TRENGGALEK, bioztv.id – Pemerintah Kabupaten Trenggalek mulai menyusun langkah besar untuk mengejar pengakuan Geopark Nasional hingga level dunia di bawah UNESCO. Namun, di tengah ambisi tersebut, pemerintah daerah masih menghadapi satu tantangan mendasar, yakni menentukan tema utama atau identitas geopark yang akan menjadi ciri khas Trenggalek.
Padahal, tema menjadi fondasi utama dalam pengembangan geopark. Tema tersebut akan menghubungkan potensi geologi, warisan budaya, dan kekayaan alam dalam satu narasi besar yang terintegrasi.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (BPPRIN) Trenggalek, Ratna Sulistyowati, mengakui bahwa tim teknis masih mengumpulkan data lapangan dan menyusun kajian mendalam untuk merumuskan konsep besar geopark Trenggalek.
“Kalau berbicara soal tema, kami memang masih mengkajinya sampai saat ini. Tim sedang mengumpulkan data dan memetakan seluruh potensi lokal di Trenggalek untuk menemukan tema yang paling kuat dan memiliki nilai jual,” ujar Ratna.
Strategi Baru Dongkrak PAD dari Sektor Wisata
Pemkab Trenggalek menempatkan program geopark sebagai strategi jangka panjang untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui sektor pariwisata berbasis konservasi dan edukasi.
Ratna menjelaskan bahwa konsep geopark tidak hanya menjual destinasi wisata. Geopark mengintegrasikan tiga unsur utama sekaligus, yaitu kekayaan geologi, keanekaragaman hayati, dan warisan budaya masyarakat.
“Geopark merupakan konsep taman bumi yang mengintegrasikan kekayaan batuan atau mineral, budaya, dan alam. Trenggalek memiliki ketiga komponen tersebut,” jelasnya.
Menurut Ratna, modal tersebut membuat Trenggalek memiliki peluang besar untuk bersaing dengan daerah lain yang lebih dahulu meraih status geopark nasional maupun internasional.
Belajar dari Kesuksesan Kebumen
Ratna juga menjadikan Kabupaten Kebumen sebagai salah satu referensi utama dalam pengembangan geopark Trenggalek.
Pemerintah Kabupaten Kebumen berhasil mengintegrasikan kekayaan geologi, budaya, dan alam ke dalam satu kawasan wisata edukatif yang menarik minat wisatawan dalam jumlah besar.
“Kebumen berhasil membangun galeri yang menampilkan batuan purba, kekayaan alam, dan budaya dalam satu kesatuan. Strategi itu mampu menarik sekitar 250 hingga 300 pengunjung setiap hari,” ungkap Ratna.
Keberhasilan tersebut mendorong Pemkab Trenggalek untuk mengembangkan konsep serupa yang tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga mampu memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Potensi Besar Masih Bergerak Sendiri-Sendiri
Ratna menilai Trenggalek memiliki modal yang sangat kuat untuk membangun geopark.
Dari sektor budaya, Trenggalek memiliki kesenian Turonggo Yakso, tradisi Ngetung Batih, hingga Kupatan Durenan yang sudah dikenal luas masyarakat.
Dari sektor hayati, Trenggalek memiliki berbagai komoditas unggulan seperti durian ripto, cengkih, alpukat, minyak nilam, hingga kawasan bambu Dilem Wilis.
Sementara itu, sektor wisata alam menawarkan beragam destinasi, mulai dari pantai, kawasan pegunungan, hingga jaringan gua yang tersebar di berbagai wilayah.
“Kita memiliki Goa Lowo, Gunung Linggo, Gua Ngerit, dan berbagai potensi alam lainnya. Potensi tersebut sangat besar, tetapi saat ini masih berjalan sendiri-sendiri dan belum terintegrasi secara optimal,” kata Ratna.
BRIN Dampingi Kajian dan Riset Geopark
Ratna memastikan bahwa pemerintah daerah tidak sekadar melempar wacana. Saat ini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) turut mendampingi proses kajian ilmiah, inventarisasi data, hingga penyusunan dokumen pendukung pengajuan geopark.
“Mungkin ada yang menganggap program ini hanya mimpi. Namun, kami benar-benar sedang bekerja dan berproses. BRIN juga memberikan dukungan penuh, baik dari sisi kajian akademis maupun pembiayaan riset,” tegasnya.
Pemkab Trenggalek bahkan memasukkan program geopark ke dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) hingga tahun 2029.
Pemerintah menargetkan tim peneliti menyelesaikan seluruh kajian dan inventarisasi data pada tahun 2026. Setelah itu, Pemkab berencana mengajukan status Geopark Nasional pada tahun 2027.
Geopark Jadi Strategi Lindungi Kawasan Kars
Selain mengembangkan sektor wisata, Pemkab Trenggalek juga menjadikan geopark sebagai instrumen perlindungan kawasan kars dari ancaman eksploitasi pertambangan.
Ratna mengungkapkan bahwa tim BRIN telah mengidentifikasi sebagian besar wilayah yang selama ini disebut memiliki potensi tambang justru berada di kawasan kars yang berfungsi sebagai penyimpan cadangan air alami.
“Kemarin tim BRIN mengidentifikasi bahwa hampir seluruh kawasan yang memiliki potensi tambang berada di area kars,” kata Ratna.
Menurutnya, aktivitas pertambangan di kawasan tersebut berisiko merusak sistem hidrologi dan mengancam keberlangsungan sumber air bersih masyarakat.
“Jika perusahaan melakukan eksploitasi di kawasan kars, sumber air alami bisa hilang. Saat ini saja beberapa wilayah Trenggalek sudah menghadapi ancaman kekeringan. Jika kawasan kars sampai ditambang, dampaknya akan sangat serius bagi lingkungan dan kehidupan masyarakat,” tegasnya.
Kini, sambil melanjutkan proses pengajuan geopark, Pemkab Trenggalek harus segera menyelesaikan pekerjaan rumah terbesarnya: menetapkan satu tema utama yang mampu menyatukan seluruh kekayaan geologi, budaya, dan alam menjadi identitas tunggal Geopark Trenggalek di masa depan.(CIA)
Views: 8

















