Pasien Sembuh Jadi Motivasi Layanan, RSUD Trenggalek Tambah 17 Mesin Baru Hemodialisis

oleh
oleh

TRENGGALEK, bioztv.id – RSUD dr. Soedomo Trenggalek menambah 17 mesin hemodialisis atau cuci darah. Rumah sakit juga memindahkan layanan hemodialisis ke gedung baru. Penambahan fasilitas ini merespons meningkatnya kebutuhan layanan cuci darah di Trenggalek.

Kini RSUD dr. Soedomo memiliki 31 mesin hemodialisis. Sebelumnya, rumah sakit hanya mengoperasikan 14 mesin. Pj Sekda Trenggalek, Triadi Atmono, mengatakan pemerintah melihat kebutuhan layanan tersebut terus meningkat.

“Jumlah pasien cuci darah di Kabupaten Trenggalek memang menunjukkan tren peningkatan. Pemerintah Daerah berharap penambahan kapasitas ini dapat memangkas ketergantungan warga yang selama ini harus dirujuk atau berobat ke luar daerah,” ungkap Triadi.

Operasional Gedung Mesin Baru Ditandai Potong Tumpeng

Peresmian operasional gedung baru dan penggunaan mesin hemodialisis ditandai dengan pemotongan tumpeng dan pita. Pj Sekda Trenggalek, Triadi Atmono, melakukan pemotongan tumpeng. Ia kemudian menyerahkan potongan pertama kepada Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek.

Triadi juga menyerahkan potongan tumpeng kedua kepada perwakilan pasien hemodialisis yang berhasil lepas dari cuci darah.

Pasien tersebut sebelumnya rutin menjalani hemodialisis hingga akhirnya tidak lagi bergantung pada mesin. Kesaksiannya menjadi motivasi bagi pasien lain yang masih menjalani perawatan.

Kisah tersebut juga mendorong RSUD dr. Soedomo untuk terus meningkatkan pelayanan. Rumah sakit berkomitmen memberikan layanan terbaik bagi masyarakat.

Daftar Tunggu Hemodialisis Capai 145 Pasien

Sebelum menambah mesin, RSUD dr. Soedomo mampu melayani 76 pasien reguler. Rumah sakit menjalankan layanan tersebut dalam dua shift, mulai pukul 06.00 hingga 19.00 WIB.

Keterbatasan kapasitas membuat sebagian pasien masuk daftar tunggu. Sebagian lainnya mencari layanan hemodialisis di daerah sekitar.

Direktur RSUD dr. Soedomo Trenggalek, dr. Saeroni, menyebut daftar tunggu masih mencapai 145 pasien.

“Berdasarkan catatan waiting list yang ada, saat ini tercatat ada sekitar 145 pasien yang menunggu antrean layanan,” jelas dr. Saeroni.

Setiap mesin dapat melayani dua pasien per hari melalui dua shift. Rumah sakit juga menyiagakan satu mesin khusus untuk kondisi gawat darurat atau cito.

“Untuk kasus gawat darurat atau cito, kami tetap memfasilitasi dan menyiagakan persediaan unit khusus,” tambahnya.

Layanan hemodialisis tersebut juga terintegrasi dengan program BPJS Kesehatan.

Pasien Termuda Berusia 15 Tahun

Pasien hemodialisis di RSUD dr. Soedomo berasal dari berbagai kelompok usia. Gangguan fungsi ginjal tidak hanya dialami pasien lanjut usia.

Dr. Saeroni menyebut rumah sakit pernah menangani pasien hemodialisis berusia 15 tahun.

“Pasien termuda yang pernah kami tangani di sini tercatat berusia 15 tahun,” beber dr. Saeroni.

Menurutnya, kerusakan fungsi ginjal dapat berkaitan dengan sejumlah kondisi. Di antaranya riwayat penyakit komorbid dan konsumsi obat jangka panjang tanpa pengawasan medis.

Pola makan tertentu juga dapat memperberat kerja ginjal. Karena itu, pemerintah menguatkan upaya pencegahan melalui layanan kesehatan primer.

Pemkab Trenggalek menjalankan edukasi melalui 22 puskesmas di 14 kecamatan. Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) menjadi salah satu sarana edukasi tersebut.

“Sosialisasi pencegahan ke sekolah-sekolah juga rutin digelar”, imbuhnya.

Sebelas Pasien Lepas dari Ketergantungan Cuci Darah

Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan, RSUD dr. Soedomo juga mencatat pasien yang berhasil lepas dari hemodialisis.

Sebanyak 11 pasien tercatat tidak lagi bergantung pada mesin cuci darah. Salah satunya Rusnawati, warga Desa Sambirejo, Kecamatan Karangan.

Rusnawati menjalani cuci darah pada 2018 hingga 2019. Ia juga sempat menjalani rujukan ke Kota Malang.

Ia mengaku disiplin mengikuti arahan dokter dan menjaga pola makan menjadi bagian penting dalam proses pemulihannya.

“Lha napa sing mboten pareng, niku nggih kula mboten maem (Apa saja yang tidak diperbolehkan oleh dokter, ya tidak saya makan),” tutur Rusnawati.

Kini Rusnawati dapat beraktivitas normal tanpa menjalani hemodialisis. Namun, dr. Saeroni menegaskan peluang pasien untuk lepas dari cuci darah bergantung pada kondisi ginjalnya.

“Pasien dengan kondisi gagal ginjal akut (acute kidney injury) memiliki peluang pemulihan fungsi ginjal. Namun untuk kasus yang sudah masuk tahap kronis (chronic kidney disease), umumnya pasien akan bergantung pada hemodialisis secara berkala,” pungkasnya.(CIA)

Views: 8