TRENGGALEK, bioztv.id — Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Trenggalek mulai mengawasi pengelolaan limbah di dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). DLH mengambil langkah tersebut di tengah tingginya beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Srabah yang terus meningkat.
DLH mengingatkan para pengelola dapur MBG agar tidak hanya fokus mengoperasikan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), tetapi juga mengelola seluruh sampah yang muncul dari aktivitas memasak dalam skala besar.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DLH Trenggalek, Cusi Kurniawati, mengatakan timnya telah mendatangi sejumlah SPPG untuk melakukan inspeksi sekaligus memberikan edukasi terkait pengelolaan limbah yang benar.
Menurut Cusi, pengelola harus memilah dan mengolah sampah sejak dari sumbernya agar tidak menambah beban TPA Stabah
“Kami sudah mengambil sampel di beberapa SPPG dan akan melanjutkan kunjungan ke seluruh dapur MBG di Trenggalek. Selain memastikan IPAL berfungsi normal, kami juga memberikan edukasi tentang pengelolaan sampah langsung dari sumbernya,” ujar Cusi Kurniawati.
DLH bersama Badan Koordinasi Wilayah (Bakorwil) telah meninjau dua lokasi SPPG sebagai percontohan. Pekan depan, tim gabungan akan mengunjungi dapur-dapur MBG lainnya untuk memastikan seluruh pengelola menerapkan standar pengelolaan limbah yang ramah lingkungan.
Pengelola Harus Mengolah Sampah Organik di Dapur
Cusi menilai masih banyak pihak yang menganggap seluruh sampah dapur harus berakhir di tempat pembuangan. Padahal, sebagian besar limbah dari aktivitas memasak masih bisa dimanfaatkan kembali.
Ia mengapresiasi sejumlah SPPG yang telah bekerja sama dengan komunitas pengelola sampah dan bank sampah lokal. Namun, ia meminta dapur umum yang belum memiliki sistem pengelolaan limbah yang baik agar segera berbenah.
“Kami meminta pengelola tidak langsung membuang seluruh sampah ke TPA Stabah. Mereka harus mengolah sampah organik, memilah sampah anorganik, memisahkan sampah residu, dan memastikan limbah cair mengalir ke IPAL. Langkah ini merupakan bentuk tanggung jawab terhadap lingkungan,” tegasnya.
Menurut Cusi, pengelola dapat menekan volume sampah secara signifikan jika mereka mengelola limbah sejak dari dapur produksi.
Tingkat Pengolahan Sampah Masih di Bawah 40 Persen
Data DLH menunjukkan tingkat pengolahan sampah di Kabupaten Trenggalek masih berada di bawah 40 persen. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar sampah masih berakhir di TPA.
Setiap hari, armada kebersihan mengangkut sekitar 51 ton sampah menuju TPA Stabah. Angka tersebut menjadi tantangan besar bagi pemerintah daerah yang terus mendorong sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
Karena itu, DLH tidak hanya mengawasi dapur MBG, tetapi juga mengajak masyarakat, instansi pemerintah, dan pelaku usaha untuk mengurangi sampah dari sumbernya.
“Tingkat daur ulang sampah kita masih belum mencapai 40 persen. Karena itu, kita harus meningkatkan angka tersebut bersama-sama agar TPA Stabah tidak cepat penuh,” kata Cusi.
Melalui pengawasan dan edukasi tersebut, DLH berharap dapur-dapur Program Makan Bergizi Gratis di Trenggalek dapat menjadi contoh pengelolaan limbah yang tertib, higienis, dan ramah lingkungan. Selain membantu mengurangi beban TPA, langkah itu juga mendukung upaya menjaga kelestarian lingkungan di Kabupaten Trenggalek.(CIA)
Views: 20
















