Pasien Dugaan Keracunan Hajatan Kedunglurah Bertambah, Sampel Air Sumur Dikirim ke Surabaya

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Jumlah warga yang membutuhkan perawatan medis setelah mengalami gangguan kesehatan usai hajatan di Desa Kedunglurah, Kecamatan Pogalan, terus bertambah. Dinas Kesehatan (Dinkes) Trenggalek mengirim sampel feses pasien dan air dari dua sumur ke laboratorium di Surabaya untuk menelusuri penyebab kejadian tersebut.

Petugas kesehatan juga mendatangi permukiman warga untuk memantau kondisi korban dan membantu warga yang membutuhkan penanganan medis.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Trenggalek, Andiek Muarifin, mengonfirmasi penambahan pasien rawat inap di Puskesmas Pogalan menjadi empat orang. Petugas menjemput seorang warga di rumahnya setelah kondisi tubuhnya semakin lemas.

Jumlah pasien rawat inap di Puskesmas Pule juga bertambah menjadi enam orang, atau naik tiga pasien dibandingkan data sebelumnya. Diare berulang menyebabkan pasien kehilangan cairan tubuh dan membutuhkan penanganan medis.

“Keluhan utamanya saat ini diare. Frekuensi yang sering memicu dehidrasi dan lemas sehingga kami sarankan rawat inap,” terang Andiek.

Sampel Feses dan Air Sumur Dikirim ke Surabaya

Petugas tidak menemukan sisa makanan yang memenuhi syarat pemeriksaan laboratorium karena laporan kejadian baru mereka terima dua hari setelah hajatan berlangsung. Sebagai alternatif, Dinkes mengambil sampel air dari dua sumur milik penyelenggara hajatan serta sampel feses pasien di Puskesmas Pule.

Petugas telah mengirim seluruh sampel tersebut ke Balai Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) Surabaya.

“Kira kira ya proses pemeriksaan mikrobiologi membutuhkan waktu sekitar satu minggu,” Kata Andiek.

Selain menangani pasien di puskesmas, petugas juga merujuk seorang pasien dengan gejala berat ke RS Budi Asih

“Empat pasien lainnya dilaporkan mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan,” ujarnya.

Dinkes Telusuri Kemungkinan Kontaminasi Bakteri

Dinkes Trenggalek menduga kontaminasi bakteri pada makanan hajatan menjadi salah satu kemungkinan penyebab gangguan kesehatan warga. Proses pengolahan yang kurang higienis dan jeda waktu terlalu lama sebelum makanan disajikan dapat meningkatkan risiko pertumbuhan bakteri.

“Makanan matang yang dibiarkan terlalu lama pada suhu ruang tanpa penanganan yang tepat juga berisiko menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme berbahaya,” jelas Andiek.

Andiek menjelaskan bahwa waktu penyimpanan dan penyajian makanan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan dalam penelusuran kejadian ini.

“Durasi yang terlalu lama antara makanan matang hingga disajikan kepada tamu menjadi faktor risiko utama berkembangbiaknya bakteri,” Imbuhnya.

Meski demikian, petugas masih memerlukan hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab gangguan kesehatan warga.

Dinkes Ingatkan Pentingnya Kebersihan Penjamah Makanan

Andiek mengimbau masyarakat agar memperketat kebersihan dan sanitasi saat menyiapkan makanan untuk hajatan. Penjamah makanan perlu menjaga kebersihan diri dan menggunakan alat pelindung diri (APD) yang sesuai saat mengolah hidangan.

Penyelenggara juga perlu memisahkan bahan makanan mentah dari makanan matang untuk mencegah kontaminasi silang.

“Masyarakat harus memperhatikan kebersihan penjamah makanan, gunakan APD saat memasak, serta pisahkan bahan mentah dan matang,” tegasnya.(CIA)

Views: 10