TRENGGALEK, bioztv.id – Mahasiswi Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD), Jakarta, melaksanakan proyek independen di Desa Wonoanti, Kecamatan Gandusari, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Proyek ini bertujuan untuk membantu petani di desa tersebut mewujudkan ketahanan pangan berbasis kemandirian dan kearifan lokal.
Proyek yang diinisiasi salah satu mahasiswsi ITB AD, Tri Yuniati ini bekerja sama dengan Gapoktan Sedono Makmur, sebuah organisasi gabungan dari 4 Kelompok Tani di Desa Wonoanti. Luas lahan garapan rata-rata di desa ini hanya antara 100-150 ru (1400-2100 m2). Petani di sana menghadapi berbagai kendala, seperti ketergantungan pada pupuk bersubsidi, tingginya biaya pupuk dan pestisida non-subsidi, dan tingkat kesuburan tanah yang menurun.
“Ini adalah proyek independent kami sebagai mahasiswa Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD). Tujuannya Menujudkan ketahanan pangan berbasis kemandirian dan kearifan lokal”, Kata Tri Yuniati.
Dalam pelaksanaannya, proyek ini mengadakan serangkaian kegiatan, mulai dari rapat persiapan internal hingga koordinasi dengan mitra sasaran, yakni Kelompok Tani Sedono Makmur di Desa Wonoanti.
“Rapat rapat koordinasi rutin kami lakukan dengan pihak terkait, baik rapat secara virtual melalui zoom meeting, maupun rapat langsung,” Ungkap Tri.
Setelah melakukan identifikasi masalah bersama mitra sasaran, tim proyek menawarkan serangkaian solusi. Pertama, membantu petani melepaskan ketergantungan terhadap subsidi pupuk. Kedua, melakukan upaya efisiensi dalam usaha pertanian dengan memproduksi sendiri sarana prasarana pertanian. Sedangkan yang ketiga mengembalikan kesuburan tanah dengan mengaplikasikan hasil fermentasi bahan organik.
Sejumlah solusi yang ditawarkan tim proyek ini disampbut baik oleh kelompok Tani Sedono Makmur. Solusi itu diyakini mampu mengatasi problem yang selama ini dialami petani di Desa Wonanti.
“Kami menyambut baik dan siap menerima solusi yang ditawarkan, semoga kegiatan yang diinisassi mahasiswa ITB AD ini memberikan manfaat seluruh petani,” Ungkap Suparno, Ketua Gapoktan Sedono Makmur.
Untuk mewujudkan solusi tersebut, Tri Yuniati juga harus melakukan sejumlah kegiatan riil dilapangan, diantaranya, memberikan pelatihan pembuatan pupuk organik cair, Identifikasi bahan organik yang tersedia di lingkungan dan Proses pengolahan bahan organik menjadi pupuk organik cair.
“Alhamdulilah semua pihak mendukung program kami, baik dari petani, pemerintah desa, hingga pihak pihak terkait yang terlibat dalam program kami,” Kata Tri.
Pupuk organik cair yang dihasilkan dari bahan-bahan lokal seperti limbah sayuran, buah-buahan, dan limbah rumah tangga diproses melalui fermentasi menggunakan teknologi dan pengetahuan lokal. Proses ini tidak hanya mengatasi permasalahan pemenuhan kebutuhan pupuk dan pengendali hama, tetapi juga membantu mengembalikan kesuburan tanah secara alami.
“Pupuk organiik cair (POC) ini terbuat dari bahan bahan alami semua. Bahkan, sampah sampah organik bisa dimanfatkan menjadi pukuk,” Ungkap Tri Yuniati.
Menariknya, pendekatan yang digunakan dalam proyek ini adalah penggalian kembali sistem budidaya pertanian para pendahulu dengan pendekatan kearifan lokal, di mana bahan-bahan organik dan metode fermentasi digunakan untuk memenuhi kebutuhan pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.
Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan petani di Desa Wonoanti dapat mengurangi ketergantungan pada pupuk bersubsidi, menekan biaya operasional pertanian, dan memulihkan kesuburan tanah secara alami. Selain itu, proyek ini juga menjadi contoh bagaimana kolaborasi antara perguruan tinggi dan masyarakat dapat memberikan dampak positif bagi pengembangan pertanian di tingkat lokal.
Dari program ini ada banyak manfaat yang bisa didapat petani, diantaranya, Meningkatkan kemandirian petani dalam memenuhi kebutuhan pupuk dan pestisida. Menurunkan biaya produksi pertanian. Meningkatkan kesuburan tanah. Meningkatkan hasil panen. Hingga meningkatkan kesejahteraan petani.
“Semoga kolaborasi ini memberikan manfaat bagi amsyarakat banyak, khususnya para petani,” Imbuh Tri Yuniati.
Melalui pendekatan kemandirian dan pemanfaatan kearifan lokal, program ini diharapkan dapat menjadi contoh bagi desa-desa lain dalam mewujudkan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Tri Yuniati dan mitra sasarannya menunjukkan bahwa dengan semangat kolaborasi dan inovasi, tantangan dalam pertanian dapat diatasi untuk mencapai kesejahteraan dan ketahanan pangan yang lebih baik di masa depan.
Dengan demikian, keberhasilan proyek independen ini menegaskan komitmen mahasiswa ITB AD dalam mendukung program Merdeka Belajar Kampus Merdeka serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan pembangunan berkelanjutan. ITB AD mendukung penuh program ini dan berkomitmen untuk terus membantu masyarakat dalam mewujudkan ketahanan pangan. (CIA).
Views: 189

















