TRENGGALEK, bioztv.id – PT Jwalita Energi Trenggalek (JET) mencatat kenaikan volume penjualan BBM hingga 15 persen pada Semester I 2026. BUMD milik Pemkab Trenggalek itu menambah penjualan sekitar 566 ribu liter dibanding periode yang sama tahun lalu. Namun, kenaikan volume tersebut belum langsung mendongkrak laba kotor perusahaan.
Perubahan pola konsumsi masyarakat ikut memengaruhi kondisi tersebut. Kenaikan harga BBM non-subsidi membuat penjualan Pertamax di SPBU PT JET menurun.
Direktur PT JET, Mardianto Harahap, mengatakan penurunan penjualan Pertamax menekan pendapatan perusahaan. Padahal, Pertamax memberikan margin keuntungan lebih besar bagi SPBU.
“Konsumsi Pertamax di SPBU kami merosot hampir 50 persen,” ungkap Mardianto Harahap.
Mardianto mengatakan mayoritas produk BBM tetap mencatat pertumbuhan volume. Namun, kondisi tersebut belum cukup mendorong laba kotor hingga mencapai target maksimal.
“Hampir seluruh lini produk tumbuh positif. Laba kotor memang sedikit tertekan, tetapi selisihnya tidak terlalu jauh dari proyeksi awal,” jelasnya.
Volume Pertalite Naik, Laba Kotor Turun Rp40 Juta
Data operasional Semester I 2026 menunjukkan penjualan Pertalite bertambah 49 ribu liter atau sekitar 3 persen. Namun, kenaikan volume tersebut belum mampu menjaga laba kotor Pertalite. PT JET justru mencatat penurunan laba kotor sebesar Rp40 juta.
Perusahaan mencatat laba kotor Pertalite sebesar Rp631 juta. Angka itu turun dari Rp670 juta pada Semester I 2025. Mardianto mengaitkan kondisi tersebut dengan perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite. Peralihan itu belum langsung memberikan tambahan keuntungan pada awal tahun.
“Kami sempat mengalami penurunan laba kotor dari sektor Pertalite sekitar Rp40 juta di semester pertama,” akunya.
Audit ‘Pasti Pas’ Pertamina Pengaruhi Margin SPBU
Selain perubahan pilihan konsumen, Mardianto mengatakan hasil audit Pasti Pas Pertamina turut memengaruhi perhitungan laba kotor SPBU. Perusahaan juga harus menjaga standar operasional, termasuk akurasi takaran dispenser.
Dispenser yang sudah berumur dapat mengalami masalah akurasi tera atau takaran. Kondisi itu dapat merugikan konsumen maupun pengelola SPBU.
“Kalau takaran melebihi standar, konsumen memang diuntungkan, tetapi perusahaan yang menanggung kerugian. Sebaliknya, kalau takaran kurang, tentu melukai hak pelanggan,” terangnya.
Kerusakan teknis pada mesin lama juga dapat memicu penalti dalam audit Pertamina.
Penalti tersebut dapat menurunkan margin SPBU ke level Basic. Kondisi itu kemudian mengurangi margin keuntungan perusahaan.
“Penalti audit itu krusial. Meskipun skor penilaian kita secara umum masuk kualifikasi, penalti teknis bisa membatalkan raihan margin maksimal,” kata Mardianto.
Laba Kotor Pertalite Naik 26 Persen pada Juli-Agustus
Kinerja PT JET mulai menunjukkan perubahan pada awal Semester II 2026. Penjualan Pertalite mulai memberikan kontribusi lebih besar terhadap laba kotor perusahaan. Pada Juli dan Agustus 2025, laba kotor Pertalite berada di kisaran Rp222 juta.
Pada periode yang sama tahun 2026, laba kotor tersebut meningkat hingga lebih dari Rp300 juta. PT JET mencatat kenaikan sebesar Rp78 juta atau sekitar 26 persen.
“Dalam kurun waktu dua bulan di awal semester dua ini, kami mencatat kenaikan laba kotor Pertalite mencapai 26 persen,” beber Mardianto.
Perusahaan mencatat kenaikan tersebut setelah konsumen Pertamax beralih menggunakan Pertalite.
PT JET Kejar Target Kinerja 2026
Manajemen PT JET kini memanfaatkan Semester II 2026 untuk mengejar target tahunan. Mardianto memproyeksikan realisasi akumulatif perusahaan mencapai 93 hingga 95 persen dari Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP).
“Kami sangat optimistis tren positif di semester kedua ini mampu menutup kekurangan target dari semester pertama,” tegasnya.
PT JET juga mencermati regulasi pemerintah dan Pertamina terkait pendaftaran serta pembatasan distribusi BBM bersubsidi. Pembatasan kuota Pertalite dapat memengaruhi volume penyaluran dan pendapatan SPBU.
Hingga akhir 2026, PT JET fokus meningkatkan penjualan Pertalite sekaligus meremajakan mesin dispenser. Langkah tersebut juga menjadi bagian dari upaya perusahaan menjaga konsistensi hasil audit Pasti Pas Pertamina.(CIA)
Views: 15
















