Mahasiswa ITB-AD di Kupang Gencarkan Pemberian Makanan Tambahan untuk Cegah Stunting

oleh
oleh
Mahasiswa ITB-AD di Kupang Gencarkan Pemberian Makanan Tambahan untuk Cegah Stunting
Mahasiswa ITB-AD di Kupang Gencarkan Pemberian Makanan Tambahan untuk Cegah Stunting

KUPANG, bioztv.id – Dukung pencegahan stunting melalui Program Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM), Selvi Margahritha Baitanu, mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta, melaksanakan proyek independenya di Desa Fatuteta, Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

Kegiatan yang bertajuk “Pemberian Makanan Tambahan sebagai Upaya Pencegahan Stunting” ini menyasar ibu hamil, ibu menyusui, dan balita di desa tersebut, dengan tujuan utama mencegah stunting yang masih menjadi masalah serius di wilayah itu. Kegiatan ini merupakan bagian dari inisiatifnya dalam program MBKM untuk mengaplikasikan ilmu yang diperoleh di kampus secara langsung di masyarakat.

“Pemberian makanan tambahan ini tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan gizi ibu hamil dan anak-anak, tetapi juga untuk memberikan edukasi tentang pentingnya asupan gizi seimbang dalam mencegah stunting,” ujarnya.

Menurut data ePPGBM Kabupaten Kupang periode Februari 2024, Desa Fatuteta berada di urutan keenam dengan kasus balita stunting. Sebanyak 2 balita mengalami stunting pendek dan 5 balita mengalami stunting sangat pendek. Masalah stunting di desa ini kompleks, disebabkan oleh faktor-faktor seperti pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan ibu, serta keterbatasan ekonomi yang menghambat pemenuhan gizi.

“Pernikahan dini dan rendahnya pendidikan ibu menjadi faktor utama yang menyebabkan kurangnya asupan gizi pada balita,” ungkap Selvi.

Meskipun pemberian ASI eksklusif bukan menjadi masalah utama, banyak ibu balita yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi anaknya karena faktor ekonomi. Selvi bersama tim kesehatan desa mengidentifikasi sejumlah masalah dan solusi yang ditawarkan untuk mengatasi stunting di Desa Fatuteta.

“Pemenuhan kebutuhan gizi bisa dengan konsumsi makanan bergizi seimbang, pemberian ASI eksklusif, serta sosialisasi pentingnya gizi sebelum, selama, dan setelah kehamilan,” kata Selvi.

Selvi mengungkapkan bahwa pentingnya pemberian makanan tambahan (PMT) dan edukasi gizi bagi ibu hamil dan menyusui. Hal ini bisa menjadi langkah konkret untuk mencegah stunting. Selain itu, akses terhadap pelayanan kesehatan juga diperbaiki. DIantaranya  melalui peningkatan layanan kesehatan gratis dan pemerataan jumlah tenaga medis.

“Kami memberikan pelatihan kepada kader posyandu dan ibu-ibu di desa ini mengenai pentingnya pemenuhan gizi yang tepat, serta mendampingi mereka dalam penyusunan menu makanan bergizi,” jelasnya.

Bidan desa, Maria Yashinta Bria, Amd, Keb., juga menambahkan bahwa program ini sangat bermanfaat dalam menambah pengetahuan dan kesadaran masyarakat. Khususnya tentang pentingnya gizi seimbang dan menjaga kesehatan.

“Kami berharap dengan adanya kegiatan ini, angka stunting di Desa Fatuteta dapat berkurang secara signifikan. Sosialisasi yang rutin dan berkesinambungan sangat dibutuhkan agar masyarakat semakin paham pentingnya gizi,” katanya.

Selama program berlangsung, sejumlah capaian berhasil diraih. Sosialisasi dan pelatihan yang dilakukan kepada kader dan ibu balita telah mencapai target 100%. Selain itu, usulan penganggaran kegiatan PMT melalui musyawarah desa berhasil didanai oleh APBDes, sehingga seluruh kegiatan dapat berjalan dengan lancar.

“Awalnya memang orang tua balita stunting terlihat kurang respon, sehingga pemerintah desa membentuk inisiatif “orangtua asuh” untuk mendampingi anak-anak dalam pemberian PMT,” jelas Selvi.

Evaluasi menunjukkan bahwa pemberian makanan tambahan telah berhasil mengurangi angka stunting di Desa Fatuteta. Dengan kerja sama yang baik antara mahasiswa, pemerintah, dan masyarakat, diharapkan program ini dapat menjadi model yang berhasil dalam penanggulangan stunting, tidak hanya di Desa Fatuteta, tetapi juga di wilayah lainnya.

“Dukungan yang konsisten dari semua pihak, termasuk pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat, sangat penting untuk memastikan program ini berkelanjutan dan berhasil memberikan dampak positif,” ujar Selvi.

Proyek ini menunjukkan bahwa intervensi berupa pemberian makanan tambahan dan edukasi gizi dapat berkontribusi signifikan dalam mengurangi stunting di Desa Fatuteta. Untuk keberlanjutan program ini, Selvi menyarankan agar masyarakat terus menjaga asupan gizi selama masa kehamilan dan anak berusia di bawah dua tahun.

“Kami juga mendorong para bidan desa dan stakeholder terkait untuk rutin mengadakan promosi kesehatan. Selain itu kegiatan pemberdayaan masyarakat guna meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya gizi seimbang,” tutup Selvi.(MMA)

Views: 2