KLATEN, bioztv.id – Lagi lagi mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, realisasikan kepeduliannya. Bondan Ari Sungkowo, yang merupakan mahasiswa ITB-AD, turut pacu peningkatan pengelolaan limbah organik rumah tangga. Langkah ini juga mendorong pada sistem pertanian yang berkelanjutan. Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, terbuksi sudah merasakan manfaat dari program ini.
Proyek independen yang di gagas Bondan Ari Sungkowo ini, bertajuk “Pembuatan Eco Enzyme sebagai Solusi Alternatif dalam Mengurangi Limbah Organik Rumah Tangga dan Mendukung Pertanian yang Berkelanjutan”.
“Limbah yang dikelola dengan baik, justru akan menghasilkan manfaat besar bagi lingkungan,” kata Bondan.
Desa Kajen, dengan luas wilayah 1,292 km² dan area persawahan seluas 91,6 hektar, mayoritas penduduknya bergantung pada sektor pertanian. Namun, seperti banyak wilayah pedesaan lainnya, Desa Kajen menghadapi tantangan dalam pengelolaan limbah organik dan ketergantungan pada bahan kimia pertanian. Limbah organik rumah tangga sering kali dibuang tanpa diolah, tentunya hal ini justru menimbulkan penumpukan sampah yang mencemari lingkungan dan menjadi sumber penyakit.
“Kondisinya, petani di desa ini masih mengandalkan pupuk dan pestisida kimia dalam jangka panjang. Dampaknya, justru berpotensi merusak kesuburan tanah dan mencemari lingkungan,” ujar Bondan.
Dengan konsisi seperti ini, Bondan Ari Sungkowo melihat potensi besar dalam pembuatan eco enzyme sebagai solusi atas permasalahan ini. Eco enzyme adalah produk fermentasi limbah organik rumah tangga yang dapat digunakan sebagai pembersih lantai, pupuk alami, pestisida, dan penjernih air. Terlebih, proses pembuatan eco enzyme cukup sederhana dan mudah diterapkan oleh masyarakat desa.
“Dengan pelatihan yang tepat, limbah organik yang tadinya hanya menjadi sampah, kini dapat dimanfaatkan menjadi produk yang bermanfaat untuk pertanian dan lingkungan,” jelas Bondan.
Kepala Desa Kajen, Sukidi, menyambut baik inisiatif ini. Pihaknya sangat mendukung kegiatan ini karena sejalan dengan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam mengelola limbah organik dan mengurangi ketergantungan pada bahan kimia.
“Semoga dengan adanya program ini, kesadaran warga akan pentingnya pengelolaan limbah dan pertanian berkelanjutan dapat meningkat,” ujar Sukidi.
Sesuai hasil identifikasi yang dilakukan, Bondan dan timnya menemukan Beberapa problem didesa ini. Pertama, kurangnya kesadaran dan pengetahuan tentang pengelolaan limbah. Kedua, ketergantungan pada bahan kimia pertanian. Sedangkan yang ke-tiga keterbatasan akses terhadap teknologi pertanian berkelanjutan.
“Problem ini bisa ditangani melalui sosialisasi, workshop, dan demonstrasi lapangan,” jelas Bondan.
Dalam pelaksanaannya, Bondan memberikan pelatihan tentang cara membuat eco enzyme dan pemanfaatannya sebagai pupuk dan pestisida alami. Selain itu, ia juga memperkenalkan komposter sebagai alat bantu pengelolaan limbah organik.
“Hasil dari kegiatan ini cukup menggembirakan; sebagian besar warga yang mengikuti pelatihan berhasil membuat eco enzyme dan mulai menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari,” imbuhnya
Manfaat dari program ini sangat dirasakan oleh warga Desa Kajen. Masyarakat merasa terbantu dengan adanya program ini. Selain mengurangi sampah, eco enzyme juga sangat bermanfaat untuk kebersihan lingkungan dan pertanian.
“Manfaatnya memang sangat banyak, baik bagi pertanian maupun lingkungan sekitar,” tegas Bondan.
Proyek ini juga mendapat dukungan dari pemerintah desa dan organisasi lingkungan setempat, Kepala Desa Kajen juga berharap kegiatan serupa dapat terus berlanjut di masa mendatang.
“Program ini membuka jalan bagi upaya kami untuk mengimplementasikan pertanian berkelanjutan dan menjaga kelestarian lingkungan desa,” jelas Sukidi.
Sementara itu, Bondan juga berharap agar kedepannya program ini bisa menjadi model yang diadopsi oleh desa-desa lain. Tujuannya tak lain agar dampak positif dari pengelolaan limbah organik dan pertanian berkelanjutan bisa dirasakan oleh masyarakat yang lebih luas.
“Kami ingin program ini menjadi langkah awal menuju desa yang lebih hijau dan sehat, di mana limbah organik tidak lagi menjadi masalah, melainkan solusi untuk lingkungan yang lebih baik,” tutup Bondan.(MMA)
Views: 5
















