lalu tetapi sampai detik ini belum ada tindak lanjut. Ini perlu pembenahan total,” lanjutnya.
Jembatan Swadaya Dibangun Warga Sejak 1982
Jembatan Nayu memiliki sejarah panjang sebagai infrastruktur swadaya masyarakat. Warga membangun jembatan tersebut pada 1982 dengan panjang sekitar 34 meter dan ketinggian sembilan meter dari dasar sungai.
“Jembatan ini juga menguhungkan antara Kecamatan Munjungan dengan Kecamatan Dongko,” jelas Puryono
Usianya yang sudah lebih dari empat dekade membuat kondisi struktur jembatan membutuhkan perhatian. Terlebih, kerusakan pada sejumlah tiang penyangga kini membuat jembatan tidak aman untuk dilintasi.
“Kondisi terkini memprihatinkan, tiangnya roboh dan yang satu yang ada di tengah itu juga sudah retak dan yang ada di sebelahnya itu juga sudah mengkhawatirkan,” jelas Puryono.
Kades Minta Pemerintah Segera Siapkan Akses Darurat
Karena tidak tersedia jalur alternatif, Puryono mendesak Pemerintah Kabupaten Trenggalek, BPBD, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur segera turun tangan.
Ia meminta pemerintah menyiapkan akses darurat, seperti jembatan Bailey atau jembatan gantung sementara. Langkah tersebut dinilai penting agar warga tiga dusun kembali memiliki akses penghubung.
“Kami membutuhkan akses ini supaya segera diperbaiki dan nanti bisa dilalui oleh masyarakat,” pungkas Puryono.(CIA)
Views: 3

















