Dugaan Keracunan Menu SPPG Karangan, Hasil  Lab Temukan Bacillus Cereus pada Acar & Mendoan

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – Tim laboratorium menemukan bakteri Bacillus cereus pada sampel makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) SPPG Mulia Hiroku Gakkou Karangan.

Temuan tersebut muncul setelah sedikitnya 77 siswa penerima manfaat mengalami keluhan kesehatan di wilayah Trenggalek.

Tim laboratorium mendeteksi Bacillus cereus pada dua jenis menu. Bakteri tersebut muncul pada acar timun wortel dan tempe mendoan.

Menindaklanjuti hasil pemeriksaan itu, Satuan Tugas (Satgas) MBG Trenggalek menelusuri proses pengolahan makanan di dapur SPPG.

Wakil Ketua Satgas MBG Trenggalek, Sunarto, membenarkan laboratorium telah menyerahkan hasil pemeriksaan sampel makanan.

“Hasil laboratorium menunjukkan bahwa kuman Bacillus cereus mengontaminasi menu acar dan tempe mendoan,” terang Sunarto.

Sementara itu, laboratorium tidak menemukan bakteri tersebut pada sampel nasi putih, ayam bumbu rendang, dan buah melon.

Gejala Siswa Muncul Sehari Setelah Konsumsi MBG

Kasus ini bermula ketika puluhan siswa mengonsumsi paket MBG pada 14 September 2026.

Sehari kemudian, 15 September 2026, sejumlah siswa mulai mengeluhkan sakit perut, mulas, mual, hingga diare.

Sunarto menjelaskan karakter infeksi Bacillus cereus dapat memicu gangguan pada sistem pencernaan.

“Karakter serangan Bacillus cereus ini memang menyasar organ pencernaan dengan gejala mulas, mual, muntah, hingga diare,” jelas Sunarto.

Meski menemukan bakteri pada dua sampel makanan, Satgas MBG Trenggalek belum menetapkan satu sumber tunggal pencemaran.

Tim gabungan masih menjadwalkan evaluasi internal. Mereka akan mencocokkan hasil pemeriksaan laboratorium dengan kondisi dapur produksi.

Satgas Soroti Higiene Sanitasi dan Potensi Kontaminasi Silang

Satgas MBG kemudian memusatkan evaluasi pada penerapan higiene dan sanitasi di lingkungan SPPG.

Sunarto menyebut sejumlah celah yang berpotensi memicu pencemaran mikroba. Celah tersebut antara lain proses pencucian bahan baku dan penggunaan peralatan dapur.

“Petugas sering kali menggunakan satu peralatan secara bergantian untuk memproses bahan mentah sekaligus makanan matang yang siap konsumsi,” ungkap Sunarto.

Satgas juga mengevaluasi kualitas air bersih yang digunakan petugas untuk mencuci wadah dan bahan baku.

Temuan Bacillus cereus pada tempe mendoan juga mendorong Satgas menelusuri kemungkinan kontaminasi silang setelah proses pemasakan.

Tim akan memeriksa kemungkinan makanan matang kembali bersentuhan dengan wadah atau bahan mentah. Satgas juga mengevaluasi penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) saat petugas mengemas makanan.

Perketat QC, Kurasi Menu, dan Manfaatkan CCTV Dapur

Satgas MBG meminta pengelola SPPG memperketat pengawasan mutu atau Quality Control secara berjenjang.

Petugas harus mengambil sampel dan memeriksa kondisi fisik makanan sebelum armada mengirim menu ke sekolah.

Pemerintah daerah juga memanfaatkan CCTV di area SPPG untuk memantau alur kerja dan penerapan higiene sanitasi secara real-time.

Selain itu, Satgas MBG Trenggalek akan memperketat pemilihan menu yang memiliki risiko pembusukan lebih cepat.

“Menu-menu yang masuk kategori rawan wajib mengantongi persetujuan (approval) dari Koordinator Wilayah sebelum diproduksi massal,” tegas Sunarto..(CIA)

Views: 1