TRENGGALEK, bioztv.id – Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Kabupaten Trenggalek mengimbau masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala flu, pusing, atau demam yang tak kunjung sembuh.
Dinkes mengingatkan bahwa kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal infeksi Hantavirus, terutama bagi warga yang memiliki riwayat kontak dengan tikus atau tinggal di lingkungan kurang bersih.
Plt Kepala Dinkes PPKB Trenggalek, Andiek Muarifin, mengatakan banyak masyarakat terkecoh karena gejala awal Hantavirus sangat mirip dengan flu biasa.
“Gejala awalnya memang mirip sekali dengan flu, seperti demam tinggi, menggigil, nyeri otot, sakit kepala, pusing, tubuh lemas, hingga mual dan diare. Karena kemiripan inilah masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan,” ujar Andiek.
Gejala Bisa Memburuk dalam Hitungan Hari
Andiek menjelaskan, masa inkubasi Hantavirus tergolong cukup panjang. Gejala biasanya muncul sekitar satu hingga delapan minggu setelah seseorang terpapar virus dari tikus atau hewan pengerat lainnya.
Jika pasien tidak segera mendapatkan penanganan medis, infeksi tersebut dapat berkembang cepat menjadi gangguan paru-paru serius atau Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang berpotensi mematikan.
“Begitu memasuki fase lanjut, pasien akan mengalami batuk kering, sesak napas akut, hingga dada terasa tertekan karena cairan mulai mengisi paru-paru mereka,” jelas Andiek.
Ia meminta masyarakat segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala tersebut, terutama setelah membersihkan gudang, area berdebu, atau tempat yang menjadi sarang tikus.
“Jangan menunggu kondisi fisik memburuk. Kalau Anda mengalami gejala seperti itu setelah beraktivitas di lingkungan yang banyak tikusnya, segera periksakan diri ke dokter,” katanya.
Jawa Timur Sempat Temukan Kasus Positif
Andiek juga mengungkapkan bahwa Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur sebelumnya menemukan satu kasus positif Hantavirus.
Awalnya, tenaga medis menduga pasien tersebut terkena leptospirosis karena mengalami gejala serupa seperti demam tinggi, nyeri otot, dan kulit menguning. Namun, hasil pemeriksaan laboratorium memastikan pasien terinfeksi Hantavirus dan kini telah sembuh total.
Selain di Jawa Timur, petugas kesehatan juga menemukan kasus Hantavirus di sejumlah wilayah lain seperti DKI Jakarta dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Tikus Jadi Sumber Penularan
Andiek menerangkan, tikus dan celurut menjadi hewan utama penyebar Hantavirus. Hewan pengerat tersebut menyebarkan virus melalui urine, air liur, feses, dan partikel debu yang tercemar kotoran tikus.
“Virus ini tidak menular dari manusia ke manusia. Penularan murni terjadi akibat paparan langsung cairan tubuh tikus atau ketika kita menghirup debu yang sudah tercemar kotoran mereka,” ungkapnya.
Karena itu, Dinkes Trenggalek meminta masyarakat rutin menjaga kebersihan rumah dan lingkungan kerja agar tidak menjadi sarang tikus.
Dinkes Bagikan Tips Pencegahan
Untuk mencegah penyebaran Hantavirus, Dinkes Trenggalek membagikan sejumlah langkah sederhana kepada masyarakat:
- Menutup lubang dan celah rumah yang menjadi akses masuk tikus.
- Membersihkan gudang dan area penyimpanan secara rutin.
- Menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu.
- Menjaga kebersihan tangan serta menyimpan makanan dan minuman dalam kondisi tertutup.
“Kunci paling utama adalah menjaga lingkungan tetap bersih dan kering agar tikus tidak betah berkembang biak di sekitar kita,” tegas Andiek.
Saat ini, Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga terus memperkuat deteksi dini Hantavirus di seluruh fasilitas kesehatan untuk mencegah penyebaran penyakit tersebut lebih luas.(CIA)
Views: 3

















